31. sky castle

32K 7.2K 1.1K
                                        

Guys maap ya hampura pisan aku tuh jarang banget balesin komentar di sini soalnya kadang susah dibuka tab komentarnya, bukan shombok.
Jadi ayo kontak aku di twitter saja hehehehe
Twitterku sama kayak username wattpad :)

Jadi ayo kontak aku di twitter saja heheheheTwitterku sama kayak username wattpad :)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*****






Kedua kalinya aku masuk ke tempat bernama Peachdelight bersama Jeno, tempat ini tentu masih sama saja seperti kunjungan pertama. Sekarang aku hanya jadi penonton saat Jeno mengobrol dengan sepupunya yang menurutku agak seram, tapi sulit dijelaskan apa yang membuat dia seram. Cewek seumuran Jeno dengan outfit hitam-hitam yang tampak mahal, plus dua kucing gendut bertampang galak berkeliaran di sekitar kakinya. Jeno memanggilnya 'sepupu L', atau kadang namanyaㅡ Liv. Nama yang kedengaran aneh di negara ini. Orang itu tampak kontras dengan Peachdelight dan semua pegawainya, padahal dia pemilik tempat ini.

"Ada, satu rumah liburan yang menurutku lokasinya paling tinggi. Tapi udah lumayan tua dan pasti kotor," ujar sepupu Jeno. "Emangnya... mau buat apa? Kalau boleh tau?"

Dia menatapku curiga seakan berpikir apa mungkin Jeno akan mengajak aku bermalam bersama di salah satu rumah miliknya. Mukaku langsung memanas ㅡbukan, ini sama sekali bukan untuk tujuan seperti itu. Yang benar saja??

Jeno menghela napas, kuharap sepupunya tidak sadar kalau tidak ada udara yang terhembus.

"Kalau aku bilang nanti aja penjelasannya, boleh? Sekarang mendesak banget soalnya. Lagian... mungkin kamu pikir ini nggak masuk akal," kata Jeno.

"Tch- hidupku juga penuh hal nggak masuk akal," sepupunya Jeno terkekeh. "Tapi nggak apa-apa, yang penting bukan buat sesuatu yang membahayakan atau merugikan orang."

"Nggak kok. Cuma butuh rumah yang bisa menampung cahaya matahari selama beberapa hari."

Dahi cewek itu berkerut, seperti sedang menebak-nebak apa sebenarnya yang akan dilakukan Jeno. Dia kemudian mengangguk dan menyambar kunci mobilnya.

"Oke, kuncinya ada di rumah. Kalian mau ikut ke rumahku atau?" ujarnya.

"Ada yang harus diambil dulu di rumah," ucapku pada Jeno.

Dia langsung mengerti kalau yang kumaksud adalah peralatan untuk ritual. "Kita ketemu di persimpangan jalan X lima belas menit lagi," kata Jeno pada sepupunya.

Ditanggapi dengan anggukan setuju, kami bertiga keluar dari Peachdelight. Setelah mengucapkan sampai bertemu nanti, aku menyetop taksi untuk pulang. Dengan keadaan emosinya tadi, aku tidak membiarkan Jeno menyetir dulu. Sekarang dia sudah tampak jauh lebih tenang sih.

Walaupun aku tahu, di pikirannya pasti masih Jinsoo Jinsoo Jinsoo.


"Emang alat bikinanmu itu masih berfungsi?" tanya Jeno begitu kami sampai di rumah.

Werevamp ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang