40. bittersweet

30.6K 6.8K 2.7K
                                        

Kuakui rasanya jadi aneh sejak kejadian itu. Bagaimana pun aku dan Jeno masih harus terus bertemu. Hanya berdua. Di rumah ini. Kami makan malam bersama, dalam diam. Dan aku mulai menyalahkan diri sendiri lagi.

Apa aku terlalu kasar pada Jeno?

"Kemarin waktu aku kirim makanan, dimakan semua kan?" tanya Jeno, memecah keheningan.

Aku mengangguk. "Iya. Makasih ya. Tapi lain kali nggak usah, aku bisa bikin makanan sendiri."

"Maaf. Soalnya aku pikir kamu masih sakit," sahut Jeno hati-hati.

Canggung lagi. Hening. Hanya ada denting sendok dan sumpit beradu dengan mangkuk. Sekilas aku menatap Jeno. Dia tampak berbeda dengan kacamata tebal. Lebih seksiㅡ oke, hentikan.

"Aku juga minta maaf," ujarku.

"Hah? Buat apa?" Jeno bertanya balik, tampak agak takut aku meledak-ledak lagi.

"Yahㅡ karena udah marah-marah dan bersikap super menyebalkan. Maksudnya, aku berhak marah, kamu brengsek. Tapi kayaknya aku agak keterlaluan. Jadi, maaf," sahutku panjang lebar.

Jeno menggeleng. "Nggak usah minta maaf. Aku sama sekali nggak tersinggung."

"Oke..." aku menghela napas. "Jadi, sekarang anggap aja nggak pernah terjadi apa-apa. Soal... pernyataanku yang waktu itu juga."

Tangan Jeno berhenti menyumpit. Ia terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku masih menatapnya. Merasa bodoh karena menyuruh dia menganggap perasaanku padanya tidak pernah ada.

"Ron, a-aku..." gagapnya.

"Apa?"

Jeno mengernyit frustasi. "Aku nggak tau harus gimana. Pasti permintaan maaf juga nggak akan pernah cukup, kan? Tapi apa kamu nyaman sama keadaan kita sekarang? Canggung dan kaku."

"Maaf kalau perasaanku merusak semuanya," aku tersenyum getir.

"Nggak, bukan gitu!" Jeno buru-buru menyangkal. "A-aku cuma nggak bisa punya perasaan yang sama, makanya aku bingung. Selama aku masih jadi vampir, aku ini bahaya buat orang yang aku cintai. Siapa pun itu."

Kami bertukar tatap lagi berseberangan di meja makan. Jemari Jeno mengepal, ia tampak menahan entah apa yang sedang berkecamuk dalam hatinya.

"Jadi... seandainya kamu bukan vampir..." ucapku, sengaja menggantungkan kalimat.

"Jangan bahas itu sekarang, tolong," Jeno memohon. "Boleh aku jujur? Aku mulai bingung, Lee Sharon.",

"Bingung kenapa lagi?"

Bibir Jeno bergetar. Beberapa kali celahnya melebar seakan siap mengatakan sesuatu, tapi lalu dia telan lagi. Mata tajamnya menatapku gelisah dari balik kacamata.

"Bau darah kamu..." ujarnya lirih. "Akhir-akhir ini makin manis."

Jantungku seperti hampir melompat dari tempatnya. Wajahku pasti memerah karena terasa panas. Kugenggam erat-erat garpu di tanganku. Jeno juga sama salah tingkahnya, ia menunduk di atas nasi yang belum dihabiskan.

"J-jadi maksudnya...?" gagapku.

Lagi-lagi Jeno menggeleng frustasi. "Jangan, tolong jangan dibahas dulu. Aku nggak mau jadi ancaman buat siapa pun lagi. Tolong..."

"Jen... tapi Jinsoo?" aku bergumam.

"Aku nggak tau apa yang terjadi. Tapi mungkin wangi menyengat waktu di rumah sakit bukan cuma berasal dari Jinsoo, mungkin itu juga karena kamu. Aku nggak suka tiap kamu tiba-tiba berkeliaran sama Renjun, aku bingung," Jeno memegangi kepalanya.

Werevamp ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang