33. fate?

31.7K 7K 1.2K
                                        


Baru dua kali rajin, Chenle sudah bolos lagi.

Aku kadang kasihan sih, mungkin jadwalnya terlalu padat jadi dia lelah. Yang penting sekarang dia tidak keberatan kalau di pertemuan selanjutnya pelajaran dipadatkan untuknya. Ya sudah, kubiarkan saja. Masih ada Renjun yang walaupun malas-malasan tetap datang. Aku sih tidak apa-apa cuma berdua, tapi orang lain yang lihat mungkin curiga kami sedang apa ㅡbagaimanapun aku dan Renjun seumuran secara manusiawi.

"Aku serius loh kemarin waktu bilang nggak ada salahnya kamu ikut casting. Jangan kepedean yaㅡ tapi kamu emang cantik," kata Renjun. "Kalau jadi artis atau model kan bayarannya lumayan, kamu bisa bayar detektif lagi. Yang profesional."

"Sepupunya Jeno juga bilang gitu, dia kira aku aktris figuran," aku tertawa.

Dahi Renjun berkerut. "Sepupunya? Yang mana?"

"Yang... itu loh, cewek, kaya, dandanannya agak..." aku bingung bagaimana mendeskripsikan orang itu.

"Vampir? Oh, yang itu. Aku tau," ujar Renjun.

"Kamu juga kenal orang itu?"

"Pernah ketemu beberapa kali. Tapi gimana kalian bisa ketemu?"

Bodoh.

Paati mukaku tampak kaku sekarang. Aku lupa harusnya merahasiakan soal ritual pada siapa pun. Walaupun Renjun sudah tahu kalau Jeno itu vampir dan aku werevamp, lebih baik kalau dia tidak tahu lebih banyak. Aku tidak bisa membayangkan kalau dia terlibat terlalu jauh. Jangan sampai dia terancam bahaya. Soalnya aku mungkin tidak akan bisa menolong.

"Ahㅡ itu, sepupunya Jeno kan punya restoran Italia? Kami ke sana beberapa hari yang lalu. Sebelum Jeno cuti," jawabku tanpa memberi detail. "Udah selesai belum? Bisa kan kalimat yang itu?"

Renjun mengalihkan perhatiannya pada kertas yang ada di hadapannya. "Eh iya, ini ada yang susah. Kalimat yang ini konteksnya apa sih?'

Fiuhㅡ lega.

Untung saja aku berhasil mengalihkan perhatian Renjun. Dia fokus lagi pada script kegiatannya yang mendatang. Kuakui kali ini banyak kata-kata yang sulit, tapi Renjun cepat belajar. Mukanya kalau sedang serius menggemaskan juga.

"Jadi yang ini maksudnya kalau acaranya udah selesai kita kasih kata-kata mutiara gitu? Hehㅡ ngapain senyum-senyum??" tanya Renjun.

Aku langsung mengerjap. "Ah sorryㅡ aku tadi lagi berpikir kamu bagusan diem daripada kayak barongsai. Apa tadi?"

Renjun berdecak sambil menggeser script ke dekatku. "Yang ini, penutupan," ujarnya.

"Oh... nggak juga sih. Ini kayak pandangan kamu terhadap hal yang lagi dibahas aja. Tapi maksudnya pelajaran baik yang bisa diambil," jawabku.

"Oke. Selesai dong?" kata Renjun. "Makan dimsum yuk?"

"Hah? Berdua? Emang habis ini kamu nggak ngapa-ngapain?" tanyaku.

"Nggak. Cuma sebentar, tapi lumayan bisa buat jajan. Kenapa? Kamu udah ada janji lain?" Renjun bicara sambil mengemasi buku-bukunya.

"Nggak sih," aku mengangkat bahu.

Boleh juga, daripada bosan lebih baik aku menerima ajakannya. Kami keluar dari tempat belajar sambil tertawa-tawa membayangkan Chenle akan protes lagi karena dia tidak diajak. Salahnya sendiri memilih malas-malasan di rumah? Tadinya dia mengajak kami belajar di rumahnya tapi aku dan Renjun sama-sama malas. Kenapa sih rumah orang kaya selalu jauh dari pusat kota?

"Gimana kalau nanti kita selfie di tempat dimsum? Terus kirim ke Chenle?" ujar Renjun sambil kami bersebelahan berjalan menelusuri pedestrian.

"Ya ampun, niat banget?" aku tertawa. "So childish!"

Werevamp ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang