"Ron! Ayo berpikir pakai akal sehat! Please, waktu kita nggak banyak!"
Huang Renjun terus mendesakku. Kutatap bergantian wajah Jeno yang setengah hidup, Renjun yang berkeringat dingin, kemudian Jinsoo yang baru saja melepas semua penderitaannya di dunia. Bukankah ini keterlaluan? Paru-paruku masih begitu sesak untuk bernafas, pandanganku juga mulai kabur saking pedih dan bengkaknya kedua mata.
Dan Renjun memaksaku memutuskan sesuatu yang sangat tidak etis sekarang juga?
"Lee Sharon," Renjun memohon dengan tatapan putus asa. "Tolong... aku mohon. Kamu boleh minta apa pun dari aku sebagai gantinya, asal Jeno bisa selamat."
Aku bingung luar biasa. Mata terpejam, bibir gemetaran, isakan parau keluar lagi. Sambil menggenggam erat lengan Jinsoo, aku akhirnya menjawab Renjun.
"Terserah! Sekarang terserah kamu, tapi jangan suruh aku terlibat," ujarku tidak jelas karena serak. "Kamu yang ambil darah Jinsoo, karena aku nggak sanggup."
Renjun menghela napas lega. Dia menghampiriku, jelas sekali tampak dilema dan merasa bersalah. Pundakku dia pegang erat.
"Oke. Jangan liat ke sini, aku mau ambil darah Jinsoo... demi Jeno," ucapnya gemetaran.
Tidak ada pilihan selain menuruti Renjun. Kupeluk kepala Jinsoo dari samping tempat tidur untuk kutangisi. Maafkan aku, Jinsoo. Padahal aku ingin menemukan dia supaya bisa kulindungi dari vampir yang ingin jadi werevamp. Tapi tidak bisa kutepati, tetes darah terakhirnya tetap harus diberikan pada vampirㅡ walaupun vampir itu Lee Jeno.
"Argh!" gerutu Renjun, entah sedang apa.
Aku meringis ngilu mendengar suara jarum infus dicabut dan ditancapkan lagi berkali-kali diikuti suara kecipak benda cair. Kuharap Renjun tidak terlalu merusak kulit tangan adikku. Sudah cukup semua ini, aku tidak sanggup lagi.
"Jinsoo!"
Terdengar teriakan pak Nam, disusul derap langkah beberapa orang masuk ke dalam ruangan. Aku mengangkat wajah, melepaskan Jinsoo dari pelukanku. Pak Nam berteriak histeris sambil menangis, membuat air mataku bercucuran lagi. Tapi satu hal yang kusadari, Renjun dan Jeno tidak ada di ruangan ini dan selang infus terpasang di tangan Jinsoo seperti tidak terjadi apa-apa.
Dokter membacakan waktu kematian Jinsoo. Dengan hati yang kurasa sudah tidak bisa lebih hancur dari ini, aku melangkah gontai keluar dari ruangan Jinsoo. Aku harus mencari Renjun dan Jeno, harus memastikan darah adikku tidak sia-sia.
"Renjun... Huang Renjun..." panggilku seperti orang linglung.
Aku terus berjalan sampai ujung koridor, barulah saat itu tiba-tiba ada yang menyambar tanganku dari samping. Renjun.
"Ssst, ini aku," bisik Renjun, padahal tidak mungkin aku masih punya tenaga untuk teriak.
"Jeno mana?" tanyaku, to the point.
Alih-alih menjawab secara verbal, Renjun menarikku masuk ke pintu yang celahnya terbuka sedikit. Ternyata pintu darurat. Begitu masuk, kulihat Jeno masih di atas kursi roda. Ada sedikit bercak darah mengering di bibirnya yang keunguan.
"Kenapa? Gimana?" aku bertanya, kalut.
Renjun tampak sama kalutnya. "Aku udah kasih minum darah Jinsoo ke kerongkongan Jeno, tapi belum ada reaksi apa-apa."
Kedua kakiku yang sudah lemas, terasa makin lemas. Aku jatuh terduduk di hadapan Jeno. Kutatap dia dengan padangan kosong dan putus asa.
"Lee Jeno, kamu harus bangun sekarang juga," gumamku. "Jinsoo itu ternyata adikku, kamu harus tau."
KAMU SEDANG MEMBACA
Werevamp ✓
Fiksi PenggemarBukan cuma manusia yang bisa jadi vampire, vampire juga bisa jadi manusia lagi loh! Tidak percaya? Ikuti aku dan Lee Jeno, kami werevamp ㅡum, maksudnya werevamp dan calon werevamp. ©smallnoona 2018
