22. clueless

31.8K 8K 1.6K
                                        


Renjun pasti bingung karena dua hari berturut-turut ditinggalkan tanpa alasan. Dulu di rumah Chenle dan kemarin olehku di kedai kue. Sebenarnya aku sangat tidak enak hati saat meninggalkan Renjun di sana sendirian, tapi kalau dia tanya alasannya juga aku tidak bisa menjawab.

Tidak ada yang tahu tentang adikku selain aku dan Yubi, jadi percuma menceritakan alasanku tiba-tiba shock pada Renjun. Lagi pula, aku seperti kehilangan tenaga setelah melihat berita itu jadi untuk bicara saja rasanya sulit. Malamnya Renjun mengirimiku pesan seperti yang ia lakukan pada Chenle;

Ron, kamu ok?

Bilang ya kalau butuh bantuan.









Aku tidak membalas pesannya. Yang kulakukan sejak pulang dari kedai kue hanya meringkuk di sofa depan TV. Aku tidak menangis, tidak histeris juga, saking bingungnya harus bagaimana. Semua uang dan tenagaku sudah lenyap dan kemungkinan untuk menemukan adikku kandas seketika.

Sekarang pilihanku hanya ada dua; mati ㅡaku sudah cukup lama hidup di dunia membosankan ini, atau melupakan adikku dan melanjutkan hidup sebagai manusia. Menua seperti manusia normal, hidup seperti manusia normal, tapi memang bisa? Setelah semua ini?

Entahlah.


Sudah hampir senja dan aku belum beranjak juga. Sepertinya aku ketiduran sejak tadi siang saking lelahnya. Benar-benar mati rasa. Aku tidak ingin melakukan apa pun. Kalau begini mungkin pada akhirnya aku akan mati kelaparan? Masa bodoh.
















"Ron."

"Ron!"

"Lee Sharon!"



Mendengar namaku dipanggil berkali-kali, aku membuka celah mata. Bahkan aku tidak yakin apakah tadi sempat pingsan atau ketiduran lagi. Perlahan kukumpulkan kesadaranku untuk mengenali siapa yang sedang mengguncang pundakku dengan khawatir.

"Lee Jeno...?" gumamku saat melihat wajahnya.

"Iya, ini aku," jawabnya, masih cemas menatapku.

Suaranya agak berbeda, wajah Jeno juga tertutup perban dari leher sampai atas cuping hidung. Tapi itu memang dia, aku mengenali matanya. Astagaㅡ aku sampai lupa pada Jeno. Apa dia sudah berhasil?

"Ron, kamu kenapa?" tanya Jeno, menangkup kepalaku yang tanpa tenaga.

Aku diam saja. Selain tidak punya tenaga untuk menjawab, aku juga bingung harus menjawab apa. Jeno tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Terlalu panjang untuk menceritakan dari awal.

"Kamu sakit? Udah makan?" tanya Jeno lagi. "Jawab, jangan bikin aku takut!"

Tidak bisa, Lee Jeno. Tetap kebisuan yang menjawabnya. Dia menyangga punggungku dengan mudah, aku langsung pusing menyesuaikan pergerakan tiba-tiba ini.

"Kayaknya kamu sakit. Kita ke rumah sakit," kata Jeno akhirnya.

Oh, tidak. Aku tidak sakit dan tidak ingin keluar dari rumah ini.

"Jangan," tolakku sekuat tenaga. "Aku benci rumah sakit."

"Tapi kamu keliatan nggak sehat!"

Aku membalas tatapan Jeno dengan muram. "Air. Aku cuma butuh air," ujarku.

"Air. Oke. Tunggu sebentar."

Setelah menyandarkanku lagi di punggung kursi, Jeno bergegas pergi ke dapur ㅡkurasa. Sementara itu aku berusaha berpikir dengan akal sehat. Lee Jeno masih butuh aku, jadi mungkin harusnya aku jangan mati dulu.

Werevamp ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang