Saat mendengar kabar Jeno muntah darah dari mulut si cowok detergen, jujur aku lebih panik karena takut Jeno dibawa ke rumah sakit manusia alih-alih karena dia muntah darah.
Jeno belum punya darah manusia di tubuhnya, secara teknis. Jadi kalau ada yang bilang dia muntah darah, aku sudah menduga kalau dia muntah karena tidak bisa menahan rasa jijiknya pada darah. Setelah ritual sebelumnya, indera pengecapan dan pencernaan manusia Jeno sudah kembali, tapi metabolismenya masih butuh darah vampir. Benar, Jeno masih harus minum darah.
Merasakan darah segar dengan pengecapan manusia adalah salah satu hal paling buruk dalam ingatanku. Rasanya.... memang menjijikkan, sangat. Baunya yang anyir apalagi. Makanya, tidak heran kalau Jeno sampai muntah.
Dan sekarang, entah aku harus bersyukur atau ngeri karena Huang Renjun ternyata tahu kalau Jeno adalah vampir.
"Ke sini!" desis Renjun sambil menarik pergelangan tanganku ke area parkir.
"Renjun, kamu belum bilang dari mana kamu bisa tau? Dan sejak kapan??" tanyaku.
"Nanti dulu, ada yang lebih urgent sekarang."
Kami setengah berlari mengendap-endap di basement. Aku tidak tahu tujuan Renjun, tapi tidak punya pilihan selain mengikutinya. Langkah kakiku ikut berhenti saat Renjun berhenti di samping sebuah mobil van hitam.
"Heh, mau apa??" tukasku melihat Renjun berjongkok di samping ban mobil lalu mengotak-atiknya.
"Mencegah mereka ke rumah sakit," jawab anak itu dengan santainya.
Aku hanya bisa melongo karena aksinya. Setidaknya Renjun mengempeskan ban tiga mobil van yang parkir berdampingan. Belum sempat aku bertanya dari mana dia belajar jadi anak nakal begini, Renjun sudah menarik tanganku lagi. Kami berlari merepet dinding lalu masuk ke semacam pintu darurat.
"Kita mau ke mana lagi sih?" tanyaku. "Mana mungkin Jeno ada di tangga darurat?"
Renjun menghentikan langkahnya, otomatis aku juga berhenti. Kami saling tatap dalam keremangan lorong tangga darurat. Nafas Renjun terengah-engah, dahinya berkeringat.
"Sssst," dia meletakkan jari telunjuk di atas bibirku.
Setelah aku bungkam. Renjun memberi isyarat padaku untuk mengikuti dia keluar dari pintu darurat. Kami celingukan mengintip koridor, lalu tanpa kuduga sama sekali tiba-tiba Renjun membungkus telunjuknya dengan jaket yang ia pakai lalu menekan break glass pada alarm kebakaran di dekat kami.
Dia gila atau apa?
Bisingnya bunyi alarm langsung memekakkan telinga kami. Aku meringis sambil menutup telinga dengan dua tangan.
"Renjun!" pekikku saking bingungnya.
"Ssst, ayo ngumpet lagi!" anak itu mendorong punggungku supaya masuk lagi lewat pintu darurat.
"Aku nggak ngerti rencana kamu apa, tapi ini udah agak kelewatan. Kalau ketauan kamu bisaㅡ"
"Diem dulu, pake ini," Renjun memaksaku memakai jaketnya. "Kamu pikir aku bodoh? Tadi aku udah menghindari titik buta cctv dan sengaja melapisi jari pake jaket biar sidik jariku nggak ketinggalan."
"Yakin? Gimana kalauㅡ"
"Kita cari Jeno, terus bawa pergi sebelum orang-orang sadar kalau alarm ini palsu," potong Renjun sambil menyelubungkan hoodie jaket ke kepalaku.
Dengan atau tanpa persetujuanku pun Renjun tetap melangkahkan kaki untuk mengendap-endap, lagi, di sepanjang tangga darurat. Keributan mulai terdengar di sekitar kami, seruan-seruan panik dan langkah kaki tergesa. Saat kami masuk lewat pintu normal, kerumunan orang yang panik dan suara bising alarm benar-benar membantu menyamarkan gerak-gerikku dan Renjun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Werevamp ✓
FanfictionBukan cuma manusia yang bisa jadi vampire, vampire juga bisa jadi manusia lagi loh! Tidak percaya? Ikuti aku dan Lee Jeno, kami werevamp ㅡum, maksudnya werevamp dan calon werevamp. ©smallnoona 2018
