21. Kesal

4.4K 181 0
                                        

Dengan raut gembira dan wajah yang berseri-seri, Arsya berjalan menuju kelas Reyhan, karna hari ini Reyhan tidak ada jadwal latihan futsal, Arsya berniat ingin berjalan-jalan dengan Reyhan. Mungkin selama pacaran, bisa dihitung jari berapa kali mereka keluar untuk berjalan-jalan.

"Sel--" ucapan Arsya terhenti, kala melihat kelas Reyhan kosong melompong tak berpenghuni.

"Reyhan kemana?" Arsya mengumam sambil menghela nafas lelah. Ini salahnya, seharusnya ia mengabari Reyhan terlebih dahulu jika ia ingin pergi berjalan-jalan.

"Woi, ngapain bengong di kelas orang? Ntar kesambet lho." peringat Farhan yang entah datang dari mana. Heran saja, tiba-tiba sudah berada di sebelah Arsya sambil menyentuh-nyentuh rambut kuncir kuda milik Arsya, membuat Arsya mendesis kesal.

"Jangan pegang-pengang!" sewot Arsya sambil merapihkan kuncirannya kembali.

"Galak banget sih."

"Biarin, Arsya nggak suka sama orang kayak Farhan." sahut Arsya.

"Kenapa? Apakah gue terlalu tampan yah." Farhan menyujar rambutnya, bergaya sok kegantengan yang malah membuat Arsya mual dan ingin muntah.

"Jelek. Jadi orang jangan over pede, entar malu sendiri."

"Gaya lo! Gini-gini, gue pernah jadi model iklan kali." Farhan mulai membanggakan diri, kali ini dengan gaya tengil-tengil pengen nampol.

"Model obat nyamuk. Farhan jadi kingkongnya." Arsya terbahak dengan kata-katanya sendiri.

"Ah iya, Farhan mau apa ke sini?" tanya Arsya mengalihkan pembicaraan, saat tawanya mulai sedikit mereda.

"Seharusnya gue yang nanya ke lo, cebol, kan ini kelas gue." protes Farhan.

Arsya lagi-lagi mendesis kesal berkat perkataan Farhan. "Arsya nggak cebol!" teriak Arsya sambil mengepalkan tangan.

"Ih, marah. Mau buktiin kalo lo beneran nggak cebol? Ayo, coba tangkap ini." Farhan merebut ponsel di genggaman tangan Arsya, lalu mulai meninggikannya, agar Arsya tidak bisa menjangkaunya.

Arsya melotot tajam ke arah Farhan. "Farhan! Balikin ponsel Arsya!" teriak Arsya dengan suara melengking, Arsya berusaha untuk merebut kembali ponselnya, namun tinggi badannya yang hanya sebatas pundak Farhan, tak bisa menjangkau tangan Farhan yang panjang, untuk mengambil ponsel miliknya. Arsya memang cebol, tapi dia selalu tidak mengakuinya.

"Ambil sendiri dong, manja amat." ucap Farhan sambil terus meninggikan ponsel milik Arsya.

Arsya terus berusaha merebut ponselnya sambil berjinjit-jinjit, sampai tali sepatunya terlepas dan tanpa sengaja menginjaknya, hingga membuatnya hampir terjatuh ke lantai, jika Farhan tidak menarik Arsya ke dalam pelukannya.

"Sya!" panggil Reyhan, membuat Arsya langsung melepaskan tangan Farhan yang melingkar di pinggangnya, lalu memandang Reyhan dengan pandangan terkejut.

"Ehm, Reyhan---"

"Tadi cewek lo mau jatuh, makanya gue peluk, biar nggak jatuh nyentuh lantai koridor." potong Farhan dengan penjelasan. Reyhan nampak diam, terkesan tak peduli dengan ucapan Farhan yang baru saja dikeluarkan.

"Reyhan, hari ini kita pulang bareng kan? Rencananya, Arsya mau jal--"

"Hari ini gue pulang bareng Gina." cetus Reyhan.

"Yah, kok gitu?" Arsya memberengut, tidak terima dengan keputusan yang Reyhan buat tadi. Kenapa juga harus dengan Gina.

"Gina sakit. Jadi, gue harus nganterin dia, karna cuma gue yang dia kenal dekat."

Reyhan dan Arsya [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang