"Reyhan! Reyhan mau kemana?!"
"Reyhan! Tungguin Arsya!"
"Reyhan, mah ...."
"Reyhan... Aduhh--"
Arsya terjatuh di atas paping di lapangan sekolahnya, hingga menyebabkan lututnya berdarah, karna mendapatkan goresan yang membuatnya merasa perih dan sakit.
"Aduh, sakit." Arsya memegangi lututnya dan meniup-niupnya, berharap rasa sakitnya segera hilang terhapus oleh embusan angin yang berasal dari mulutnya itu.
"Sini Sya, biar gue bantu." Arsya mendongak, menatap pemilik suara yang baru saja menawarkan bantuan untuknya. Suara itu milik Farhan yang sangat ia kenali, rasanya sudah lama Arsya tidak bertemu dengan Farhan, mungkin karna Farhan sibuk dengan rutinitasnya menjadi salah satu anggota paskibra. Sebetulnya, Farhan tidak ingin menjadi anggota paskib karna dia ingin membentuk band dengan teman-temannya, tapi sayangnya, orang tuanya melarang. Dengan alasan, salah satu anggota keluarga harus ada yang menjadi salah satu anggota paskibra dan Farhan, lah yang harus menelan pil pahit itu.
"Farhan," ucap Arsya dengan raut terkejut.
"Iya, ini gue Farhan. Mantan lo yang paling tampan? Lo ngapain sih tadi pake lari-larian. Jatuh kan, akhirnya. Ayo, biar gue papah ke UKS." Farhan membantu Arsya untuk berdiri, dan memapah Arsya menuju ke UKS untuk mengobati luka Arsya.
"Tadi Arsya ngejar Reyhan, terus Arsya jadi jatuh dan luka-luka begini," tutur Arsya dengan bibir mengerucut lucu, sambil terus berjalan dengan luka yang masih terasa sangat perih.
"Ngomongnya nggak usah dilebih-lebihin kenapa, lo ngomong luka-luka, emangnya luka lo sebanyak apa? Luka cuma satu juga, udah gitu, kecil lagi. Kebiasaan dari dulu lo itu emang nggak bisa ilang. Selalu bertingkah lebay." Farhan menggelengkan kepalanya heran sambil menatap Arsya sesekali, yang kini sedang mengembungkan pipinya hingga terlihat chubby.
"Biarin, gini-gini juga Arsya pernah jadi tambatan hatinya Farhan," ceplos Arsya tak tau malu.
"Mungkin aja dulu gue hilap. Dan Reyhan mungkin lagi hilap juga, makanya milih lo jadi pacarnya. Lo kan kayak kambing, bauk," ledek Farhan. Membuat Arsya langsung mengeplak lengan Farhan keras-keras tanpa babibu.
"Nyebelin banget sih! Arsya nggak bauk. Orang Arsya wangi, minyak wanginya aja beli di Perancis," sombong Arsya.
"Iya, dipangkalannya menara eiffel kan?" lagi-lagi, Farhan meledek, dia sangat suka bila membuat Arsya marah dan kesal. Karna di situlah, Farhan mendapatkan kebahagiaan.
"Farhan sekarang tukang bacot, Arsya nggak suka."
"Apa? Tukang bacok? Maap-maap aja nih, gue bukan begal yang suka ngebacok, kalo ngebegal hatinya situ mah, boleh-boleh aja."
"Nggak lucu." Arsya mulai merajuk, sedangkan Farhan hanya terkekeh seadanya. Lalu, mereka masuk ke dalam UKS sesaat setelah mereka sampai di sana.
Farhan secara perlahan, mendudukan Arsya di sebuah kursi yang berada di sana, mengambil kotak p3k dan mulai membersihkan luka Arsya dengan alkohol.
"Farhan, sakit tauk, Farhan ngobatinnya pelan-pelan aja kenapa, yang lembut gitu. Jangan pas di depan pacar aja lembutnya, di depan Arsya juga dong, jangan cuma ngeledekin Arsya doang bisanya. Kalo bisa luka Arsya nggak usah dipakein obat merah, perih banget nantinya," ucap Arsya.
Farhan menoyor kepala Arsya pelan. "Lo kapan pinternya sih, gue lihat-lihat dari jaman TK nggak pernah berubah. Gini yah, Nyonya Atmawijaya, kalo ngobatin dengan cara lembut, lebih baik lo minta dielus-elus aja sama Emak lo. Terus mana ada luka nggak dipakein obat merah, yang ada infeksi baru tau rasa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Reyhan dan Arsya [Completed]
Teen Fiction[Sequel Chatting With Reyhan] 🌞 Disarankan untuk membaca cerita Chatting With Reyhan terlebih dahulu🌞 Reyhan tidak suka dengan orang yang berbicara seperti burung beo, alias berisik. Reyhan lebih suka ketenangan, rumput hijau dengan langit biru se...
![Reyhan dan Arsya [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/173901486-64-k363981.jpg)