41

988 248 5
                                    

Yeji memasuki kamarnya saat Seungyoun sudah lebih dulu berada disana. Lelaki itu sedang melakukan rutinitasnya sebelum tidur. Bermain ponsel lalu akan mematikannya setelah Yeji ikut bergabung dibawah selimut.

Istrinya selalu telat masuk kekamar karena Yeji akan lebih dulu mengecek kedua anaknya sebelum tidur.

Kali ini mereka mengenakan piama dengan motif sama. Dimata Seungyoun, Yeji sangat cantik dalam balutan piama biru donker.

Seungyoun mematikan ponselnya setelah snag istri masuk dalam selimut.

Malam ini Yeji bergelung ditubuhnya. Mencari kehangatan dari tubuh sang suami. Dengan cepat, Seungyoun memeluknya dan mengusap punggung perempuan yang kurang lebih 20tahun telah dipujanya. Memberi kecupan kecupan kecil pada puncak kepala Yeji.

"Katakan semuanya dengan jujur sebelum aku benar benar marah padamu"

Kecupan dipuncak kepalanya berhenti sesaat setelah dia mengeluarkan kalimatnya.

"Kak, katakan semuanya. Dengan siapa kau di Jepang? kenapa kau belum memindahkan sekretaris barumu? kenapa kau berbohong padaku?"

Yeji tau jika dia berbohong?

Ya, harusnya memang dia tak berbohong pada Yeji mengingat koneksi Yeji yang tak main main. Mungkin Sowon akan membedahnya jika tau dia berbohong pada Yeji.

"Maafkan aku"

Seungyoun merengkuh tubuh itu lebih kuat. Menenggelamkan wajahnya diceruk leher Yeji.
Mengendus aroma istrinya dalam dalam. Aroma yang membuatnya tenang, aroma yang sangat dia sukai.

"Aku tak akan marah jika kau belum memindahkannya. Tapi poin utamanya, kau membohongiku. Aku istrimu Cho Seungyoun, aku bukan orang lain hingga kau berbohong padaku"

Seungyoun merasa bersalah. Sungguh, dia tak dapat berbicara apapun. Alasannya berbohong karena memang dia takut Yeji marah dan menuduhnya.

Dia takut Yeji marah karena permintaan perempuan itu tidak dikabulkan. Dia hanya takut membuat istrinya kecewa padanya.

Yeji mendongak menatap Seungyoun. Mengusap rahang suaminya dengan pelan.

"Apa ramennya lezat? apa tangannya nyaman digenggam? kemarin aku melihat tangannya diperban, aku sedikit bangga karena mengajarimu bagaimana melakukan prosedur P3K"

Yeji mengecup pelan bibir Seungyoun yang masih terkatup sempurna. Kecupannya perlahan menjadi sebuah ciuman halus. Yeji tak berusaha mendominasi karena perempuan itu tak suka mendominasi.

Tangannya terkalung sempurna dileher sang suami.

Dia hanya mengikuti alur Seungyoun, menerima semuanya dengan terbuka. Dia tak pernah melanggar perkataan Seungyoun, dia selalu mencoba menjadi istri penurut.

Yeji menjauhkan bibirnya. Dia menenggelamkan wajahnya diperpotongan leher Seungyoun tanpa melepaskan lengannya.

Yeji kembali menatap manik hangat Seungyoun dengan serius.

"Aku tau dia tipe gadis lembut yang penurut. Tak suka menuntut hal yang macam macam. Tutur katanya halus, dia juga dewasa. Dia hebat, dia bisa menjadi ibu dan juga ayah selama 10tahun belakangan bagi adiknya yang kini telah tiada. Tapi aku tetap tak akan melepaskanmu untuknya. Kau milikku kak, kau milikku"

"Sayang, kami hanya boss dan sekretaris. Tak akan lebih dari itu"

"Jangan pergi, dulu aku yang pergi membawa Dohyon. Kau tidak boleh pergi setelah menemukanku...

...terbukalah padaku apapun keadannya, jangan pernah membohongiku lagi kak. Aku istrimu"

Malam mereka terlewati begitu saja. Dengan Yeji yang ada dipelukan Seungyoun semalaman.

Mereka berdua hanya kurang komunikasi.



********



"Junho, aku mengenalnya sebelum dia menjadi anak Tuan dan Nyonya Cho"

Gadis dengan rambut yang lebih panjang mengalihkam perhatiannya dari laptop dan menatap lawan bicaranya.

"Dulu rumahnya tepat disebelah rumahku, ya sebelum aku pindah. Keluarganya sangat kacau, ibunya hanya pembantu rumah tangga dan ayahnya hanya pengangguran yang suka menyiksa. Hingga ayahnya membunuh ibunya"

Dia bisa mendengar helaan napas berat dari gadis dengan tahi lalat dibawah bibirnya. Mata gadis itu menerawang jauh, mengingat ingat rentetan kejadian mengenai mantan tetangganya.

"Kami tak terlalu mengenal karena Junho jarang keluar rumah. Pernah suatu hari aku membantunya membuka pagar rumahnya yang tergembok dari luar dengan memukul gembok itu menggunakan batu. Agar dia keluar tentu saja. Dan aku tak pernah melihatnya lagi setelahnya. Saat itu kami berusia 15 tahun. Dia keluar dengan mengenakan kaos warna hitam. Dia memberikan senyuman kecil setelah aku membukanan pagar untuknya"

Ternyata gadis ini tau semua hal tentang orang yang disukanya.

"Lalu kita bertemu lagi setelah masuk SMA. Mungkin dia melupakanku, tapi itu hanya berselang 1 bulan setelah aku membukakan pagar untuknya....

...Dan aku benar benar berani menyapanya setelah 3 bulan aku melihatnya"

Gadis yang bertubuh kecil itu melihat kearahnya dengan tatapan mata berbinar.

"Kau tau? aku sangat bersyukur dia bisa hidup normal saat itu. Diadopsi oleh keluarga bahagia dan tak ada media yang tau apa masalalu Junho. Aku sangat bahagia melihatnya"

Dia benar benar melihat mata bulat itu berbinar. Bibir gadis itu juga menyunggingkan senyum manis.

"Tapi kami tak pernah membahas kejadian pembukaan pagar rumah dan rentetan kejadian dibelakangnya. Kami seperti orang yang baru mengenal, itulah yang membuatku tak yakin dia ingat padaku"

Sekali lagi, gadis dengan rambut pendek itu menghela napasnya.

"Sekarang ini, aku hanya ingin menjadi teman yang baik untuk Junho. Aku akan mendukung apapun keputusannya"

Senyum manis kembali muncul dibibir gadis itu.

"Junho tampan, penurut, baik, dan tak aneh aneh. Namun dia tak bisa diraih. Junho adalah suatu hal yang tak bisa disandingkan dengan kata dimiliki"

Gadis 18 tahun itu merebahkan dirinya dikasur lalu mengingat wajah rupawan Junho yang kemarin digigitnya.

"Anakmu akan sempurna jika kau menikah dengan Cha Junho yang sekarang menjadi Cho Junho"

Gadis itu memejamkan matanya. Dia sedikit lelah setelah bercerita panjang lebar.



______________
______________________________


Seungyoun Yeji udh sama sama dewasa dan Yeji juga tau mereka itu suami istri bukan orang pacaran lagi. ykwim?

Melepas Rembulan [Cho Seungyoun & Hwang Yeji] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang