Part 6

6.2K 224 9
                                        

"Dia Angkasa, manusia es berhati beku yang hatinya sulit dicairkan"

***

Acha merasa tidak enak dengan Angkasa, bukan bermaksud menyindirnya tetapi ia hanya ingin memberikan bekal buat Angkasa.

Acha tau catatan kecil di atas bekal darinya itu terlalu barbar, tapi kalau bukan dengan cara itu Angkasa pasti tidak membacanya dan memberikan bekalnya ke orang lain.

Info yang Acha dapat dari Lita yaitu Angkasa tidak pernah makan makanan yang diberikan fansnya, kue, coklat, bunga semuanya Angkasa bagi-bagikan ke teman sekelasnya.

Bel pulang sekolah sudah lama berbunyi, anak SMA Garuda pun berhamburan untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Tetapi tidak dengan Acha, gadis satu ini malah tidak pulang.

Ia bermaksud untuk menemui Angkasa, dan mencoba mencari tau tentang dirinya.

Dan sekarang disinilah Acha, sedang menunggu Angkasa latihan basket. Ia harus bisa dekat dengan Angkasa dan mencari tau siapa dirinya.

"Angkasa kalau lagi keringetan nambah ganteng," ucap Acha sambil tersenyum kecil. Ia sedang duduk di bangku penonton paling pojok agar Angkasa tidak melihatnya.

Tadi sebelum ke lapangan basket Acha membeli air mineral dingin di kantin, ia ingin memberikannya kepada Angkasa. Ia harap Angkasa tidak marah padanya soal kejadian tadi.

Acha menonton pertandingan Angkasa dengan semangat, ia tidak menyangka kalau si manusia dingin itu jago bermain basket.

***

PRITTT, peluit tanda latihan basket selesai berbunyi dari arah kanan lapangan. Pak Joko sang pelatih basket pun segera ke tengah lapangan.

"Baiklah saya rasa latihan kita cukup sampai disini, dan kamu Angkasa kalau bisa kamu ikut dalam pertandingan basket melawan SMA Cendrawasih, sayang apabila kamu punya bakat tapi di sia-siakan," ucap pak Joko sambil menatap Angkasa.

"Saya pikir dulu pak," jawab Angkasa. Dirinya tidak begitu tertarik ia hanya suka basket karena itu hobinya.

"Yasudah, kalau begitu sebelum pulang kita berdoa dulu, berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdoa mulai," ucap pak Joko sambil menunduk.

Semua pun berdoa, hening dan khidmat. "Selesai! Baiklah kalian semua pulang hati hati hari sudah sore," ujar pak Joko ke pada siswanya.

"Baik pak, terimakasih!" ucap mereka semua serentak.

Lalu banyak dari mereka yang berhamburan keluar lapangan, ada yang langsung pulang dan ada juga yang ganti baju dulu.

Ketika yang lain sudah pulang Angkasa malah masih di lapangan, dirinya tengah membereskan bola basket yang berserakan.

"Mau gue bantuin gak?" tawar Acha yang baru saja datang menghampiri Angkasa.

"Gak, gue bisa sendiri!" ucap Angkasa dingin sambil menatap Acha sorot matanya menandakan ia tak suka Acha di sini.

"Nih gue bawain minum, lo liat gue jangan kayak mau bunuh orang gitu dong entar lo kangen lagi kalo gak ada gue," kata Acha yang tidak takut ditatap tajam oleh Angkasa.

"Mau ngapain lo disini?" ucap Angkasa ketus. Setelah membereskan bola basket yang tadi berserakan, ia pun pergi ke pinggir lapangan untuk mengambil tas nya.

"Mau ketemu sama lo, lo itu udah nabrak gue eh main nyelonong aja pergi gak minta maaf terus tadi pagi di kasih bekal eh malah dibalikin padahal kan gue....." ucapan Acha terpotong ketika Angkasa menatap matanya menusuk semakin tajam jauh kedalam manik mata Acha.

Angkasa [Telah Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang