Part 4

6.7K 241 14
                                        

"Kamu adalah sebuah misteri yang datang dengan rupa malaikat"

***

Bel pulang sudah berbunyi sedari tadi, tapi Acha masih sibuk membereskan buku yang ada di atas mejanya.

"Cha gue duluan ya udah di tungguin nih sama mama gue," ucap Lita lalu melambaikan tangan sembari keluar dari kelas.

"Iya, hati-hati di jalan ya Lita," ucap Acha sambil tersenyum. Dan tinggalah, Acha seorang diri di kelas.

Acha keluar kelas menuju ke depan gerbang sekolah nya. Dia sudah mengirim pesan dan menelpon mamanya sedari tadi nihil tidak ada balasan sama sekali.

Dulu waktu Acha sekolah di Bandung, pulang sekolah pasti di jemput mamanya, jika Mang Ujang tidak bisa menjemput dirinya.

Sedangkan Papanya sibuk bekerja, tapi bagaimanapun juga Acha memakluminya.

Acha berjalan seorang diri ke gerbang depan sekolah nya, ia sedang menunggu angkutan umum.Tidak hanya Acha, anak-anak lain juga banyak yang sedang menunggu angkutan umum.

Jam menunjukkan pukul 14:20, dilihat nya jalanan yang ramai dengan banyak motor dan mobil berlalu lalang.

Rasanya Acha ingin sekali, cepat sampai kerumah untuk bertemu mamanya. Dia khawatir karena mamanya tidak membalas pesannya.

Apakah mamanya sudah makan dan minum obat ? itu yang di pikirkan Acha saat ini.

Lalu beberapa menit kemudian angkutan umum berhenti di depan Acha. Ia langsung masuk dan duduk di dalamnya, pikiran nya tertuju pada mamanya saat ini.

Acha berhenti di pertigaan dekat rumahnya. Selesai membayar ongkos, Acha bergegas lari menuju rumahnya.

"Mama, Acha pulang!" teriak Acha ketika sudah sampai di dalam rumah nya.

SEPI, itulah keadaan rumah nya sekarang.

"Ma? Mama udah pulang kan?" teriak Acha lagi lalu pergi menuju kamar mamanya.

Hatinya lega tatkala melihat mamanya tertidur pulas. Acha pun langsung menghampiri dan duduk di sebelah mamanya.

"Mama pasti kecapekan, makanya langsung tidur," kata Acha sambil berbisik kecil. Di tarik nya selimut sampe ke atas dada mamanya.

Wanita yang sedang di pandangi Acha sedari tadi, tengah tertidur nyenyak. Guratan halus di matanya mulai tampak jelas. Tapi aura kecantikan masih terpancar darinya.

Dengan pelan Acha mengecup kening mamanya, dan langsung menuju kamarnya untuk ganti baju.

***

"ANGKASA!!!" teriak Varo nyaring memenuhi kamar Angkasa. Mereka saat ini sedang di kamar Angkasa siapa lagi kalau bukan Varo dan Dika.

"Apaan sih?" ucap Angkasa malas, temannya yang satu ini sangat heboh padahal Angkasa duduk tidak jauh darinya.

"Entar malam jadi gak? Ke tempat biasa," ucap Varo yang sedang keliatan asyik memainkan PS punya Angkasa.

"Gak! Gue lagi malas," ucap Angkasa lalu beranjak dari tempat duduk nya untuk mengganti baju.

"Yaelah Sa, jangan gitu dong masak gak dateng cemen banget lo jadi cowok," ujar Dika yang juga sedang asyik memainkan PS, jari-jari tangan nya tak berhenti bergerak sedari tadi.

"Iya mentang-mentang dulu sering kesana, sekarang aja malas minta ampun" ucap Varo tak kalah sengit.

Angkasa menghentikan aktivitas nya sejenak, lalu menatap kedua temannya yang masih sibuk tanpa melihat Angkasa yang sudah memasang muka datar.

"Bukan urusan lo berdua ngatur hidup gue," ucap Angkasa dingin.

Angkasa pun langsung memakai baju nya asal, lalu pergi meninggalkan kamarnya. Sedangkan teman Angkasa sudah pasrah dengan sikapnya.

"Dasar es batu!! lama lama gue serut juga lo," ucap Varo yang gemas dengan tingkah Angkasa.

"Enak dong apalagi kalo pake sirup," jawab Dika asal.

"Apalagi pake buah melon sama semangka, seger gak tuh hahaha,"ucap Varo ngakak.

"Seger sih, tapi ada yang kurang kayaknya?" tanya Dika sambil menatap Varo.

"Apaan?" jawab Varo.

"Kurang manis, semanis cintaku padamu," ucap Dika tersenyum sambil memberi finger heart ke Varo.

Varo yang melihatnya pun merasa jijik, lalu melempar bantal yang ada di belakangnya ke arah Dika.

"Noh, mamam tuh bantal!" ucap Varo sambil beranjak dari tempat nya, dan segera berlari menyusul Angkasa ke bawah.

"Ha ha ha awas lo Var," kata Dika sambil tertawa disusul nya Varo dan Angkasa yang sudah dari tadi pergi meninggalkannya.

Yah begitulah mereka berdua sudah biasa dengan sikap Angkasa yang seperti itu. Bagaimanapun juga Angkasa adalah sahabat nya, orang yang rela menolong mereka tanpa meminta balasan apapun.

***

Sore ini langit kelihatan cerah tidak ada mendung sedikitpun. Angin pun berhembus sejuk, di tambah sang mentari yang mulai tenggelam menambah kesan ketenangan yang mendalam bagi Acha.

Acha pergi ke taman dekat rumahnya, sekedar untuk menghilangkan rasa suntuk nya. Duduk di taman sendirian itulah hal yang sering di lakukan Acha.

Sampai saat ini pun Acha masih sering memikirkan dia, bocah lelaki yang sering di ajak nya bermain ke taman. Apakah anak itu juga memikirkan Acha?, atau malah dia sudah melupakan Acha?

Lalu Acha pun teringat dengan Angkasa, sang Most Wanted di SMA nya. Wajahnya tidak asing sama sekali bagi Acha.

Ada perasaan yang sulit di artikan ketika bertemu Angkasa, Acha merasa pernah mengenal Angkasa, tetapi ada aura dingin Angkasa yang berbeda dengan anak lelaki 7 tahun silam yang sering bermain di taman dengan nya.

"Angkasa Kevin Pramudya," ucap Acha menyebut nama cowok itu, "Gue akan cari tau siapa lo sebenarnya!" kata Acha dengan optimis dan penuh keyakinan.

Mulai hari ini dan detik ini juga Acha akan mencari tau siapa Angkasa sebenarnya, si cowok dingin berhati beku itu akankah bisa ditaklukan oleh Acha?

***

Angkasa [Telah Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang