Finda berlari meninggalkan halaman sekolah. Ia tidak memperdulikan Joshua yang terus menyorakinya. Finda menerobos hujan yang masih deras itu dengan air mata yang terus mengalir. Begitu kecewa kepada Joshua, padahal Finda sangat percaya dengan cowok itu. Tapi Joshua malah menyakitinya.
Apa susahnya jujur? Apa cinta harus egois untuk memiliki? Bahkan yang Finda tau cinta itu ketika kita melihat orang yang kita cintai bahagia walau bukan dengan kita.
Tapi Joshua? dia sangat egois. Finda benar-benar masih marah padanya!
"FINDA WOEE!" teriakan seseorang dan kali ini bukan suara Joshua.
Finda menoleh, "Doni." desis Finda melihat Doni dan Feri yang memanggilnya di halte sekolah.
Doni menghampir Finda dengan sebuah payung dan membawa gadis itu berteduh di sebuah halte.
"Lo ngapain hujan-hujanan kek masa kecil kurang bahagia aja." ujar Doni.
"Nih buat keringin muka lo." Feri meyodorkan sebuh sapu tangan.
Finda menerimanya dan mulai mengusapkan pada wajahnya.
"Boleh tanya gak?" ujar Finda setelah mengeringkan wajahnya.
"Apaan?" jawab Doni.
"Kalian biasanya kumpul sama Fano kan? emm tu cowok kemana kok gue gak pernah keliatan?" tanya Finda.
"Kenapa lo nanya Fano? nanti pacar lo marah noh si Joshua." jawab Doni.
Finda mendengus kesal, "Kenapa sih semua orang berpikiran gue pacaran sama Joshua! mentang-mentang gue sering bareng dia."
"Tapi emang bener kan Fin?"
"Itu gak bener Doni! iya gue tau pas gue sadar nama Joshua yang gue sebut. Dan gue gak tau itu kenapa. Karena seingat gue, gue emang pernah jalan sama Joshua dan dia juga pernah menghibur gue."
"Tapi bukan berarti karena gue selalu bareng dia, kalian langsung nilai gue pacaran sama dia." tukas Finda.
"Terus kenapa lo sekarang cari Fano? bukannya lo selalu ngerasa gak suka kalo Fano nemui lo?" sahut Feri menimpalinya.
Finda menghela nafasnya. Jika mereka sudah membicarakan hal itu Finda tidak bisa menjawabnya. Karena memang sikapnya dari awal sudah salah. Ya dia salah karena Finda tidak memberi kesempatan Fano untuk mengingat tentangnya. Bodoh!
"Oke gue salah, tapi jawab dulu Fano kemana?" tanyanya.
"Penting buat lo tau?"
"Kok jawaban kalian nyudutin gue mulu sih!"
"Asal lo tau Fin, Fano itu cinta sama lo. Tapi lo malah memperlakukan dia kayak gitu. Lo gak ingat gimana perjuangan lo buat dapetin dia. Setelah dapat lo campakan, lo duakan sama Joshua. Gue sebagai sepupunya Fano sedikit gak terima." ujar Feri.
"Gue juga gak pengen nyakitin Fano. Tapi apa kalian pernah ngerasain ingatan kalian hilang. Ngerasain gimana rasanya kalian sedang merasa mencintai seseorang tapi kalian gak tau itu siapa."
"Bukan cuma Fano. Gue pun tersiksa! Ya gue emang egois. Gue gak milih kata hati gue."ujar Finda dengan nada perihnya.
Feri menghela nafas pelan. Ia menghampiri Finda membawa gadis pilu itu kedalam pelukannya.
"Sorry Fin gue gak bermaksud buat nyudutin lo." ucap Feri.
"Ehemm.. Ehemm kayaknya ada yang mau nikung teman sendiri nih!"
"Ya emang sih jaman sekarang udah gak peduli mau punya teman atau enggak." sindir Doni.
Feri melepaskan pelukannya pada Finda. Ia mendengus pada Doni. Otak cowok itu memang terlalu pintar. Sangking pintarnya Doni tidak bisa mendeskripsikan suasananya.
"Otak lo gak beres. Yakali gue nikung sepupu gue sendiri." ujar Feri pada Doni.
"Yaelah Fer jaman sekarang mah apa yang enggak." jawab Doni.
"Serah lo deh!"
"Ehemm.. jadi Fano-nya kemana?" tanya Finda.
"Dia ke London jemput orang tuanya. Besok udah balik kok." ujar Doni.
"Dan gue saranin lo secepatnya selesaiin masalah lo sama Fano. Perbaiki hubungan kalian." sahut Feri menimpalinya.
Finda tersenyum sambil mengangguk.
"Pasti. Makasih ya Feri, Doni." ucapnya.
"Hati selalu tau dimana ia akan kembali."
***
"Kakak!" teriak Finda di dalam rumahnya.
"Apaan sih teriak-teriak." kesal Delwin.
Finda menghampiri kakaknya yang sedang duduk didepan televisi.
"Kakak jahat banget sih!" seru Finda.
Delwin yang tidak tau apa-apa hanya bisa mengerutkan keningnya. Bawangkan saja tidak ada hujan, angin adiknya datang dan langsung mengatakan dirinya jahat.
"Apaan jahat? gak jelas lo." ucap Delwin.
"Kenapa kakak gak pernah bilang ke aku kalo Fano itu pacar aku. Kenapa kakak ngebiarin aku sama Joshua dan itu sama aja nyakitin Fano." tukas Finda.
Delwin terkejut, "Ingatan lo udah pulih?" tanyanya.
"Enggak, tapi aku tau kalo Joshua itu boong. Dan selalu ada perasaan aneh saat Fano menyakini aku kalo aku pacarnya." ujar Finda.
"Fano emang pacar lo."
"Kenapa kakak gak pernah ngomong!" kesal Finda.
"Awal lo sadar lo udah nyebut nama Jus. Dan Jus itu telanjur ngedeketin lo jadi gue gak enak buat ngomong. Toh Jus bilang ke gue dia bakal bantuin buat mulihin ingatan lo." ujar Delwin menjelaskan.
"Tapi yang dilakukan Jus gak sesuai sama omongannya. Dia malah memanfaatkan situasi ini buat deket sama aku. Aku gak benci sama Jus tapo hati aku bukan bertempat disitu. Kenapa Jus egois sih!" tukas Finda.
Delwin tersenyum, "Namanya juga cinta mampu membuat orang baik menjadi jahat. Orang jahat menjadi baik. Walau akhirnya kamu tau dimana hatimu bertempat. Jangan pernah membeci Jus."
"Jus melakukan ini semua karena dia cinta sama kamu. Karena ini soal cinta, wajar jika Jus melakukan itu. Ya walaupun kakak tau yang dilakukan salah, tapi yang namanya cinta tidak pernah mau tau apa resikonya." ujar Delwin.
Finda tersenyum kecil, "Aku gak benci Jus kok. Cuma lagi kesel aja sama dia. Karena bagaimana pun Jus baik banget sama aku." ucapnya.
Delwin tersenyum lega sambil mengacak puncak rambut adiknya.
"Maafin kakak ya kalo kakak gak bilang ke kamu soal ini. Tapi kakak selalu yakin cinta kamu ke Fano itu kuat, suatu saat rasa itu akan kembali pada tempatnya."
"Buktinya sekarang kamu sadar kalo rasa kamu itu milik Fano."
****
KAMU SEDANG MEMBACA
ALFANO (MASIH REVISI)
Teen Fiction"Fano!! segala sesuatu itu memang harus dicoba dulu. " ujar Finda dengan wajah sok seriusnya. "Terus? " "Terus ya kita harus nyoba pacaran dulu biar Fano percaya kalo aku ini tulus. " jawab Finda dengan tak berdosanya. Fano langsung bergidik ngeri...
