°°°King Bullying
-o0o-
Satu minggu Zara berdiam diri di rumah seperti manusia yang tidak berguna. Berbaring ke kanan dan ke kiri di atas kasur yang sepertinya muak akan kemalasan gadis satu itu. Ia menoleh ke arah jam dinding, " setengah sebelas ternyata" katanya dengan sedikit hembusan nafas bosan.
Ujian Sekolah bagi siswa-siswi kelas 12 sangat mengganggunya. Membuat dirinya tak bisa menatap wajah kharismatik seorang Agra. Ya, meski dirinya terbebas dari segala hukuman aneh yang selalu pria tampan itu berikan tetapi tetap saja ini adalah tembok yang menghalangi untuk Zara menikmati pemandangan seindah Agra. Kepergian kelas 12 pun bisa di hitung dengan jari, begitu juga dengan keberadaan Agra di sekolah. Apa jadinya jika Zara tak lagi bisa melihat seorang Agra? Satu minggu saja sudah membuat Zara uring-uringan tidak jelas hanya karna urusan rindu. Sungguh, rindu membuatnya terjebak dalam kebisuan untuk sekedar mengatakan.
Zara mengambil buku diary-nya di bawah bantal, membaca secara detail lembar-demi lembar. Kata yang ia toreh hari demi hari hanya sekedar menggambarkan betapa hatinya mendamba sang raja bully itu. Andai buku itu dapat berkata maka ia akan mengatakan bahwa Zara adalah gadis bodoh yang bertahan hanya demi lelaki bersayap hitam seperti Agra. Tapi kekuatan dari sebuah cinta memang membutakan segalanya seakan dunia ini hanya terpusat oleh dia, Agra. Bagi Zara.
Manik matanya menatap bagian buku, namun tak dapat dipungkiri bahwa pikirannya menerawang kejadian beberapa waktu dulu. Dimana buku ini lah yang menjadi pusat dari segala permasalahan terjadi, menjadi inti dari untaian-untaian kemarahan seorang Agra. Andai saja buku ini tidak Zara letakan dengan begitu teledornya, pasti hingga saat ini perasaannya masih tersimpan rapat menjadi rahasianya sendiri.
Alis milik gadis yang tengah tengkurap itu mengernyit hampir saja bertaut, ada yang salah dari kejadian selama ini. Kejadian yang tidak pernah ia permasalahkan namun menjadi acuan pikiranya saat ini.
"Siapa kira-kira yang menempel isi diary ku di mading saat itu?" gumamnya penuh selidik.
-o0o-
"Daddy, Alexa benar-benar tidak bisa. Ujian Nasional akan diadakan senin besok dan Alexa harus mengikutinya. Jika Alexa absen, bagaimana masa depan Alexa?" suara Alexa terdengar lirih. Ia tak bisa berjanji untuk tidak mengurai air mata. Kabar yang sangat membuat inti hatinya seolah tertikam pedang tajam.
"Baiklah Daddy memahami keadaanmu. Tapi berjanjilah untuk datang usai Ujian itu selesai, heum?" kata seseorang dengan nada rendah namun masih terkesan tegas di ponsel yang melekat pada daun telinga gadis cantik itu.
Alexa mengangguk meski ia tahu Daddy tidak bisa melihatnya. Ia menunduk menatap beberapa buku yang berserakan di meja belajarnya, "ya Alexa janji. Kirimkan salam Alexa untuk Mommy jika sudah siuman" setelah mendengar kata 'Iya' serta salam dari ponselnya Alexa menutup dan meletakan benda pipih itu di samping lampu belajar yang tak menyala.
Saat ini kepalanya sungguh berat menyangga beban fikiran yang teramat membebaninya. Ia harus mengejar nilai Ujian Nasional untuk mendapatkan rangking teratas namun di sisi lain ia juga tidak tega meninggalkan Mommy di saat sedang terbaring lemah di rumah sakit. Ya, Alexa harus belajar dengan giat demi mewujudkan cita-cita terbesarnya sebagai dokter ahli bedah. Ia harus membuat Mommy bangga akan prestasi yang ia toreh, ia tidak boleh mengecewakan semua orang di sekitarnya jika ia gagal. Ia harus berhasil.
Kreekkk...
Suara pintu terbuka membuat kepalanya spontan menoleh ke arah belakang. Ternyata Tante Franda yang membukanya, berdiri di belakang pintu bercat putih dengan senyuman terpatri di wajahnya. Cantik, sangat mirip dengan Mommy namun Tante adalah Mommy versi muda. Ya, Tante Franda adalah adik dari Mommy. Alexa merasa memiliki dua Mommy di dunia ini. Tante Franda mendekat, lalu mengusap kepala Alexa dengan penuh kelembutan nan kasih sayang. Alexa menyukai ini, kasih sayang adalah bentuk semangat untuk Alexa mengejar tujuan hidup.
"Alexa belajar?" tanya Tante Franda sembari matanya mengabsen buku-buku yang ada di atas meja belajar.
Alexa mengangguk sebagai jawaban, "apa tante mengetahui perihal Mommy?" raut wajah yang semula secerah mentari kini berubah bak di landa awan hitam.
Sebelum menjawab Tante Franda menarik kursi yang tak jauh dari meja belajar untuk mendekat pada Alexa. Matanya tak sanggup menatap keponakannya itu, mencari pusat pandangan lain yang ia cari hingga ia sepakat untuk menatap lantai tak berdosa. "Mommy pasti sembuh!" ucapnya dengan penuh keyakinan.
"Tapi, Alexa tau penyakit kanker hati sukar disembuhkan" celetuknya.
"Berdoa, Alexa harus berdoa yang banyak. Lihat bunga di sana?" Alexa mengikuti arah jari telunjuk Tante Franda. Ternyata di luar jendela sana ada bunga yang hampir mati. Hanya sisa batang tanpa daun yang masih menghijau. Kemudian Alexa mengangguk. "Apa Alexa akan berfikir bahwa bunga itu akan mati?" tanya nya.
Alexa mengangguk samar, hampir tak terlihat. "Mungkin" jawabnya singkat.
"Tidak. Bunga itu tidak akan mati jika Alexa menyiramnya dengan rajin dan merawatnya. Tapi sebaliknya, jika terus dibiarkan tanpa di beri air dan perawatan maka ia akan mati. Paham kan?"
Alexa mengangguk semangat, jadi dia harus rajin berdoa dan juga mempercayai bahwa dokter di sana pasti akan menyembuhkan Mommy nya. Entah mengapa Alexa menjadi sedikit tenang atas apa yang dituturkan Tante Franda. Alexa memeluk Tante Franda dengan erat. Menyalurkan rasa sayang yang begitu besar padanya. Sungguh, Alexa membutuhkan sosok seperti Tante Franda di hidupnya.
Kling...
Bunyi ponsel yang membuat pelukannya lepas. Ia menatap ponselnya sebentar lalu mengambilnya. Layarnya menyala, menampilkan pesan yang tertera di layar kunci. Membuat bibirnya melengkung bak bulan sabit. Tante Franda sudah menduga siapa yang mengirimkan pesan itu.
'Tidak ada yang boleh membuatmu bersedih. Aku akan datang untuk memastikanmu baik-baik saja.' - Agra.
-o0o-
KAMU SEDANG MEMBACA
King Bullying [TELAH TERBIT]
RomancePART LENGKAP! Terbit : Momentous Publisher Zara memberontak, namun yang didapatkan adalah dorongan keras dan punggungnya hingga membentur tembok. Satu buah tangan kekar berada tepat di samping wajahnya. Jantung Zara berdetak tak berkaruan, rasa taku...
![King Bullying [TELAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/180068533-64-k844170.jpg)