Bagian 43

120K 5.3K 106
                                        

°°°King Bullying

-o0o-

Dua minggu berselang kemudian. Usia kandungan Zara sudah 13 minggu, atau bisa dikatakan 3 bulan lebih satu minggu. Perutnya sudah mulai menonjol namun masih bisa Zara tutupi menggunakan sweater atau hoodie. Terkadang Oki meminjamkan hoodienya jika Zara lupa memakai. Dua minggu itu pula Oki bersikap manis padanya. Mulai dari membawakan tas, mengantar-jemput, menjaga saat pelajaran olahraga, membelikan makanan, mengerjakan tugas Zara agar tidak banyak pikiran dan intinya Oki adalah pria baik dan menjaga Zara dengan baik.

Zara merasa tidak enak, ia selalu merepotkan Oki padahal sebenarnya Agra lah yang harus bertanggung jawab penuh atas dirinya. Di saat Zara menolak bantuan Oki, pasti ia menyangkal dengan mengatakan 'ingin menjadi paman yang baik' , ulu hati Zara seperti tertohok mendengarnya. Oki terlalu baik padanya dan Zara selalu saja menyusahkan.

Hari ini tepat di hari minggu, Oki dan Zara sepakat untuk berkata jujur pada Agra. Untuk mengatakan semua pada Ibu, Zara belum yakin. Tapi yang paling utama adalah Agra yang mengetaui kehamilannya. Setelah semuanya terjawab, antara dia ingin atau tidak maka Zara akan berbicara pada Ibunya.

Perasaan Zara sedari tadi sudah tidak karuan. Ia memakai dress dan ia semenjak mengetahui kehamilan, menjadi jarang memakai celana berpinggang sempit entahlah Zara hanya takut bayinya kenapa-kenapa. Sekhawatir itulah Zara. Ia juga memakai sweater tetapi tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis. Rambutnya ia biarkan terurai.

Oki yang mengendalikan kelajuan mobil, menengok dan menatap gadis itu meremat tangannya satu sama lain. Ia tahu pasti gadis itu gugup dan takut. Melihat sikap Agra yang tempramen dan emosional sepertinya kemungkinan kecil Agra akan setuju.

Zara melihat Oki membelokkan mobilnya. Zara paham tata letak rumah Agra tapi mengapa Oki menuju kearah lain? Apakah ini jalan tikus?

"Kita mau kemana?" tanya Zara bingung.

"Sebelumnya kau harus kerumahku, ada fakta yang harus kau ketahui." Jawab Oki dengan tenang.

Zara tidak mempermasalahkan sebab Oki tidak akan macam-macam padanya. Oki adalah orang baik dan Zara tidak khawatir. Mereka kembali diam, hingga mobil hitam itu berhenti di sebuah rumah sedikit besar dengan gaya modern.

Rumah ini hanya memiliki halaman yang kecil dan mayoritas ditanami oleh bunga anggrek dan mawar yang beraneka warna. Zara duga pasti ibu Oki menyukai tanaman dan cat rumah ini mayoritas hitam dan putih, sangat sederhana namun terkesan segar.

Oki membuka pintu rumah dan Zara mengikutinya dari belakang. Setelah masuk dari pintu utama akan disuguhkan sofa modern dan sederhana berwarna abu-abu. Zara melihat jam dinding, ternyata pukul 10 pagi.

"Kau tunggu di sini, ku panggilkan Ibu." Oki pergi sebelum Zara menjawab.

Zara terdiam memandang seluruh isi rumah Oki. Ia tertarik dengan foto berbingkai putih di lemari hias. Ia memandang beberapa piala yang dimenangkan Oki terpajang di sini, ia kembali melihat foto itu. Mengamati dengan seksama, ia mengernyitkan dahi. Sepertinya ia mengenal lelaki di foto itu. Tapi sebuah suara mengintrupsi pendengaranya.

"Zara, perkenalkan ini Ibuku." Zara menoleh kebelakang lalu tersenyum kikuk.

Ia segera mencium punggung tangan wanita cantik itu. Untuk ukuran para ibu-ibu, ibu Oki terlihat modis dan kekinian. Style yang dipakai setara dengan anak muda.

King Bullying [TELAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang