Bagian 4

190K 8.9K 405
                                        

°°°King Bullying

-o0o-

Di sebuah balkon yang merupakan salah satu bagian dari restaurant ala Eropa itu memperlihatkan dua pria yang sudah tak lagi bisa di kata muda. Mereka berdiri menatap kearah lautan lepas yang hanya berkisar beberapa ratus meter dari nya. Air yang tadi siang berwarna biru terpapar sinar cakrawala kini berubah menjadi hitam di tengah bulan yang utuh di gelapnya langit malam.

"Mengapa kau tak mengajak istrimu?" tanya Mahendra.

Ya, kedua pria itu adalah Mahendra dan Samuel. Mereka tengah membincangkan bisnis sekaligus rumah tangga mereka. Perpisahan yang berkisar belasan tahun itu membuat keduanya tak ada waktu bicara berdua dan saling bungkam tanpa saling kabar mengabari.

"Istriku ada dinas di daerah Surabaya. Kau sendiri?" jawab Samuel sedikit memperlihatkan senyuman kebanggaan nya terhadap sang istri yang juga pandai berbisnis. Istrinya yang selalu tampak manja dan mandiri di satu waktu.

"Sebenarnya aku pisah rumah dengan istriku."

Dengan cepat Samuel menolehkan pandanganya. Dilipatnya kedua tangan di depan dada dan mencoba memahami perkata yang diucapkan Mahendra. Pasalnya sahabat nya itu tak pernah bermain wanita di belakang orang yang dicintainya. Ya, Mahendra tak pernah membagi cinta. "Maksudmu kau bercerai?"

Mahendra menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Kemudian memasukan kedua tanganya ke dalam saku celana hitamnya. "Tidak. Ah, maksudku belum. Mungkin secepatnya, tapi sesungguhnya aku tak menginginkan semua ini."

Mahendra berpasrah diri, kepalanya menengadah ke atas membayangkan sosok istri yang sunguh dicintainya. Wanita yang selama 10 tahun menemaninya dan harus berpisah pada waktu 7 tahun silam. Dimana anak ketiganya lahir, di saat itulah Mahendra benar-benar kehilangan kedua buah hatinya dan istri yang begitu dicintainya.

"Kau ini kenapa? Apa kalian bertengkar?"

Mahendra menoleh, memandang sayu sahabatnya itu yang kini juga menatapnya.

"Tidak, ibuku yang menginginkan ini. Kau tahu bahwa anak bungsuku adalah seorang lelaki?"

Samuel mengangguk ragu. Mahendra kembali mendesah nafas kasar, lalu menumpukan kedua tangan keriput yang masih berotot dengan hiasan jam tangan Rolex yang melingkar dipergelangan tangannya di sebuah besi yang dipergunakan untuk pagar pembatas antara ruang balkon dan udara lepas.

"Ibuku sangat menginginkan seorang cucu perempuan. Dan istriku memberikan tiga cucu lelaki sepenuhnya. Ibuku mengusirnya dan menyuruhku untuk menikah kembali, tetapi kau tahu sendiri watak ku. Aku tak bisa melepas Hanin, aku sangat teramat mencintainya. Mungkin ini terdengar konyol tetapi inilah kenyataanya, Hanin pergi bersama kedua buah hatiku yang kini berumur 17 tahun dan 7 tahun."

Samuel mengarahkan telapak tanganya menepuk bahu Mahendra beberapa kali untuk menenangkan nya. Ia tahu bahwa sekuat-kuatnya sahabat disampingnya itu pasti dia mempunyai kelemahan. Dan Samuel tahu kelemahan Mahendra ada pada Zihni Haninda. Sang istri tercinta seorang Mahendra.

"Lalu dimana istrimu sekarang?"

"Aku tahu keberadaan istriku. Namun ia selalu menolak akan kehadiranku,sekalipun itu untuk menjenguk anak-anakku."

King Bullying [TELAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang