Bagian 49

129K 6.1K 530
                                        

°°°King Bullying

-o0o-

Zara menutup pintu kamar lalu berdiri di belakang daun pintu. Mengamati gerak-gerik Agra mulai dari melepaskan jam tangan lalu tergeletak di atas kasur. Ia ragu untuk tidur di sebelah Agra. Agra menutup matanya, Zara rasa ia belum tidur. Zara masih berdiri diam di sana.

"Mau sampai kapan kau di situ?" Agra bersuara.

Zara diam tak berniat menyuarakan kata-kata yang mengendap di tenggorokan. Agra menghembuskan nafasnya kasar, mencoba lebih sabar.

"Jika kau pikir aku akan memisahkan diri dari ranjang maka kau salah. Ini realita bukan sinetron, dengan senang hati seranjang denganmu."

Zara menggigit bibir bawahnya. Ia takut, bayangkan kalian di posisi Zara saat ini.

"Ya, kan Kak Agra cabul!" desis Zara yang masih bisa di dengar oleh telinga Agra.

"Ku bilang aku bukan kakakmu!" tegas Agra.

Tapi Zara masih berdiri di sana melihat Agra berdiri lalu melepaskan hoodienya. Kemudian Agra melepaskan kaos hitam yang di pakainya. Spontan Zara menutup kedua matanya dengan tangan.

"Mengapa kau bereaksi berlebihan? Heh, kau ini istriku. Kita sah, sudah H A L A L di baca halal. Jadi, sekalipun aku membuka celana di sini tidak masalah." Ucap Agra sembari menggantungkan pakaiannya di lemari.

"Tapi tidak perlu sefrontal itu!" kritik Zara.

"Bukankah itu terserahku mau ganti di mana?" bukan pertanyaan tapi pernyataan.

Zara menghembuskan nafas kesalnya. Sungguh menjengkelkan.

"Menyebalkan!" celetuk Zara entah keberanian dari mana.

Agra merebahkan dirinya di atas kasur. Tanpa baju yang melekat dan menutupi tubuh sixpack nya.

"Kau tidak tergoda dengan bentuk tubuhku?" tanya Agra sambil memejamkan matanya.

"Kau menggodaku?" kini Zara menyela.

"Oh ayolah jangan munafik, kau pasti ingin memeluk tubuh atletis pria yang kau cintai kan?"

Zara menggertakan giginya, ada apa dengan Agra malam ini? Mengapa ia begitu menyebalkan dan membuat Zara naik pitam.

"Siapa juga yang mau memelukmu." Zara berjalan lalu membaringkan diri di samping Agra. Sebelumnya ia telah meletakkan guling di tengah-tengah sebagai pembatas. Ia tidur membelakangi Agra yang menghadap langit-langit kamar.

"Yakin kau tidak tergoda dengan ini?" Agra meraih tangan Zara lalu di letakan pada perutnya. Zara segera menarik tangannya dan mencoba memejamkan mata untuk tidur.

"Tidurlah sudah malam!" Elaknya agar Agra tidak bertingkah macam-macam lagi.

"Cih, sok jual mahal." Cibir Agra sebelum terlelap di tidurnya. Merasa tidak nyaman Agra membuang guling sebagai pembatas itu secara kasar dan entah kemana. Mereka tidur dengan pikiran yang membebani mereka masing-masing.

-o0o-

Pukul setengah tujuh pagi Zara terbangun dengan selamat. Ia menyisir rambutnya dengan teliti. Ia menatap seseorang yang masih tertidur pulas di atas kasur dari pantulan cermin dengan selimut yang sudah jatuh di lantai serta guling yang tiba-tiba berada di depan pintu.

Zara memakai hoodienya yang berwarna pink untuk menutupi perutnya yang buncit. Dua hari sebelum menikah Hanin mengajaknya belanja kebutuhan seperti daster, dress, baju tidur yang longgar dan nyaman, sweater rajut dan juga hoodie untuk menutupi kehamilannya.

King Bullying [TELAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang