Lebih baik berjalan mundur kembali daripada memaksakan melangkah maju, yang akhirnya akan membuat beberapa pihak merasa tersakiti
***
"Selamat malam Pak Surya," sapa Athala saat melewati Surya.
Surya mengernyit tak biasanya gadis itu seperti ini, biasanya hanya tersenyum tipis saat melewatinya, lah ini berjalan riang sambil menyapa dirinya.
Ada apa dengan Athala.
"Oh iya, Non!" Athala menoleh kebelakang dengan cepat menghampiri Surya kembali.
"Ini dari seseorang," ujar Surya memberikan sebuah kantong belanja berwarna cokelat.
"Kok tumben main sampai gelap, Non?"
"Masih mau setengah tujuh kok," sahut Athala.
"Kok pulang-pulang kayak seneng gitu?" Athala tak menjawab ia berlalu dengan menjadi Athala yang biasanya.
Athala menggelengkan kepalanya, apa yang sedang ia rasakan kali ini, ia meletakkan telapak tangannya di dadanya, jantungnya berdetak sangat cepat tanpa ia sadari.
Athala memasuki kamarnya, ia merogoh kantong berwarna cokelat tersebut, menemukan sebuah kotak, ia mengambilnya.
Ada sebuah kue di dalam kotak, dan ada sebuah amplop berwarna cokelat juga jatuh mengenai kakinya saat ia mengambil sekotak kue tadi.
Athala menaruh kue itu di meja belajarnya, kemudian ia ambil surat tersebut.
Tidak ada informasi dari siapa di amplopnya.
Gadis ini duduk di pinggir kasurnya dan membuka amplop tersebut, dengan cepat ia membuka lipatan kertas yang berasal dari amplop itu.
Orang bilang, jika kita mencintai seseorang maka kita akan melepasnya, karena kita tahu, dia berhak bahagia, walaupun bukan dengan kita orangnya.
Orang juga bilang, sesuatu akan terasa berharga saat telah hilang, aku pergi karena aku ingin aku menjadi bagian yang berharga itu, bisakah?
Darimu, aku belajar bahwa cinta tak harus memiliki, cinta harus siap untuk kehilangan, dan cinta memang tak bisa dipaksakan.
Aku tahu aku bersalah telah melupakan sebuah janji yang kita buat pada saat kecil, yaitu adikku untuk tetap jadi adikku begitu pula sebaliknya.
Ucapan maafku mungkin tidak pernah cukup karena perkataanku telah menyayat hatimu, apa aku masih menjadi sahabatmu? Bisakah menerima maafku? Aku rela jika sudah tidak menjadikanku sahabatmu tapi mohon, maafkan aku.
-Ravel
Air mata Athala sudah deras saat membaca suratnya, sungguh ia juga merindukan Ravel.
Gadis ini mengemasi suratnya saat mendengar suara Shera memanggilnya, dengan cepat ia menghapus air matanya dan menuruni tangga.
"Darimana saja kamu." Terlihatlah Doni yang berada di ruang tamu dengan Eve.
"Ada urusan," sahutnya lirih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Athala [PROSES REVISI]
RomanceTentang semesta yang selalu penuh kejutan. Tentang ego dan hati yang selalu beradu. Tentang sebuah pertemuan kembali yang dialami seorang gadis penyuka hujan bersama masalalu yang diartikannya sebagai arsip! Masih disimpan tapi tidak untuk dibukanya...
![Tentang Athala [PROSES REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/207588138-64-k283572.jpg)