71 (END)

363 18 66
                                        

Petualangan terbesar dalam hidup adalah perjuangan yang setengah mati meraih mimpi.

****

Athala memakai dress panjang warna putih dan campuran pink, yang pas di tubuhnya, itu atas keingan Eve. Tidak hanya Athala, tetapi semua, memakai baju itu, pastinya rancangan Shera.

Sejak 20 menit yang lalu setelah gadis ini mendengar akad terucap, memilih duduk dikursi panjang yang berada di samping rumahnya, menatap kosong kearah mawar putih yang sudah akan mulai tumbuh.

Cuaca tak secerah biasanya, mendung nampak berjejer rata, padahal masih pagi.

Karena matahari akan meninggalkan dirinya, tak ada lagi tameng untuk si hujan. Athala memeluk tubuhnya, ia menghela nafas panjang. Kisah sudah terpampang didepan mata.

Apa yang harus disesali dan apa lagi yang ia inginkan selain merasa bahwa keputusan yang ia ambil adalah suatu hal yang tepat.

Kenapa ia berdiri disini, harusnya ia melihat semua ini dengan senyuman apapun keadaannya. Ia memejamkan mata, rambutnya berterbangan saat diterpa oleh angin, air matanya juga merembes keluar tanpa izin. Athala memegang dadanya yang nyeri, gadis ini terisak, dengan suara yang miris.

"Orang bilang, ketika kecewa harus siap untuk bahagia, dan sebaliknya, jika bahagia harus siap juga kecewa."

DEG!

Terdiam, isakan itu reda, ia membisu enggan untuk membuka mata, masih setia memegang dadanya dengan jari tangan kiri yang terkepal.

Terdengar suara sepatu mendekat, ia membuka matanya, dan melunturkan tangan yang terkepal didadanya, gadis ini menarik nafas panjang ketika pria itu duduk dikursi tersisa di sebelah dirinya.

Tanpa menatapnya, ekor matanya tau bahwa lelaki ini juga memakai baju seragam seperti lainnya.

"Cappucino tanpa gula," ucapnya yang menyodorkan segelas minuman.

Anehnya, gadis itu menerimanya.

"Jika kamu belum membaca surat itu, saya jelaskan dari mulut saya ya," ujar Alvonda.

Athala masih bergeming, dan memilih untuk menghapus sisa air mata yang berada dipipinya. Ia tak menolak saat Alvonda bercerita.

Ia menyeruput minumannya sebelum Alvonda bercerita.

"Hanya butuh waktu lima menit, jika kamu mau mendengarkan, dan tidak menyela," lanjut Alvonda.

"Mungkin kamu salah paham, kamu harus tahu yang sebenarnya karena Eve dan Alvando beberapa hari lalu sempat ngobrol dengan saya," terang Alvonda membuat Athala menoleh.

"Tepat saat saya pergi, saya menemui kamu, tapi pada saat itu kamu pindah rumah tanpa sepengetahuan saya."

"Buku yang kamu temukan ada dalam tas itu memang saya memasukkan, itu saya lakukan agar kamu tau apa yang sebenarnya, dan tetapi kamu semakin salah paham." Athala hanya terdiam.

Terdengar helaan nafas panjang dari Alvonda ketika hendak melanjutkan.

Semilir angin terus menerpa wajah mereka.

"Dibuku saya berbicara, bahwa telah memperjuangkan seseorang dan saya mengaku bahagia," lanjutnya, Athala menatap nanar Alvona ketika ingat tulisan itu.

"Dan alasan itu kamu dan Alvando."

Athala sedikit terkejut, tapi ia segera merubah raut wajahnya kembali.

"Selama ini kamu tidak tahu, siapa itu Alvando, berada dimana, itu karena memang saya tidak pernah bercerita," lanjut Alvonda.

"Dia seorang mantan narapidana."

Tentang Athala [PROSES REVISI] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang