Extra Part 1

257 19 29
                                        

Saya percaya ada kesempatan kedua di dunia ini, sekarang saya sedang memperjuangkan, yaitu mendapatkan cintamu lagi.

****

"Alvonda!" Teriak perempuan lantang membuat Alvonda menoleh, dan pria ini tahu itu suara milik siapa, seorang gadis berambut pirang, yang mungkin ia banyak melukai hatinya.

"Eve? Kenapa bisa disini, kamu sama siapa?" tanyanya lembut ketika Eve telah dihadapannya.

"S-sendiri," jawab Eve dengan tunduk membuat Alvonda terkekeh melihat gadis ini.

Eve terperanjat saat lelaki ini menarik pergelangan tangannya menuju kursi panjang dirumah Alvonda. Sebab Eve tahu, pria ini memang punya rumah sendiri, jadi Eve bisa lebih santai.

"Ada apa?" Rasanya air mata Eve ingin keluar ketika mendengar suara lelaki ini yang begitu lembut.

"Sebentar, aku ambilkan minum-"

"J-jangan!" sela Eve membuat Alvonda menoleh.

"Aku hanya sebentar," lanjutnya, yang membuat Alvonda kembali duduk di sampingnya.

Eve mengeluarkan sebuah amplop, ini dari Athala, meletakkan dimeja yang berada dihadapan mereka.

"Dari Athala," terangnya tenang.

"Aku pulang, terima kasih." Alvonda masih bergeming.

"Eve tunggu," panggil Alvonda sontak membuatnya memberhentikan kaki untuk melangkah.

Eve berbalik, menatap Alvando yang berjalan kearahnya, Eve juga menatap surat yang terabai dimeja tadi, dan ia mengangkat alis bermaksud bertanya kepada Alvonda.

Alvonda memasukkan kedua tangan di saku celananya.

"Mari kita akhiri semua ini, hiduplah dengan bahagia, diawal memanglah sebuah hal yang salah, aku maaf, dan aku harap kamu mau berdamai." Eve terpaku, ia menatap Alvonda dalam, ia berharap Alvonda tak sungguhan.

"Aku serius Eve, tak ada lagi yang bisa kamu harapkan dari aku. Aku minta maaf, tak pernah terjadi momen yang bahagia ketika bersamaku," lanjutnya kepada Eve yang masih bergeming.

Gadis ini mengalihkan pandangan, ia menahan air mata yang ingin jatuh.

"Aku tidak ingin ada pihak lain yang akan tersakiti nantinya, contohnya itu kakak ku." Eve tahu jika bersama pria ini salah, tapi yang namanya cinta tak bisa dipaksakan bukan.

Eve mengangguk, sedetiknya gadis ini menatap Alvonda dalam, Eve berlalu dari rumah Alvonda dengan berlari.

Alvonda menghela nafas panjang, ini adalah pilihan yang tepat dan terbaik.

Alvonda mengambil surat itu dan pria ini memasuki rumahnya.

Membuka surat itu perlahan, pria ini terpaku melihat tulisan ini.

Aku pergi

01.11
(13 desember 2020)

-sebuah bulan sempurna.

Satu jam sebelum pukul itu, Alvonda telah mengirim sebuah pesan singkat kepada Athala, langsung saja lelaki ini membuka ponselnya, dan pesan yang dikirim oleh dirinya itu hanya terbaca saja tanpa dibalas oleh gadis bernama Athala tersebut.

"Athala pergi kemana?" tanyanya saat panggilan telah terhubung.

"Gue juga mau cari tahu, sama sekali gak bilang sama gue," jawab Kyla dari seberang sana.

Alvonda mematikan sambungan, tak mungkin ia bertanya kepada Eve soal ini, ia juga punya hati, juga mengerti perasaan Eve nantinya.

Eve
Kalau elo bingung, tunggu aja empat tahun yang akan datang.

Tentang Athala [PROSES REVISI] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang