28

264 22 4
                                        

Katamu aku suruh ikutin kata hati? Lantas serpihan hati yang mana yang harus aku ikutin?

***

Athala yang baru saja menginjakkan kakinya di parkiran SMA Bangsa termenung dalam pikirannya.

Banyak orang yang melihatnya dengan pandangan yang tak seperti biasanya, Athala biasa dijadikan pusat perhatian, tapi kali ini aneh.

Jangan lupakan bisik-bisik ketika ia melewati orang-orang. Ketika melewati koridor bagian kelas 10 ternyata semua orang masih melihatnya.

Athala berjalan cepat menuju kamar mandi yang sudah tak jauh lagi.

Ia mematut dirinya di depan kaca besar wastafel dan melihat keanehan dalam dirinya, memutar tubuhnya berkali-kali.

Athala menggeleng saat sama sekali tak ada yang berubah. Ada rasa enggan untuk keluar dari kamar mandi ini.

Perlahan kaki jenjangnya keluar dari kamar mandi, dan langsung berjalan dengan cepat. Athala tak nyaman bila dipandang dengan pandangan seperti ini.

Menatap orang-orang yang tengah bergerombol di dalam mading. Ketika ia mendekat anehnya semua orang malah bergeser menjauh dan tetap melihatnya dengan pandangan yang sama.

Matanya beralih menatap mading yang telah berada di hadapannya.

Athala terdiam seribu bahasa, berkali-kali ia susah payah menelan ludahnya. Gelengan kepala lirih yang mampu ia lakukan.

Dengan sekali hentak, ia merobek sesuatu yang baru saja ia lihat di mading tersebut.

Athala berjalan cepat tanpa menatap orang-orang yang ramai berbisik-bisik atas apa yang baru saja dilakukannya.

Ini alasan orang-orang menatapnya dengan pandangan yang tak biasa, siapa yang telah tega melakukan ini kepadanya.

Athala menaiki tangga dengan cepat, ada beberapa yang orang tak sengaja disenggolnya.

"Athala."

Athala menghentikan langkahnya, tangannya masih membawa sebuah kertas yang baru ia robek.

"Yang dimading itu?" Tanpa menjawab ucapan Ravel ia berlari dengan cepat.

Athala memejamkan mata ketika sudah dipandang aneh oleh teman satu kelasnya.

"Thal bener lo mantannya kak Alvonda yang ganteng itu?" tanya Bima sang ketua kelas.

Athala bergeming, ia duduk di bangku miliknya dan membuka sebuah buku tebal, tapi ketahuilah fokusnya hanya pada semua orang.

"Beneran ya, Thal?" tanya Dinda pula.

"Ini kalau di bikin konten ramai, Thal," ujar Bima sambil membawa kamera.

"Matiin kameranya," ketus Athala tanpa menatap Bima.

"Ini bakalan trending kali ngalah-ngalahin video kekey," sahut Bima tak peduli.

Athala mengepalkan tangannya.

"Gue bilang matiin ya matiin!" seru Athala menatap Bima.

Tentang Athala [PROSES REVISI] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang