20

319 34 6
                                        

Kopi lebih baik darimu, ia tak menyembunyikan pahitnya walau itu menyakitkan

***

Athala berjalan lunglai dikoridor rumah sakit. Pandangannya kosong.

Entah, ada hati dari mana ia memasuki ruang inap Citra sekadar melihat keadannya yang sekarang.

"Athala." ucap Eve yang berada di depan ruangan Citra.

Athala hanya menatap Eve sekilas. Ia kembali berjalan sambil membuka knop pintu.

"Thal, lebih baik—"

Athala melepaskan tangan Eve yang memegangnya dengan kasar tanpa memandang Eve.

Athala memasuki ruangan inap Citra yang langsung disusul Eve dibelakangnya.

Kakinya berhenti melangkah. Ia menatap tiga orang yang berada di dalam sana.

Athala tersenyum kemudian berlari meninggalkan ruangan tersebut.

"Athala!" teriak Eve.

Air matanya luruh ia menuju ruang inap mamanya. Memeluk mamanya yang belum sadarkan diri.

Isakannya keluar, hanya Athala yang berada di ruangan ini.

Apa yang telah dilihatnya menambah sakit hatinya. Untuk apa Doni berada di ruangan Citra yang sedang sakit sambil menyuapi Citra.

Sedangkan dengan mamanya, Doni acuh! Bahkan sama sekali tak peduli. Mamanya sakit lebih parah ketimbang sakit Citra. Athala tahu Citra dalam kondisi ini karena dirinya, tapi ia mohon untuk papanya selalu melakukan mamanya selayaknya.

Perempuan ini juga melihat seorang sekretaris Papanya. Berarti selama ini Shinta tahu dan menutupinya.

Seseorang telah berdiri memaku diambang pintu melihat putrinya memeluk istrinya sambil terisak.

Ia berjalan melangkah menuju Athala dan menepuk pundak Athala.

Athala menoleh, ia mengusap air matanya kemudian berdiri tegak.

"Ada perlu apa, Tuan Doni?"

Tersayat hati Doni ketika mendengar panggilan itu dari putrinya. Ia menatap seorang gadis yang hatinya sekuat baja.

"Papa—."

"Oh! Saya minta maaf atas perilaku saya terhadap Ibu Citra." sela Athala sambil mengulas senyum.

"Bukan gitu, Athala. Papa—"

"Gak papa kok katain aja saya apapun, saya bakalan terima."

Athala kembali menyela ucapan Doni.

"Asal jangan untuk Mama." lanjut Athala menatap Shera yang terbaring tak berdaya.

"Athala dengerin Papa—"

"Saya—".

"Please jangan sela ucapan Papa, Athala. Papa mau bilang daritadi kamu potong gimana ngomongnya." ujar Doni agak lantang agar tak terpotong oleh Athala.

Tentang Athala [PROSES REVISI] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang