Dia.

1K 101 26
                                        

"Lepaskan! Hanbin! Hanbin! Sehun brengsek! Bajingan! Iblis!" Wendy terus menangis memberontak seperti orang kesetanan, dia sudah tidak peduli dirinya sekacau apa saat ini, yang pasti dia hanya ingin menemui Hanbin dan bersamanya.

Brug!
Brakh!
Ceklek!

Wendy dilempar dengan kasar kedalam kamar, hingga dirinya terjatuh kelantai, dengan cepat ia berdiri dan berusaha keluar sebelum pintunya dikunci, tapi usahanya nihil, pintunya sudah lebih dulu terkunci.

Brakh! Brakh! Brakh!

"SIALAN KELUARKAN AKU! BUKA PINTUNYA! HIKS!" Dirinya terus menerus menggebrak pintu dan meminta untuk dibukakan pintunya.

"BUKA! HANBIN! BUKA!!! HIKS" sungguh tak ada harapan hidup apapun setelah melihat kejadian tadi, orang yang tak bersalahpun mati tragis karena masalahnya, Wendy jahat.

"Buka pintunya hiks... Aku mohon" suara Wendy semakin melemah, begitupun dengan tubuhnya, dia mulai menurunkan tubuhnya perlahan dan berakhir duduk dilantai yang dingin, berharap seseorang membukakan pintunya dan ia dapat melihat Hanbin lagi.

Bahkan sekarang bajunya pun belum diganti, darah yang masih berlumuran disekujur tubuhnya, Wendy tak peduli itu, sudah dikatan bahwa dia tak peduli sekarang dia sekacau apa.

"Tuhan kenapa kau tidak membunuhku sekalian? Kenapa tuhan? KENAPA!!!??" teriak Wendy diakhir kalimat, teriakkan yang menunjukkan ke frustasian, emosi, sedih, kecewa, segala rasa yang bercampur aduk dalam benaknya.

Wendy meringkukkan tubuhnya didepan pintu, punggungnya bersandar pada pintu, lalu lututnya yang ditekuk dan tubuhnya yang memeluk kakinya tersebut dengan kepala yang berada diantara kedua kaki.

"Bunuh aku tuhan hiks, aku mohon hiks, izinkan aku mati hiks, untuk kali ini saja hiks, tolong wujudkan keinginanku hiks, kenapa, kenapa kau tak pernah berpihak kepadaku?" Wendy terus bergumam dan menangis dalam ringkukkannya, berharap tuhan mendengarnya dan mengizinkannya untuk mati tanpa harus ada penghalang lagi.

Wendy mendongakkan wajahnya, melihat kearah kamar mandi, ia mengingat kata-kata Sehun yang akan mengurus dirinya setelah dirinya dikamar, kali ini ia berharap tuhan mendengar doanya.

Wendy berdiri, beranjak menuju kamar mandi, menguncinya, menyalakan air keran, tak ada kaca atau apapun disini, iya Sehun membuang seluruh kaca dikamar Wendy setelah kejadian Wendy yang ingin bunuh diri, hal itu bertujuan agar Wendy tak mencoba bunuh diri lagi.

Setelah melihat bathup penuh, dirinya mulai masuk kedalam bathup tersebut, air yang tadinya jernih kini bercampur dengan sedikit warna merah.

"Hiks hidupku sungguh hancur, biarkan aku mati dengan cara ini" Wendy langsung menenggelamkan dirinya kedalam bathup, air yang semulanya masih terlihat bening, walaupun sudah bercampur sedikit darah, kini benar-benar berubah menjadi warna merah, warna darah yang berasal dari sekujur tubuh Wendy.

Wendy membiarkan air keran terus menyala, membuat air yang berada didalam bathup banyak yang terbuang, dirinya mulai memejamkan mata, memikirkan betapa kejamnya dunia terhadapanya.

Tak ada lagi kebahagiaan, tak ada lagi kehangatan dari sosok Hanbin, tak ada lagi wajah Hanbin, dan tak ada lagi sosoknya, hilang, karena dirinya.

"Wendy-ya, sudah kubilang berapa kali, kau harus makan, jaga kesehatanmu, kau seorang dokter, bagaimana jika dirimu juga sakit? Siapa yang menyembuhkan orang lain?"

"Ini sudah larut, jangan biasakan pulang selarut ini"

"Jangan lupa untuk mencuci tanganmu sebelum makan"

Crazy Psychopath -Wenyeol- [TAMAT]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang