"Jangan pergi, temenin gue dulu disini. Gue sendirian."
⬇️️
Nada enggan melangkah dari tempat berdirinya sekarang. Gahra yang berdiri didepannya masih membujuk gadis itu untuk masuk kedalam rumahnya sekarang juga. Tetapi Nada bahkan tidak mau menyentuh pagar rumahnya.
"Nad, lo masuk. Ntar bokap lo malah makin khawatir." Ghara mencoba kembali membujuk. Memang tadi, Nada menceritakan semua kejadian membuatnya kacau selama ini kepada Ghara.
"Gue males ketemu Mira." Nada menundukkan kepalanya, walaupun sebenarnya ia sangat tidak nyaman dengan pakaian nya yang basah.
Ghara tersenyum lalu ikut menunduk untuk melihat wajah Nada dengan jelas. Gadis itu pun langsung menatap kedua mata cowok didepannya dengan canggung. "Lo masuk, istirahat, pagi nanti gue datang lagi. Kita berangkat sekolah bareng."
Tanpa persetujuan dari Nada, Ghara melangkah pergi dari sana karena jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Melihat punggung yang semakin menjauh itu, Nada kembali memanggil.
"Ghara, jangan pergi." Meski pelan, sangat pelan, ucapan Nada membuat Ghara membalikkan badannya seraya terkekeh. "Gue gak pergi jauh-jauh kok, nanti gue kasi nomor gue. Jangan kangen."
Nada tertawa, mengapa ucapan Ghara seperti dialog tokoh dalam film romantis? Gadis itu baper dibuatnya. Dan Ghara benar-benar pulang sekarang, itu artinya rumahnya tidak jauh dari rumah Nada. Itu kabar baik.
Dan dengan langkah tanpa suara, gadis itu masuk ke rumah dan segera ke kamar sebelum Mira atau ayahnya terbangun.
• • •
Cowok dengan topi dikepalanya itu bersembunyi di antara rumah-rumah orang. Nafasnya tersengal-sengal bersamaan dengan gerakan matanya yang bergerak mengawasi sekitar. Galuh mendesah panjang seraya mendudukkan dirinya sendiri.
Tidak akan ada yang menemukannya disini. Pandangan matanya tampak sangat lelah, semalaman ia hanya berlarian kesana kemari menghindari kejaran polisi. Jangan tanya apa yang sudah ia lakukan. Ia tidak melakukan apapun!
Malam itu, tanpa sepengatahuan darinya. Teman-teman bermain judinya diam-diam mengkonsumsi obat-obatan terlarang yang ia sendiri tidak tau jenis apa. Ah, mereka tak pantas disebut teman. Galuh mengusap wajahnya kasar, mengapa dirinya sangat sial malam itu.
Layar ponselnya retak akibat benturan yang tidak ia sengaja. Namun beruntung, baterai nya masih tersisa. Galuh menelpon Erza, oh iya, pagi-pagi begini cowok itu pasti masih berada disekolah.
Cowok itu berdecak kesal, ia akan ke sekolah ketika jejak nya sudah hilang dimata polisi. Se-sial itu kah hidupnya? Seolah menjadi buronan untuk kejahatan yang tidak ia lakukan sama sekali?
Galuh kembali mengambil ponselnya. Beberapa pesan yang belum ia baca ternyata sudah menumpuk. Sebagian besar teman-temannya menanyakan keberadaan cowok itu. Namun ada satu pesan yang menarik perhatiannya sejak awal. Pesan yang hanya berisi dua kata itu berbeda dari pesan yang lain. Pesan dari Reyhan?
• • •
"Woy curang lo!" Ujar Nada ketika Erza mengintip kartu yang ia pegang.
Angkasa yang sedari tadi diam akhirnya tertawa puas ketika melihat kartu yang ia pegang memiliki nilai lebih besar dibanding dengan kartu milik Nada dan Erza.
Eits, mereka tidak sedang berjudi. Hanya bermain kartu dengan mempertaruhkan uang. Sama aja Bambang!
"Semuanya! Pak Budi kesini woi, bawa gunting!!" Teriak salah satu siswa dari arah pintu kantin. Sontak seluruh siswa segera mengenakan atribut yang semestinya dan para laki-laki segera memoleskan Pomade ke rambut mereka agar terlihat lebih pendek dan rapi. Menghindari guntingan pak Budi.
"Ah! Bertingkah aja si tuyul." Geram Erza tanpa menghentikan aktivitas bermain kartunya. Nada juga tidak peduli, toh pakaiannya sudah rapi sejak ia bertemu Ghara.
"Heh kalian yang dipojok! Ngapain kalian?!" Suara teriakan pak Budi memekak telinga semua murid.
"Lagi main pak," jawab Erza santai seraya menunjukkan kartu-kartu ditangannya.
"Sekolah tidak memperbolehkan siswa membawa kartu beginian! Apalagi memainkannya menggunakan uang, apa kata orang-orang diluar sana melihat siswa SMA merah putih pandai berjudi?!" Omel Pak Budi tanpa membuat Erza, Nada maupun Angkasa menoleh.
"Lah, siapa yang berjudi? Orang kita lagi main doang, ketimbang mainin perempuan mendingan main kartu, ya gak?"
Seluruh siswa-siswi yang berada di kantin melotot mendengar jawaban Erza. Pak Budi yang sudah capek mengomel langsung berteriak keras. "KALIAN BEETIGA SAYA HUKUM SEKARANG JUGA!"
"Asyik,"
Tanpa keberatan sama sekali, tiga sekawan yang seharusnya empat itu langsung berjalan mengikuti pak Budi ke belakang sekolah. Sempat berpapasan dengan Lisa, Nada melambaikan tangannya ketika cewek itu menyapa. Ramah sekali orang itu.
Ketika sampai dibelakang sekolah, si kepala sekolah dadakan itu pun kembali berteriak. "BERSIHKAN HALAMAN INI SAMPAI BERSIH, KALAU GAK BERSIH, YANG BIKIN GAK BERSIH SAYA BERSIHKAN!"
Ngegas amat pak.
Setelah bapak itu pergi, Erza mulai berceloteh, "Ngomong apaan sih dia? Yang gue denger BERSIHKAN nya doang."
"Kerjain aja, kan bisa ngulur waktu sampe bel pulang." Angkasa akhirnya berubah menjadi semalas Erza.
Aktivitas bersih-bersih mereka pun dimulai. Halaman belakang sekolah yang terkenal sangat angker, tidak mengurangi semangat mereka sama sekali.
Bahkan dengan santainya Nada bernyanyi keras dengan suara melengking. Entahlah, sejak nomor Ghara sudah berada ditangannya, senyum diwajahnya terus terulas dan melupakan kejadian malam tadi.
"Everything means nothing if i can't have youu.."
Nada setengah berteriak ketika menyanyikan bagian lagu itu. Jiwa bucin nya langsung keluar!
"Dih, lagi jatuh cinta mbak? Liat-liat juga kali, ada yang cemburu loh." Erza malah menggoda Angkasa dengan menaik-turunkan alisnya.
Nada tertawa kecil, "Angkasa mana mungkin cemburu, kalo gue meluk Galuh aja muka dua tetep datar,"
"Lah itu kan Galuh, kalo Ghaa.." ucapan Erza sengaja ia gantungkan dan membuat sapu lidi yang berada ditangan Angkasa melayang ke arahnya.
"Apa katanya tadi? Nada mau meluk gue? Mau dong!"
Tiba-tiba sebuah suara menyahut dari arah tembok belakang. Sontak ketiganya menoleh bersamaan kearah kepala yang terdongak itu. Senyum khas dirinya ia pemerkan kepada teman-temannya terutama Nada. Dan tebak siapa?
"Woi Galuh kampret! Kemana aja lo!" Suara Erza duluan yang menyahut. Sedangkan Galuh masih menatap Nada yang juga terkejut dengan penampilan cowok itu.
• • •
KAMU SEDANG MEMBACA
Fake Girl
Novela Juvenil[in a SLOW UPDATE phase, sorry] Nada Athalia. Gadis manis yang sudah dikenal oleh seluruh siswa SMA Merah Putih. Sifatnya yang tidak bisa diam, sering bolos, dan suka menghisap rokok ini membuatnya menjadi langganan masuk ruang BK. Namun keadaan ber...
