"Pilih mana, cinta bertepuk sebelah tangan atau doi direbut temen sendiri?"
️⬇️
Bunyi air yang mendidih menyadarkan lamunan Nada. Segera gadis itu memasukkan mie instan ke dalam panci yang berisikan air dengan suhu tinggi itu. Pagi ini tak secerah hari kemarin, dan Nada yang tengah sendirian di rumah hanya memasak mie instan sebab hanya makanan itu yang tersedia di dapurnya. Hingga sekarang Mira belum menghubungi Nada, entah apa yang tengah dilakukan kakaknya itu hingga hilang kabar seperti sekarang.
Nada mendecakkan lidahnya sambil mengaduk-aduk mie yang telah terseduh di dalam panci, ia mungkin selalu jengkel melihat sikap Mira selama ini tetapi jika perempuan itu menghilang, Nada pun tidak yakin bisa hidup seorang diri seperti sekarang.
Ternyata pemikiran Nada mengenai ketenangan apabila Mira tidak ada itu meleset. Nada kesal mengakui kenyataan itu sehingga tangannya secara spontan bergerak cepat memasukkan bumbu-bumbu kemasan kedalam panci didepannya.
Bukankah ini semua tidak akan terjadi jika Ayahnya tidak berbohong dan tetap bersikap sama seperti dahulu. Mira terkadang melakukan sesuatu yang ia anggap benar padahal pemikirannya yang salah, dan sifat itu adalah keturunan dari Fery. Pria itu sering melakukan hal yang sama dan kesalahannya itu menjadi semakin parah sebab kebiasaannya mengkonsumsi alkohol. Ayahnya memang berhak menikah lagi sebab mereka tak lagi memiliki sosok ibu sejak lama, kesalahannya adalah cara berfikir Fery yang hendak menyembunyikan hal itu dari anak-anaknya dan akhirnya malah memperburuk keadaan.
Tangan Nada bergerak mematikan nyala api kompor sebab mie nya telah matang sempurna, namun pandangan gadis itu malah menerawang ke atas dan mengabaikan makanan yang sangat menggugah selera didepannya. Sejujurnya Nada juga tidak bisa menyalahkan Ayahnya, kesalahannya juga tidak menghentikan kebiasaan minum yang membuat pria itu sedikit gila sejak awal.
Decakan kembali keluar dari mulutnya, dilema ini sedikit mengusik kondisi mentalitas Nada. Bisa-bisa ia stress jika berfikir terlalu jauh.
Kondisi rumah yang sangat sunyi membuat suara sekecil apapun yang terdengar membuat Nada agak waspada. Berulang kali ia menolehkan kepalanya ke arah lantai dua rumah yang terlihat gelap sebab kondisi langit memang sedang mendung. Gadis itu menelan ludah ketika sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang seolah mendekat kearahnya.
Nada melangkah mendekati pintu belakang rumahnya yang sangat dekat dengan dapur, untuk memastikan ia menempelkan daun telinganya pada pintu dan suara itu tak lagi terdengar. Apakah tadi itu suara langkah tetangga belakang rumahnya? Tidak mungkin, Nada saja tidak pernah melihat penghuni di rumah belakang. Tangannya yang telah siap membuka pintu tiba-tiba terhenti. Jujur saja, Nada lebih takut pada orang yang menyerang dari belakang secara diam-diam dari pada orang yang jelas-jelas ingin menyakitinya.
Kenapa gue jadi penakut gini, sambil merutuki ketakutannya sendiri Nada cepat-cepat memutar kunci pintu dan bergerak mundur menjauhi media untuk keluar masuk itu. Senyap menguasai dan tak terdengar suara apapun lagi. Apakah tadi Nada hanya berhalusinasi?
Jegrek..
Jantung Nada berdegup sangat kencang ketika pintu depan rumahnya terbuka secara tiba-tiba. Secepat mungkin Nada menoleh dan dari tempatnya berdiri Nada dapat melihat sosok Mira melangkah masuk. Nyaris saja Nada berteriak sangkin terkejutnya. Mira yang seperti tidak menyadari keberadaan Nada di dapur mulai berjalan menuju tangga setelah melepas sepatunya, kakaknya itu terlihat sangat lelah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fake Girl
Fiksi Remaja[in a SLOW UPDATE phase, sorry] Nada Athalia. Gadis manis yang sudah dikenal oleh seluruh siswa SMA Merah Putih. Sifatnya yang tidak bisa diam, sering bolos, dan suka menghisap rokok ini membuatnya menjadi langganan masuk ruang BK. Namun keadaan ber...
