"Semakin luas lingkaran pertemanan, semakin tinggi pula resiko terlibat dengan masalah orang lain."
⬇️
"Lo kenal sama yang namanya Ghara?"
Hening, tak ada yang berbicara atau bergerak sedikit pun. Galuh yang masih waspada terhadap dua polisi yang tengah berpatroli meski jauh didepannya pun dengan sabar menunggu Prima berfikir. Bahkan ia tak berusaha melepaskan cekalan pria itu dan membiarkan detik demi detik berlalu dengan dilingkupi kesunyian.
Kemudian terdengar Prima berdehem pelan seraya mengendurkan cekalannya. Galuh pun segera membalikkan badannya untuk menghadap pria itu dengan satu alis terangkat, menuntut jawaban.
Prima terkekeh sejenak sebelum ia kembali mengeluarkan suara, "Ghara itu sama saja dengan kalian, bedanya dia tau lebih banyak tentang apa yang sudah terjadi dibanding kalian."
Kening Galuh sontak berkerut, ia sudah tau bahwa Ghara juga hendak menjatuhkan Pak Budi, tapi apa yang telah cowok itu ketahui dan tidak ia ketahui? Mendadak cowok itu kesal sebab pertanyaannya tidak dijawab dengan sempurna.
"Jangan memperumit, lo jawab dengan jelas pertanyaan gue." ujar Galuh pelan namun penuh penekanan.
Prima mengendus sesaat, "Posisinya disini saya yang sedang mengancam kamu, jangan tidak tau diri kamu jadi anak."
"Hah? lo kira gue setakut itu diancam? Gue ketangkep juga gak masalah," Galuh mengangkat kedua tangannya seraya tersenyum tipis. "Asal lo tau, gue gak pake apa-apa."
Prima memutar bola matanya seolah tidak peduli sama sekali dengan ucapan cowok yang masih berumur setengah dari usianya itu. "Hm, terserah, tidak akan berpengaruh juga kalau kamu tau."
Dibawah lampu jalan yang remang, pria itu membuka tiga kancing teratas kemejanya. Galuh yang tengah memperhatikan pun hanya mengernyit tak mengerti, namun seketika cowok itu menaikkan kedua alisnya ketika Prima menyibak kemejanya ke kanan dan memperlihatkan sebuah luka yang belum kering di bahunya. Luka tusuk serta beberapa sayatan terlihat jelas meskipun telah tertutupi oleh jaitan, bahkan bekas kemerahan terlihat di permukaan kulit pria itu.
"Ghara yang meninggalkan luka di bahu saya ini." ucapan Prima semakin membuat Galuh menatapnya tidak percaya. Benarkah Ghara yang dikenal dengan pribadi yang ramah dan bersahabat mampu melukai seseorang sejauh itu?
"Kamu mungkin tidak akan percaya, tapi saya sangat mengenal Ghara, bahkan sebelum dia berubah menjadi malaikat seperti sekarang." Prima membetulkan posisi kemejanya sambil memicingkan ke arah Galuh yang masih diam di posisinya. "Karena kamu bertanya saya akan jawab. Ghara pernah menjadi seperti iblis di masa lalu, atau mungkin dirinya dimasa lalu itu belum benar-benar hilang sampai sekarang?"
Galuh hanya mengangkat kedua bahunya berusaha untuk acuh, padahal pikirannya risau bukan main. Bagaimana jika yang dikatakan Prima adalah benar? Apakah tidak apa jika ia membiarkan Gahra tetap berada disekitar Nada? Dan sekarang yang belum terjawab, mengapa Ghara sangat ingin menjatuhkan Pak Budi?
Cowok itu kembali menatap Prima hendak melontarkan pertanyaan kembali, namun yang dilihatnya hanya punggung pria itu yang telah menjauh. Galuh menghela nafas berat sambil mengacak rambutnya frustasi. Bahkan untuk memutuskan saja ia kesulitan.
Seraya memejamkan mata, Galuh membalikkan badannya dan melanjutkan langkah gontai nya. Sekarang ia butuh mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya. Berbeda dengan Prima di sebrang sana yang seolah tak butuh istirahat saat ini, melainkan rencana baru yang kian berkembang di dalam otak liciknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fake Girl
Teen Fiction[in a SLOW UPDATE phase, sorry] Nada Athalia. Gadis manis yang sudah dikenal oleh seluruh siswa SMA Merah Putih. Sifatnya yang tidak bisa diam, sering bolos, dan suka menghisap rokok ini membuatnya menjadi langganan masuk ruang BK. Namun keadaan ber...
