"Coba aja lo ada rasa sama gue, bakal romantis kita."
⬇️
Angkasa merebut rokok yang hendak terbakar ujungnya itu. Pemantik api yang telah Erza nyalakan pun hanya membakar udara, mata cowok itu menatap Angkasa dengan tajam.
"Jangan ngerokok dikawasan sekolah, masalahnya panjang nanti." Angkasa memasukkan nikotin itu kedalam saku baju Erza. Si pemilik rokok pun hanya memutar bola matanya mengingat ganasnya pak Budi.
Disamping Angkasa, Nada tengah memangku dagu dengan kedua tangan. Tatapan gadis itu kosong, dan pikirannya jatuh pada kejadian tadi malam. Suasana kantin yang cukup ramai untuk ukuran pagi hari pun tidak mengalihkan pikiran Nada.
Galuh tidak masuk hari ini, Nada masih enggan berbicara dengan cowok itu, begitupun sebaliknya. Angkasa dan Erza pun tidak mempermasalahkan hal itu karena belakangan ini Galuh memang sering terikat masalah.
"Ke kelas aja yuk, mana tau ada yang mau bagi-bagi kunci jawaban ujian." Canda Erza seraya bangkit dari duduknya.
Angkasa ikut bangkit dan membalas ujaran Erza, "Beli aja kali,"
Melihat Nada yang masih melamun dan tidak menghiraukan kedua temannya, niat jahil Erza langsung muncul.
"Eh Nada, ada Ghara tuh,"
"Hah? Mana?" Spontan Nada ikut berdiri dan menoleh kekanan dan kiri. Erza tertawa keras melihat tingkah Nada dan Angkasa hanya menggeleng ketika Erza sukses menyedot perhatian seluruh siswa disekitarnya.
Detik selanjutnya Nada menyadari kesalahannya dan berjalan menunduk dibelakang kedua teman cowoknya. Tawa Erza masih samar-samar terdengar, membuat gadis itu semakin malu. Terlebih lagi jarak kantin dan kelasnya terbilang cukup jauh.
Pikirannya kembali terlempar pada kejadian tadi malam. Ketika semua orang termasuk Nada panik melihat Gahra yang sedang tidak berdaya seperti itu. Dan keadaan mulai mencair ketika Gahra dibawa ke klinik terdekat dan mulai sadarkan diri.
Gadis itu mengerutkan kening untuk dua hal, yang pertama karena saat itu Gahra tidak mau temannya menghubungi orang tuanya. Dan yang kedua karena adanya foto pak Budi disaku jaket cowok itu.
Namun tampaknya otak Nada sedang tidak ingin pusing, sehingga pikirannya malah menampilkan moment ketika gadis itu membersihkan beberapa bercak darah yang masih berada di wajah Ghara.
Moment berharga yang tidak akan pernah Nada lupakan.
"Jangan banyak gerak, ntar makin sakit." Ujar Nada dengan lembut. Ghara yang saat itu berada didepannya pun tersenyum tipis sambil menatapnya membuat gadis itu mengerjap bingung.
"Gue gak pernah punya temen yang cerewet kayak lo, jadi gini rasanya," ucapan Ghara membuat Nada menunduk malu. Padahal ketika didepan Angkasa, Erza dan Galuh gadis itu kan jauh lebih cerewet.
"Temen-temen gue, terutama yang cewek, pasti semuanya pada pura-pura baik. Pura-pura lembut tapi jatuhnya malah bikin gue ketawa."
Ucapan Ghara kali ini benar-benar membuat Nada tertunduk. Cowok itu tidak sedang membicarakan dirinya kan? Tangan Nada yang tengah memegang kapas berhenti bergerak. Gadis itu sungguh malu.
Tiba-tiba sentuhan hangat dari tangan Ghara padanya membuat Nada mengangkat kepalanya. Tangan Nada yang masih memegang kapas digerakkan oleh cowok itu agar melanjutkan aktivitas nya menghapus bercak darah diwajahnya. Kejadian itu diiringi dengan tatapan meneduhkan dari Gahra.
"Gue lebih suka seseorang buat jadi dirinya sendiri. Tanpa mendengarkan tanggapan orang lain." Seperti biasa, Ghara tersenyum diakhir kalimatnya. Sepertinya cowok itu tidak sadar masih menggenggam tangan Nada. Gadis itu pun refleks ikut tersenyum walaupun didalam hati ia berkata pedih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fake Girl
Novela Juvenil[in a SLOW UPDATE phase, sorry] Nada Athalia. Gadis manis yang sudah dikenal oleh seluruh siswa SMA Merah Putih. Sifatnya yang tidak bisa diam, sering bolos, dan suka menghisap rokok ini membuatnya menjadi langganan masuk ruang BK. Namun keadaan ber...
