PART 12

2.3K 86 2
                                        

"Iya gue nakal, gue aja gak tau sisi baik diri gue itu dimana."

⬇️

Ponsel yang berada di saku Nada bergetar. Dengan kewalahan gadis itu meraihnya dengan tangan kiri masih sibuk memakai sepatu. Nada mengernyit sesaat lalu menerima panggilan tersebut.

"Ngapain lo nelpon gue pagi-pagi?" ujar Nada lebih dulu sebelum si penelpon menyapanya.

Erza tertawa di seberang sana, "Hehe.. nanti malam jalan kuy."

"Apaan sih tiba-tiba?"

"Gue mau lo sama Galuh ketemu terus saling minta maaf—"

"Gak mau," Tolak Nada dengan cepat. Tangannya langsung memutuskan sambungan telepon meski Erza masih berbicara.

Gadis itu menyampirkan tas punggungnya dan berjalan keluar rumah. Tampaknya kemarin malam ayahnya tidak pulang sehingga Nada tidak perlu berpamitan. Dan seperti biasa, didepan gerbang Angkasa sudah menunggu diatas motornya.

"Emm, kemarin lo ngapain sama Galuh?" Tanya Nada sebelum melompat naik ke atas motor. Angkasa sedikit menoleh lalu menjawab dengan sangat singkat, membuat Nada bungkam tanpa berminat kembali menyahut.

"Makan,"

• • •

Erza berjalan menyusuri koridor dengan memanyunkan bibir. Sok imut. Beberapa siswi yang tengah berkumpul di pinggir lapangan basket menatapnya dengan aneh. Cowok itu sedikit kesal dengan Nada yang langsung memutuskan telponnya pagi tadi. Gadis itu sangat keras kepala!

Beberapa siswa mulai berkumpul di pinggir lapangan, Erza menyadari perubahan suasana yang ada disekitarnya. Mana pernah lapangan basket penuh disaat jam istirahat seperti ini, apa akan ada pertandingan?

Erza bersedekap sambil tersenyum sinis melihat siapa yang memasuki lapangan saat itu. Pantas saja semua orang datang, ternyata pak Budi tengah berada disana sambil memegang sebuah kertas yang berisi pengumuman.

Sialan, gue kira ada pertandingan basket cewek-cewek.

Bukannya mendengarkan kepala sekolahnya, Erza malah celingukan mencari keberadaan Nada. Tetapi bukannya Nada atau siswa lain, yang ia lihat  malah Ghara yang juga tengah berdiri tak jauh darinya, tengah bersama seorang gadis yang tak asing. Cowok itu mengerjap ketika Ghara dan gadis itu saling berbisik dan tertawa.

Erza mengusap tengkuknya, merasakan ada sesuatu yang telah ia lupakan. Sesuatu yang sangat penting. Menyangkut soal gadis itu, Gahra, dan seseorang. Kepala cowok itu berdenyut dan ia langsung berdecak seraya kembali mencoba mengingat siapa 'seseorang' itu.

"Aissh, kok gue gak inget sama sekali sih?" Gerutu Erza seraya masih melihat kearah Ghara yang masih berada ditempatnya. Kepalanya semakin berdenyut ketika pak Budi berbicara semakin keras, cowok itu segera melangkah membelah kerumunan dengan wajah memucat. 

Langkahnya sedikit lunglai ketika beberapa orang menabraknya dari arah berlawanan. Hanya karena ingin mengingat sesuatu saja kepalanya sesakit ini, apa itu sebabnya Erza tidak menjadi murid pintar?

"Eh, lo kenapa? Kok pucet?" Tiba-tiba seseorang menahan kedua bahunya hingga cowok itu mengangkat kepalanya.

"Oh, enggak papa. Pusing aja dengerin pak Budi," Balas Eza ketika Galuh menatapnya dengan heran. Ternyata cowok itu masuk sekolah lebih cepat daripada rencananya kemarin.

Fake GirlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang