"Kita gak pernah tau dendam apa yang dipendam orang lain, termasuk sahabat kita sendiri."
⬇️
Kegiatan belajar mengajar belum sepenuhnya dilakukan. Karena UAS hanya tinggal menghitung hari. Meski begitu mengapa tiba-tiba para anggota basket disuruh berkumpul lewat pengumuman?
Nada yang awalnya tenang-tenang saja membaca buku di kelas pun dengan malas melangkahkan kakinya menuju lapangan, ia terus menggerutu karena tak ada satupun yang masuk kedalam otaknya selama membaca buku. Langkah Nada terhenti ketika melihat Angkasa berjalan melewatinya, tatapan cowok itupun tak singgah padanya yang jelas-jelas menyapa. Dasar aneh, Angkasa selalu saja berubah-ubah.
"Mau kemana lo?" Tanya Nada mengikuti langkah Angkasa namun tetap tak ada sahutan dari cowok itu.
Gadis itu mendahului langkah dan menghalangi jalan Angkasa. Sambil berdecak ia menatap Nada yang mulai kesal, "Lo kenapa? Kok gue dicuekin?"
Tetap saja Angkasa tidak menjawab dan kembali melewati Nada. Merasa bodo amat dengan beberapa anggota basket yang sudah berkumpul, gadis itu tetap mengikuti langkah Angkasa yang ternyata menuju perpustakaan.
"Angkasa! Lo kenapa sih?!" Nada menangkap lengan cowok itu dan menggoyang-goyangkan nya. Saat beberapa langkah lagi menuju perpus, Angkasa akhirnya menoleh dan membalas tatapan Nada.
"Apa hubungan Ghara sama Pak Budi?" Tanya Angkasa dengan wajah datar namun tatapan lebih dingin. Perlahan Nada melepaskan pegangannya dan membuang tatapan.
"Gue gak tau, makanya dicari tahu." Jawabnya cepat. Terdengar Angkasa menghela nafas.
"Gue mau minta tolong sama lo." Angkasa pun mengalihkan pandangan dan ditangkapnya Erza yang tengah mendorong-dorong Galuh didepan perpustakaan. Entah apa lagi yang mereka lakukan.
Sedangkan Nada langsung mengerutkan keningnya, "Minta tolong apa?"
"Nada!" Teriak seseorang dari kejauhan, membuat atensi keduanya tertarik pada Lisa yang setengah berlari mendekat. Nafasnya pun tersengal-sengal ketika ia sampai dihadapan Nada.
"Semua anak basket udah pada kumpul, kok lo masih disini sih?"
"Ooh Iya, ini gue mau kesana kok." Sesaat Nada menoleh pada Angkasa yang hanya mengangkat kedua bahunya dan kembali melangkah menuju perpustakaan.
"Ayok cepetan!"
Sambil menarik lengan Lisa, Nada berjalan lebih dulu menuju lapangan. Padahal gadis itu jelas-jelas melihat bagaimana Lisa tak berhenti menatap punggung Angkasa.
Saat sampai di lapangan, keduanya segera bergabung kedalam barisan. Nada menatap Vino, cowok yang sepertinya ketua baru eskul mereka. "Pagi semuanya!" Sapanya berbasa-basi. Nada yang berada dibarisan paling belakang pun membalas dengan bermalas-malasan. Sedangkan Lisa berbaris agak jauh darinya karena ia termasuk kedalam tim inti putri.
"Hari ini gue mau menyampaikan beberapa pengumuman karena kegiatan eskul kita terhenti selama beberapa minggu ini." Nada tak benar-benar mendengarkan dan malah memperhatikan siswa-siswi yang cukup ramai di koridor, sampai Vino kembali melanjutkan kata-katanya.
"Gue rasa kesempatan tim putra buat ikut pertandingan bakal lebih sedikit karena kejadian kemaren, yang pasti kita bakal tetap tanding sama SMA Pelita." Vino berkata sambil menatap barisan para laki-laki yang hanya mengangguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fake Girl
Novela Juvenil[in a SLOW UPDATE phase, sorry] Nada Athalia. Gadis manis yang sudah dikenal oleh seluruh siswa SMA Merah Putih. Sifatnya yang tidak bisa diam, sering bolos, dan suka menghisap rokok ini membuatnya menjadi langganan masuk ruang BK. Namun keadaan ber...
