"Perasaan senasib, itu yang bikin gue masih disamping lo."
⬇️
Nada bergerak turun dari motor Erza, pandangannya tak terlepas dari rumah dengan dinding yang telah kusam didepannya. Erza yang tengah berdiri disamping gadis itu pun mengernyit sesaat, mulai meragukan keberadaan pemilik rumah itu.
"Permisi!" Teriak cowok itu yang sudah pasti terdengar hingga sampai kedalam rumah. Namun tak ada seorang pun yang menyahut apalagi menampakan diri di balik pintu utama rumah itu.
"Permisi! Selamat siang!" Tambah Nada yang juga tak mendapatkan respon apapun. Gadis itu menoleh ke arah rumah-rumah lain di sekitar rumah Pak Abdi, dan keadaannya hampir sama—sepi dan tak ada tanda-tanda keberadaan manusia.
"Sepi banget, udah gak ada yang tinggal disini kayaknya." ucap Erza seraya mengamati keadaan disekitarnya. Banyak pohon-pohon besar dipinggir jalan yang seharusnya sudah ditebang, rumah-rumah tetangga yang terlihat tak berpenghuni, dan suara kicauan burung-burung yang terdengar cukup keras. Mungkin kondisi wilayah ini sudah cukup rimbun untuk dihuni banyak binatang liar.
Nada menghela nafas, "Mungkin Pak Abdi udah gak tinggal disini lagi." Katanya yang langsung dibalas anggukan oleh Erza. Sesaat sebelum kalimat 'kita pulang aja' keluar dari mulut cowok itu, suara teriakan nyaring terdengar dari dalam rumah.
Nada menahan nafasnya ketika terikan itu semakin mengeras, teriakan yang menyiarkan penderitaan, ketakutan dan kemarahan dalam waktu yang bersamaan. Sedetik kemudian terikan itu berhenti hingga senyap menguasai. Nada dan Erza saling pandang sejenak.
Pintu utama rumah tersebut dibuka dari dalam dan seorang gadis yang terlihat lebih kecil dari mereka muncul dibaliknya. Gadis itu setengah berlari mendekati pagar rumah yang membatasinya dengan sepasang anak SMA itu.
"Maaf, kakak-kakak nyari siapa ya?" Suaranya yang lembut membuat Nada menarik senyumnya seketika.
"Ehm, kita dari SMA Merah Putih, bener ini rumahnya Pak Abdi?" Balas Erza yang disambut anggukan pelan dari gadis kecil itu. Wajahnya semakin terlihat sendu.
Nada ikut membuka suara, "Kita kesini mau ketemu sama Pak Abdi, soalnya ada urusan sekolah yang belum sempet kita selesain sampai Pak Abdi digantiin wakilnya."
Gadis itu terlihat ragu dan bingung, jari-jari tangannya saling bertautan sebelum kepalanya bergerak mengangguk. Pagar berkarat yang tingginya hanya mencapai pinggang itu dibukanya hingga berdecit ngilu, "Masuk kak,"
Nada dan Erza masuk bersamaan dan berjalan dibelakang gadis itu, sesekali Nada melebarkan langkahnya karena banyak tanaman-tanaman merambat yang tumbuh disekitaran halaman rumah itu. Setelahnya mereka bertiga menduduki bangku panjang yang berada diteras rumah.
Erza berdehem sebelum berbicara, "Jadi.. Pak Abdi sekarang ada dimana?"
Gadis kecil itu kemudian menghela nafas panjang, "Papa hilang kak,"
Baik Erza maupun Nada sama-sama tercengang. Padahal rencana awal mereka yaitu berbincang dan bertanya kepada Pak Abdi bagaimana Pak Budi bisa menggantikannya. Tapi sekarang?
"Hi..hilang? Maksudnya gimana?" Nada mendapati mata gadis kecil didepannya mulai berkaca-kaca.
"Papa hilang sejak 2 bulan yang lalu, aku juga gak terlalu ngerti tapi sejak sore itu Papa aku gak pernah pulang lagi kak," Gadis yang sudah pasti berstatus sebagai anaknya Pak Abdi itu menundukkan kepalanya. "Mama sama Om aku udah lapor polisi, tapi.. sampai sekarang belom ada kabar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fake Girl
Teen Fiction[in a SLOW UPDATE phase, sorry] Nada Athalia. Gadis manis yang sudah dikenal oleh seluruh siswa SMA Merah Putih. Sifatnya yang tidak bisa diam, sering bolos, dan suka menghisap rokok ini membuatnya menjadi langganan masuk ruang BK. Namun keadaan ber...
