"Jadi kita akan mengirim ATCKers sesuai kelompok mereka dulu dan membaginya ke 7 Territory. Benar kan?" tanya Jaehyun.
Luka cakaran pada lelaki itu sudah sembuh, meski perban putih masih melingkar di perutnya. Sekarang ia, Taeyong, Namjoon, Mark, dan ketua dari setiap divisi, tengah melakukan rapat di ruangan Taeyong.
"Iya. Pengecualian kelompok Lee Jeno. Kurasa 2 anggota lainnya harus digabungkan ke kelompok lain," kata Namjoon.
Mereka semua yang ada di situ langsung menunjukkan ekspresi yang seolah-olah mengatakan 'Oh iya'.
"Kasihan sekali mereka harus kehilangan anggota berturut-turut," kata Jennie.
Yang lainnya pun ikut menganggukkan kepala setuju.
"Hhh... Kalau begitu rapat kali ini bisa kita akhiri. Aku kubari lagi jika ada rapat lain. Terima kasih," tutup Taeyong.
Satu persatu dari mereka berdiri dari kursi masing-masing dan keluar dari ruangan Taeyong.
"Jo Haseul! Sebentar!" panggil Taeyong.
Haseul yang tadinya masih menunggu giliran keluar sambil bicara dengan Jennie pun langsung menoleh.
"Ada apa?" tanyanya sambil berjalan mendekati Taeyong.
"Ah itu... Jinsoul, kenapa dia tidak ingin datang ke rapat ini?"
Haseul mengangkat kedua alisnya, "Sejak kepergian Han, dia sering menyalahkan dirinya sendiri dan sering tidak fokus. Dia bilang hari ini dia sedang tidak ingin diganggu," jelas Haseul.
Taeyong mengangguk, "Begitu... Baiklah, sampaikan salamku padanya. Dan hibur dia ya,"
Haseul mengangguk singkat, kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan Taeyong.
"Namjoon, berapa ATCKers yang masih berada di ruangan divisi Healer?" tanya Taeyong ketika Haseul sudah keluar dari ruangannya.
"Hanya tinggal satu, Shin Ryujin. Sebenarnya kemarin ia sudah boleh keluar. Tapi karena shock, dia masih dirawat di sana. Somi bilang hari ini dia sudah bisa keluar," jelas Namjoon.
Taeyong mengangguk, "Baiklah. Kalau begitu, besok kita bisa langsung melaksanakan misi ini. Semoga saja lawan kita tidak terlalu bahaya. Aku ingin semua bisa keluar dari sini,"
"Tentu saja. Aku akan ke ruangan divisi Hunter sebentar untuk mengecek sesuatu," kata Namjoon yang kemudian langsung melangkah pergi.
Ketika Namjoon sudah menutup pintu ruangan itu, tiba-tiba saja Mark tertawa keras. Membuat Taeyong sedikit tersentak.
"Ya! Mark Lee! Suara tertawamu itu benar-benar tidak bisa dikontrol ya?!" bentak Taeyong.
Mark masih terus tertawa. Bahkan tubuhnya sudah ambruk di salah satu kursi terdekat.
"Oh my gosh, Lee Taeyong!"
"Kenapa sih?!" gerutu Taeyong kesal.
Tawa Mark sedikit mereda. Mark menyeka air mata di sudut matanya dan sedikit terengah-engah. Tangan kanannya memegang perutnya yang terasa sakit setelah tertawa.
"I can't believe—those words—came out from you—Lee Taeyong, the most cruel person I know so far. You should become an actor you know?"
Setelah mengatakan kalimat itu Mark kembali tertawa. Membuat Taeyong mendengus geli.
"Maybe I should," kata Taeyong dengan senyum miring di wajahnya.
"Oh, I think. We should," tambahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[2] ATTACK's Series: SECOND ATTACK ✔
Fanfiction[红] Second Book of ATTACK's Series "There always be a second chance. Can we save them?" Permainan ini belum selesai. Mereka masih memiliki kesempatan, untuk membawa teman mereka kembali. Tapi apakah benar itu tujuan utama dari permainan kedua ini? (...
![[2] ATTACK's Series: SECOND ATTACK ✔](https://img.wattpad.com/cover/211037113-64-k135724.jpg)