[红] Second Book of ATTACK's Series
"There always be a second chance. Can we save them?"
Permainan ini belum selesai. Mereka masih memiliki kesempatan, untuk membawa teman mereka kembali. Tapi apakah benar itu tujuan utama dari permainan kedua ini?
(...
"Aisha divisi Guardian. Ditembak saat membantu divisi Hunter mencari bahan makanan,"
Heejin mengangguk paham, "Thank you Chaeryeong," kata Heejin sebelum perempuan itu berjalan pergi.
Heejin menghela napas ketika mendengar kabar dari Chaeryeong. Sejak kejadian Yeji ditembak, banyak ATCKers yang menjadi korban selanjutnya.
Entah itu ditembak, diracuni, dikejar hewan liar, dan masih banyak lagi teror yang mereka hadapi.
Apa yang dikatakan Jisung malam itu benar adanya. Para cyborg sudah mulai mengawasi mereka.
Tapi, untungnya semua masih bisa diselamatkan, meski waktu itu ada salah satu ATCKers yang nyaris mati. Untung saja ramuan Jinsoul bekerja.
"Jinsoul..." gumam Heejin tiba-tiba.
Lagi-lagi dia merasa seperti deja vu. Rasanya sangat tidak nyaman. Ketika kamu merasa kenal dan tidak kenal pada seseorang di waktu yang bersamaan.
Heejin yakin dia pernah—setidaknya bertemu dengan Jinsoul. Lalu, Kim Lip. Dia ingat mereka pernah berteman selama seminggu, sewaktu mereka bertemu di kafe.
Lalu, hari itu Kim Lip bilang akan pindah. Mengejutkannya lagi, Heejin baru tahu kalau Kim Lip itu werewolf, ketika mereka bertemu lagi di ATTACK Game. Itu pun ia tidak pernah bertegur sapa dengan Kim Lip.
Siapa lagi? Ah... Lee Jeno. Heejin ingat, sewaktu masih di ATTACK Game, ketika grup Jeno tiba-tiba menyerang markas mereka, Heejin merasakan gejolak aneh dalam dirinya.
Terutama ketika mereka satu lawan satu. Yang pada akhirnya menyebabkan Nakyung mati. Oh tidak, perempuan itu tidak mati. Hanya sebatas rekayasa para creator.
Lalu, ketika Jeno mengajaknya bicara di malam Alea jacta est. Suara dan sorot mata Jeno membuat Heejin merasakan gejolak tidak nyaman dalam dirinya. Meski akhirnya ia melupakan rasa tidak nyaman itu dan lebih fokus pada grupnya.
Tapi, sekarang, rasa tidak nyaman itu tidak bisa ia lupakan. Kadang terlintas sekelebat memori di pikirannya secara tiba-tiba.
Rumah kosong dengan kesan mengerikan, dirinya sendiri ketika sedang berjalan di sebuah kompleks perumahan yang gelap dan aneh. Semua itu muncul di pikirannya.
Oh, ia juga pernah melihat Na Jaemin di pikirannya. Tapi, ia merasa tidak pernah bertemu dengan Jaemin di masa lalu. Atau mungkin karena ia belum pernah bertegur sapa dengan Jaemin di masa sekarang jadi Heejin tidak bisa merasakan perasaan tidak nyaman itu.
"Hh... Pusing," gumam Heejin pelan.
Ini benar-benar menyiksa, sungguh. Heejin bukan orang yang pelupa, apalagi soal kejadian di masa lalu.
Dia terus berusaha mengingat-ingat masa lalunya sendiri. Berusaha mencari siapa itu Jinsoul, Kim Lip, Jeno, Jaemin, dan Mark. Apa benar mereka pernah bertemu?
Tapi, hasilnya, yang selalu ia ingat hanya persahabatannya dengan Gowon. Tidak lebih.
Rasanya seperti dihipnotis supaya ia melupakan semua masa lalunya.
Mark pernah bilang ia akan mengingatnya suatu saat nanti. Kalau begitu, Mark tahu sesuatu kan?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.