33

374 79 6
                                        

Keesokan harinya, sekitar jam 4 pagi, seluruh ATCKers dibangunkan dari tidurnya.

"Engh... Kok pagi banget sih?" protes Haechan ketika Nakyung membangunkannya.

"Bang Chan sama Doyoung udah liat tanda-tanda penyerangan. Kita harus siaga," kata Nakyung sambil beralih membangunkan Guanlin.

Ketika semua ATCKers tidur semalaman, Bang Chan, Doyoung, Taeyong, dan Namjoon tetap bangun untuk berjaga-jaga di ruangan divisi Informant.

Dan ternyata sekitar jam setengah 4 pagi, Doyoung menemukan beberapa radar aneh di sekitar daerah Desert.

Jadi Taeyong langsung meminta Namjoon untuk membangunkan semua ketua divisi.

"Heejin... Bangun. Kita harus siap-siap," kata Nakyung sambil sedikit mengguncangkan tubuh Heejin.

"Kenapa—"

BLAAAAR!

Suara ledakan itu membuat mata Heejin langsung terbuka lebar. Nakyung dan Heejin saling tatap satu sama lain.

Kemudian keduanya berlari ke arah jendela yang ada di ruangan itu. Di bawah sana, beberapa ATCKers tampak berlarian dengan panik.

"Semua ATCKers segera bersiap! Penyerangan akan dimulai!

"Woy! Cepetan keluar!"

Samar-samar mereka bisa mendengar suara ribut dari bawah dan luar ruangan. Rasa kantuk pada Heejin langsung menguap begitu saja.

Ia langsung berdiri, "Gue siap-siap dulu. Lo bangunin lagi aja si Guanlin sama Haechan," kata Heejin sambil menunjuk Guanlin dan Haechan yang masih tertidur.

Heejin keluar dari ruangan dan bersiap-siap. Setelah selesai, ia tidak kembali ke ruangan mereka, tapi langsung ke lapangan.

Dia bisa melihat beberapa ATCKers sudah berlari memasuki hutan. Bahkan di beberapa tempat, sudah ada yang mulai menyerang.

Tapi itu bukan cyborg. Sepertinya itu zombie? Atau hewan liar? Entahlah Heejin juga tidak tahu pasti.

"Jeon Heejin!"

Heejin menoleh dan melihat Jaemin berlari ke arahnya. Di tangannya terdapat dua buah senapan dan di sabuknya ada beberapa pisau kecil.

"Nih, buat kamu," kata Jaemin sambil melempar salah satu senapan yang ia pegang.

Heejin menangkap senapan itu dan melihatnya cukup lama.

"Kenapa? Kamu curiga ada sesuatu di senapannya?" tanya Jaemin sambil tertawa kecil.

Heejin menggeleng, "Terus, sekarang kita harus apa?"

"Tadi aku tanya si Jaehyun, katanya yang udah siap disuruh nyegah musuh di sekitar Central dulu,"

"Yaudah, ayo! Bantuin yang lain," kata Heejin sambil berlari ke belakang Central.

"Heejin tungguin!"

Jaemin segera mengejar Heejin. Dia langsung terperangah ketika di bagian belakang sudah ramai—dengan zombie dan hewan yang menggila.

Jaemin juga bisa melihat Heejin yang sudah menyerang beberapa musuh yang mendekatinya—sendiri.

"Ini kenapa nggak ada ATCKers yang di belakang sih?! Jaemin jangan berdiri doang! Sini cepetan!" seru Heejin sambil menendang salah satu zombie yang menahan kakinya.

Jaemin pun mengangguk cepat dan segera berlari menghampiri Heejin. Segera saja, beberapa musuh yang tadinya mendekati Heejin, langsung beralih ke arahnya.

Dalam hitungan menit semua musuh itu sudah mati di tangannya. Apa kalian lupa kalau Jaemin itu termasuk anggota The Killer?

"Woah, mantap Jaem," kata Heejin sambil mengusap keringat di dahinya.

Jaemin tersenyum bangga, "The Killer nih..."

"Oh iya juga. Sampe lupa kalo kamu salah satu dari mereka. Gimana masalahmu sama mereka? Udah selesai?" tanya Heejin.

"Ya gitu deh. Jadi agak canggung aja sekarang," kata Jaemin.

Grrrraaawwwwww...

Mereka berdua langsung menoleh ke arah hutan lagi. Ternyata masih ada musuh yang berdatangan.

"Ayo, kita lawan lagi!"

"Kim Doyoung! Coba cek lagi penyerangan awal perkiraan bertahan berapa lama!" seru Bang Chan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kim Doyoung! Coba cek lagi penyerangan awal perkiraan bertahan berapa lama!" seru Bang Chan.

Doyoung langsung sigap mengutak-atik komputernya. Matanya tidak lepas dari komputer sejak kemarin malam. Begitu pula Bang Chan. Ada lingkaran hitam di bawah mata keduanya.

"Kalau dilihat dari pola dan perkiraanku sendiri, penyerangan pertama setengah jam. Setelah itu ada semacam waktu kosong 15 menit. Lalu lanjut penyerangan kedua," jelas Doyoung.

Bang Chan mengangguk. Kemudian ia mengirim pesan kepada Taeyong lewat komputernya dan menjelaskan perkiraan waktu penyerangan.

"Doyoung, kamu bisa ngelacak musuh utamanya nggak?" tanya Bang Chan.

Doyoung menggeleng, "Itu di luar kemampuan kita Chan. Itu sistem dari creatornya,"

Bang Chan mengangguk kecewa dan kembali berkutat dengan komputernya.

"Eh Chan, keliatannya penyerangan pertama udah hampir selesai. Ini sudah tidak ada musuh yang datang ke arah Central,"

"Kita tinggal nunggu perintah Taeyong yang selanjutnya aja. Semoga yang terjadi di game sebelumnya, nggak terjadi lagi sekarang," kata Bang Chan sambil menatap komputer di hadapannya dengan tatapan kosong.

Diam-diam Doyoung mengangguk setuju. Kejadian di game sebelumnya jelas membuatnya ketakutan dan trauma.

"Better to die than tortured,"

Ide author macet lagi coba :"( maap baru update

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ide author macet lagi coba :"( maap baru update.

Author mau ngucapin banyakkkkkkk makasih ke kalian semua. Udah mau baca cerita author sampe sejauh ini, udah mau kasih vote dan comment :) makasih bangettt, itu bener-bener berharga buat author sendiri eaaa :v

Thx for ur support, jaga kesehatan :)

[2] ATTACK's Series: SECOND ATTACK ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang