"Haechan... Lo kemana sih?!" gerutu Heejin kesal karena daritadi ia masih belum menemukan temannya itu.
Dia menjadi penasaran kenapa Haechan bisa menghilang begitu saja, padahal dia juga belum terlalu kenal dengan tempat ini.
"Apa dia udah ketemu sama yang lain? Yah sialan Haechan gue diselingkuhin," gumam Heejin kesal.
Heejin berjanji jika bertemu dengan Haechan, dia akan langsung menjitak anak itu habis-habisan karena sudah meninggalkannya.
Lama-lama Heejin merasa bosan karena terus mengelilingi tempat yang sama berulang kali. Bahkan beberapa orang di sana mulai menatapnya aneh.
Ketika dia melewati beberapa deret ruangan, salah satu pintu ruangan itu terbuka dan seseorang keluar dari sana.
"WEH! LEE DONGHYUCK!" teriak Heejin.
Sementara Haechan yang mendengar seseorang memanggil namanya itu langsung menoleh. Ia melihat Heejin yang berjalan mendekatinya dan wajah tak bersahabat.
Ditambah tadi Heejin memanggilnya dengan nama aslinya. Dia pasti benar-benar marah sekarang.
"E-eh nyai... Dicariin juga," kata Haechan sambil tertawa gugup.
Tanpa basa-basi, Heejin langsung melaksanakan janjinya tadi. Beberapa jitakan dan pukulan dihadiahkannya pada Haechan.
"AW! IYA MAAF! NYAI MAAFKAN HAMBA! ADUH!"
Setelah puas dengan perbuatannya, Heejin tersenyum bangga.
"Akhirnya tangan gue nggak gatel lagi. Lo kemana aja sih?!"
Haechan tersenyum penuh arti, "Lo nggak bakal nyesel gue ngilang,"
Bertepatan dengan itu, Heejin bisa melihat seseorang keluar dari ruangan yang sama dengan Haechan.
"Chan? Lo kentut lama amat—Eh Heejin,"
"Guanlin!" Heejin langsung menghampiri Guanlin.
Dia memeluk lelaki itu dan dibalas pelukan serta usapan di kepalanya.
Heejin melepas pelukannya dan menatap Guanlin yang jauh lebih tinggi darinya, "Lo ngilang kemana sih?"
Guanlin tertawa kecil kemudian mengangkat kedua bahunya singkat, "Pas bangun, tau-tau gue ada di pinggiran pantai gitu,"
"Kok tempatnya bisa beda-beda gini sih?" protes Heejin.
"Udah itu nggak penting lagi jin. Lagipula gue lebih bersyukur bukan lo yang sendirian," kata Guanlin.
Heejin mengangguk menyetujui perkataan Guanlin.
"Eh jin kita masuk ke ruangan itu dulu. Tapi, lo jangan kaget atau reaksi apa-apa ya," kata Haechan.
"Emangnya kenapa?"
Haechan dan Guanlin tidak menjawab. Guanlin mendahului untuk masuk ke ruangan itu, sedangkan Haechan berada di belakang Heejin.
"Emangnya kenapa sih—lhah..."
Heejin yang tadinya akan masuk ruangan itu, jadi enggan. Ia hendak pergi dari situ, tapi Haechan sudah mencegat Heejin di pintu.
"Haechan, minggir," kata Heejin datar.
Haechan menatap Heejin, "Jin, plis. Dengerin mereka dulu. Lo juga harus tau alesan mereka,"
Heejin mendecak, "Gue nggak akan mau dengerin mereka. Sekarang, minggir," kata Heejin tegas.
Haechan menggeleng. Ia segera masuk ke dalam ruangan itu dan mengunci pintunya. Ia meletakkan kunci itu di sakunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[2] ATTACK's Series: SECOND ATTACK ✔
Fanfiction[红] Second Book of ATTACK's Series "There always be a second chance. Can we save them?" Permainan ini belum selesai. Mereka masih memiliki kesempatan, untuk membawa teman mereka kembali. Tapi apakah benar itu tujuan utama dari permainan kedua ini? (...
![[2] ATTACK's Series: SECOND ATTACK ✔](https://img.wattpad.com/cover/211037113-64-k135724.jpg)