[红] Second Book of ATTACK's Series
"There always be a second chance. Can we save them?"
Permainan ini belum selesai. Mereka masih memiliki kesempatan, untuk membawa teman mereka kembali. Tapi apakah benar itu tujuan utama dari permainan kedua ini?
(...
Heejin masih sedikit shock melihat orang berjubah hitam tadi. Dengan segera ia berlari ke lapangan bawah, meski orang itu sudah menghilang. Siapa tahu orang itu kembali kan?
Heejin berlari ke samping Central, tempat dimana ia melihat orang berjubah tadi.
Tanpa ragu ia sedikit memasuki kawasan hutan di samping dan melihat ke sekitarnya. Tidak ada siapa-siapa.
Ia benar-benar penasaran dengan orang itu. Apalagi wajahnya yang samar-samar mirip Huang Renjun. Atau—memang Huang Renjun?
Kalau begitu, artinya Renjun belum mati kan? Tapi tidak mungkin. Heejin melihat Renjun ditelan api dengan matanya sendiri.
"Renjun..." panggil Heejin pelan.
Tap!
"HWAA!"
"E-eh maaf. Aku nggak tau kamu bakal sekaget itu,"
Heejin menatap orang di belakangnya dengan wajah blank. Dia masih kaget karena tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya.
"Hwang Yeji!" seru Heejin kesal.
Yeji tertawa, "Maaf maaf. Lagian kamu ngapain sih di sini?"
"Eh itu... Cuman mau jalan-jalan aja," kata Heejin mencari alasan.
"Lebih baik kau kembali saja. Di sini bahaya kalau kau tidak membawa senjata apapun," kata Yeji.
Heejin melirik sekilas hewan buruan yang ada di tangan kiri Yeji dan bergidik ngeri melihat darah di seluruh tangan temannya itu.
"Habis berburu?"
Yeji melihat hewan di tangannya dengan senyuman puas, "Iya. Tadi sempat berebut dengan Sihyeon si werewolf itu. Tapi akhirnya dia mengalah,"
Heejin mengangguk pelan sambil terus memperhatikan hewan yang sudah mati di tangan Yeji itu. Siapa tahu hewan itu tiba-tiba hidup lagi.
"Yaudah. Sekarang kau segera kembali saja ke Central. Aku harus mencari bahan makanan lain,"
Heejin mengangguk kaku dan langsung berpamitan untuk kembali ke Central. Kebetulan sekali ia berpapasan dengan Haechan.
"Lee Haechan! Haechan! Woe!"
Haechan pun menoleh dan melihat Heejin berlari-lari dari arah hutan. Haechan langsung panik, apa jangan-jangan Heejin dikejar babi hutan?
"Lo kenapa? Dikejar celeng? Sini ke belakang gue!" seru Haechan sambil menarik Heejin ke belakangnya.
Haechan mengacungkan ranting kayu yang entah ia dapat darimana dan mengacungkannya ke arah hutan itu.
Heejin pun mengernyit bingung, "Lo ngapain?"
"Ngelindungin lo lah!"
"Hah? Dari apaan?"
"Celeng,"
Heejin merotasikan bola matanya dan mematahkan ranting kayu yang dibawa Haechan.