45: Baikan

10.3K 921 122
                                        

45: Baikan

°°°

Sekitar pukul 18:30 PM, Varo ke rumah Natasya untuk mengajaknya keluar. Tentunya menepati janjinya untuk menjelaskan duduk permasalahan mereka soal tadi siang.

"Kamu kok cemberut gitu? Bajunya juga biasa banget lagi. Kamu mau jalan sama Varo, kan?" Lisa berdiri saat putrinya turun dari kamarnya.

Mungkin dia merasa bingung karena biasanya saat Varo mengajaknya jalan, dia akan cenderung excited sekali, namun kali ini tidak. Ia hanya memakai baju kodok sependek lengan dan lututnya dengan rambut yang dikucir menjadi satu.

"Gak apa–apa, kok," jawabnya singkat, supaya Lisa tidak terlalu curiga.

"Hati–hati, ya." Lisa menyerahkan tangannya untuk Natasya salami.

"Iya."

Mereka berjalan menuju ke teras rumah, di mana di situ ada Varo yang sedang duduk sambil memainkan handphone-nya.

"Eh, ada tante?"

Cowok itu berdiri dan menyakukan benda pipihnya ke dalam saku celana jeans-nya. Kemudian menyalami Lisa sambil tersenyum. Sementara Natasya malah menampilkan wajahnya yang tidak ada secercah senyum pun.

"Kenapa, nih? Kok pada diem-dieman gini? Lagi ada masalah?" tebaknya.

"Nggak, Mi. Udah ya, takut kemaleman. Bye, Mi."

Mereka berjalan beriringan menuju motor Varo. Lisa mengernyitkan dahinya, namun dia tidak mau ikut campur masalah percintaan putrinya. Dia masuk ke dalam rumah.

"Langsung ke restoran ya? Atau kamu mau ke mana?" tanya Varo sambil memakai helm fullface-nya.

"Terserah deh."

"Hffft," Helaan napas Varo terdengar oleh kedua telinga Natasya, "jawabannya cewek banget. Kalo ditanyain jawabnya terserah. Jangan terserah dong,"

Natasya masih menatap ke arah gerbangnya. "Udah? Yuk,"

"Jangan cuekin aku, dong. Aku pengin kamu senyum. Aku kangen kamu jutekin. Aku gak suka kamu cuek," ujarnya.

"Iya," jawabnya singkat sambil berdiri mencoba menampilkan fake smile-nya.

Varo tahu sulit untuk Natasya tersenyum saat ini. Dia cewek. Pasti selalu merasa sedih jika masalah dengan cowok belum kelar.

Seenggaknya gue udah berusaha senyum. Meskipun berat, Ro. batinnya.

°°°

Natasya mengernyitkan dahinya saat motor Varo berhenti di tempat ini. "Katanya ke resto? Kok ke taman kota?" tanyanya heran.

Motor Varo terparkir di bawah pohon beringin yang rindang. Mereka duduk di tepi pohon itu. Melihat di tengah taman banyak sekali anak–anak yang berlarian dan beberapa pasang kekasih yang sedang jalan berdua.

Varo melirik ke Natasya yang masih enggan membuka suaranya, bahkan enggan tersenyum kepadanya. Dia menghela napasnya. Apakah Natasya marah karena cemburu atau karena hal lain? Varo sulit menebak perasaannya.

"Mau beli es krim?" tanya Varo memecah keheningan di antara mereka.

"Nggak usah."

"Iya aja."

Varo berjalan meninggalkan Natasya sebentar. Tukang es krimnya tidak terlalu jauh karena hanya berjarak lima langkah dari empatnya duduk. Dia mengamati Varo dari belakang sambil mengayunkan kakinya.

ALVALERRON ✓ [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang