Sebuah catatan tentang jejak dan nilai perjuangan tanpa cela, dalam rangkaian kisah kehidupan seorang pejuang mengejar tiga kemerdekaan yang diimpikannya. Saat ini Anda sedang membaca Buku Kelima yang mengisahkan tentang perjuangan lain yang harus d...
Kamis, 10 Oktober 2019. Pukul 15:00 WIB. Widarto sudah berada di ruang Bedah Vaskular. Doa semua anak mengiringi seluruh proses pembedahan Widarto di sore hari itu. Akses vaskular eksternal yang baru, diposisikan di bagian leher. Sedangkan akses vaskular eksisting yang berada di paha kanan tetap dibiarkan sebagai cadangan. Malamnya Widarto nampak lebih tenang.
Jum'at pagi, 11 Oktober 2019. Widarto sudah bisa menjalani terapi hemodialisa kembali. Beberapa kali alarm mesin dialisis berbunyi menandakan ada gangguan aliran darah dari dan ke arah mesin dialisis. Tapi semua bisa segera diatasi dengan penyesuaian posisi lumens dan menekan tombol reset.
Hingga malam harinya nafsu makan Widarto belum kembali normal, ia hanya bersedia minum susu, itu pun dalam jumlah yang terbatas karena ada rasa mual yang menyertai.
Seorang perawat menyerankan Yanti untuk memberikan putih telur ayam kampung yang diblender dan dicampur susu kepada Widarto.
Namun perjuangan dan daya tahan Widarto hari itu, nyaris menghilangkan makna dari kata dasar 'sakit' yang dipahami oleh semesta bahasa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.