Ayah Memang Pejuang

58 3 0
                                        

Pukul 14:00 WIB. Widarto tiba di ruang hemodialisa. Monitor dialisis berkali-kali menampilkan pesan error. Berkali-kali pula perawat terlihat memperbaiki posisi dan koneksi lumens, serta mengatur ulang mesin dialisis. Semua anggota keluarga diminta menunggu di luar ruangan, hanya Nico yang bertahan di dalam. 

"Tungguin terus Co," pinta Yanti yang terlihat panik.

Pukul 14:31 WIB. Nico sedang mengamati sepintas grafik ECG di monitor, fluktuatif 90 sampai 100, tingkat pernafasan 16, tapi tingkat kejenuhan oksigen masih selalu mendekati 100%. 

Proses hemodialisa yang baru saja berjalan stabil tiba-tiba error lagi. Reset lagi!

Pukul 14:36 WIB. Yani bertanya via WA, "Gimana kondisi ayah?"

Pukul 14:37 WIB. Pop-up error lagi! Mesin dialisis direset dan proses hemodialisa kembali stabil.

Pukul 14:57 WIB. Tensi Widarto mendadak drop ke 74 per 36 mmHg. Grafik ECG sempat menembus angka 186. Dokter langsung melakukan evaluasi lalu menjelaskan kepada Nico, bahwa proses hemodialisa akan dihentikan sementara, sampai tekanan sistolik naik menjadi 100 mmHg. Melihat situasi terakhir itu, Nico segera membatasi hanya istri, anak dan mantu yang boleh masuk ke ruangan itu.

Pukul 15:06 WIB. Nico baru bisa memberi informasi balasan kepada Yani, "Hemodialisa lagi hold sampai sistolik bisa balik ke 100 mmHg, jika belum berhasil akan dikembalikan ke ICU."

Pukul 15:21 WIB. Tekanan sistolik mulai menyentuh angka 98 mmHg, tapi kesadaran Widarto terlihat menurun, tak ada respon terhadap sentuhan fisik yang Nico lakukan.

Pukul 15:23 WIB. Tensi mulai terkoreksi menjadi 104 per 46 mmHg. Vascon mulai menunjukkan kinerjanya. Alhamdulillah proses hemodialisa bisa dilanjutkan kembali.

Pukul 15:57 WIB. Widarto diberi asupan susu melalui sonde.

Pukul 17:38 WIB. Tekanan sistolik Widarto mendadak drop lagi ke 76 mmHg. Hemodialisa kembali dihentikan dan dilakukan penambahan Vascon untuk yang kedua kalinya.

Pukul 17:46 WIB. Nico kembali dikejutkan oleh suara Lower Ven Alarm. Nafas Widarto terlihat berat. Tonny minta Yanti untuk masuk ke ruangan, dan Nico menyempatkan diri untuk siap berbuka puasa di ruang tunggu lantai 3.

Pukul 18:07 WIB. Lower Ven Alarm dari mesin dialisis kembali berbunyi kemudian tombol reset segera ditekan. Proses seperti itu berkali-kali terjadi. 

"Apa yang salah dok?" tanya Nico kepada dokter yang hadir saat itu.

Dokter kemudian menjelaskan bahwa Widarto saat ini menggunakan Catheter Double Lumen atau CDL untuk akses vaskular eksternal, dan karena belum ada CVC yang dapat digunakan untuk memasukkan Vascon ke aliran darah Widarto, maka infus Vascon terpaksa menggunakan lumen venous pada akses vaskular eksternal tersebut. Kelemahannya adalah, ketika hemodialisa dihentikan karena penurunan tekanan sistolik maka infus Vascon ikut terhenti. Hal inilah yang menyebabkan kendala pada proses hemodialisa hari itu, dan dokter tersebut akan mengirim rekomendasi kepada dokter ICU untuk membuat Central Venous Catheters atau CVC.

Malam itu semua anggota keluarga kelelahan, tetapi tak ada satu pun yang dapat beristirahat karena memikirkan kondisi Widarto yang hari itu telah berjuang sangat keras. Mereka terus memanjatkan doa kesembuhan untuk Widarto.

Nico menuliskan pujian khusus untuk ayahnya di grup WA keluarga: "Ayah memang pejuang!"

Nico menuliskan pujian khusus untuk ayahnya di grup WA keluarga: "Ayah memang pejuang!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
PERJUANGAN YANG BERBEDACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang