Perintah Berjenjang

33 4 0
                                        

Benar saja, malam itu tiba-tiba terdengar panggilan untuk keluarga Tuan Widarto!

Mendengar panggilan itu Nico dan Ria langsung masuk melewati dua lapis pintu kaca ruang ICU, kemudian berjalan cepat ke ruang E yang berada paling ujung di sisi kiri.

Mereka lalu berpapasan dengan seorang perawat ICU di pintu masuk ruang E, perawat itu nampak tersenyum seraya berpesan singkat. 

"Bapak tadi minta dipanggilkan anaknya," ujar perawat itu. 

"Alhamdulillah ada progres positif hari ini," ujar Nico bersyukur dalam hati.

Mereka berdua langsung mendekati Widarto, berdiri bersisian di kanan tempat tidur.

"Assalamualaikum ayah," mereka menyampaikan salam hampir bersamaan. 

Widarto menatap keduanya. Kemudian Ria dan Nico bergantian memberi penjelasan kepada Widarto. 

"Ayah masih di ruang ICU," jelas Ria.

"Gula darah bagus, tensi normal, pernafasan juga baik," ujar Nico menjelaskan kondisi umum Widarto berdasarkan monitor termodinamika di sisi kiri atas tempat tidur. 

Widarto menganggukkan kepala tanda ia memahami semua yang disampaikan kedua anaknya.

Sesaat kemudian Widarto mencoba bicara, lafalnya cukup jelas kali ini. 

"De-Dik," ujarnya dengan penekanan pada dua suku kata. 

Nico segera meminta Ria memanggilkan Deddy yang berjaga di luar. Ria kembali dan menyampaikan bahwa Deddy sedang makan malam di luar rumah sakit. Widarto terlihat sedikit kecewa. 

"Ayah perlu apa?" tanya Ria. 

"Ayah butuh apa? nanti disampaikan ke Deddy," ujar Nico.

Mata Widarto menatap kedua anaknya, ia tampak berpikir serius. 

"Deddy suruh tanya, kapan ayah boleh pulang?" tiba-tiba meluncur kalimat lengkap dan jelas dari Widarto yang membuat kedua anaknya terperangah. Perintah berjenjang!

Nico dan Ria menahan tawa.

"Biar kami saja yang menanyakan itu," balas Ria sambil tersenyum.

Sedetik kemudian Nico merasa menyesal menerjemahkan semua indikator termodinamika tadi kepada Widarto. Kalau sudah normal dan baik semua, mengapa masih dirawat di sini? Jalan pikiran ayahnya pasti ke arah situ!

"Masih harus menunggu sampai tensi ayah stabil dan infeksinya berhasil diatasi," ujar Nico coba memberi penjelasan yang lebih mendasar.

Jari-jari tangan kanan Widarto terus mensimulasi gerakan bertasbih, bertahmid, dan bertakbir. 

"Ayah sudah sholat Isya?" tanya Ria. 

Widarto balas dengan mengangguk tanpa suara. 

"Sekarang ayah istirahat lagi, kami berdua harus menunggu di luar," ujar Nico. 

Widarto kembali menganggukkan kepala sambil menutup kedua matanya.

Nico dan Ria bergantian mencium kening ayah mereka sebelum meninggalkan Widarto melanjutkan istirahat, untuk menghimpun kembali kekuatan perangnya. Perang melawan seluruh organisme yang berevolusi sangat inovatif mengkamuflase kodifikasi protein, organisme yang populasinya berganda setiap setengah jam membangun koloni-koloni yang sangat infeksius.

 Perang melawan seluruh organisme yang berevolusi sangat inovatif mengkamuflase kodifikasi protein, organisme yang populasinya berganda setiap setengah jam membangun koloni-koloni yang sangat infeksius

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
PERJUANGAN YANG BERBEDATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang