Sebuah catatan tentang jejak dan nilai perjuangan tanpa cela, dalam rangkaian kisah kehidupan seorang pejuang mengejar tiga kemerdekaan yang diimpikannya. Saat ini Anda sedang membaca Buku Kelima yang mengisahkan tentang perjuangan lain yang harus d...
Sore harinya Widarto sudah bisa pindah ke kamar sendiri di 208, Paviliun Darmawan. Namun Bagian Urologi belum merespon permintaan penggantian kateter yang sudah diajukan sejak tiga hari yang lalu. Nico memutuskan akan meminta dokter residen mengganti kateter ayahnya, jika besok dokter utama Urologi belum juga memberi respon.
Gula darah Widarto malam itu hanya di 70 mg/dL, suntikan insulin tidak diberikan karena khawatir akan menyebabkan gula darahnya drop. Bengkak di kaki Widarto sudah jauh berkurang, tetapi bengkak di tangannya belum mengalami perubahan.
Pukul 21:33 WIB. Yani tiba di ruang 208 menyusul Nico yang sudah menemani ayahnya sejak sore hari. Widarto terlihat aktif berbincang dengan Yani, lagi-lagi sambil tertawa menceritakan ulang beberapa penggalan kisah perjuangannya.
Sepuluh menit kemudian, Widarto tiba-tiba menanyakan Pinky, anak dari kakak tertua Yani yang sedang internship sebagai dokter di salah satu rumah sakit di Denpasar. Mereka sempat berbincang singkat melalui fasilitas video call. Tapi rayuan untuk menambah asupan makanan belum ada yang mempan hingga malam itu berakhir.
Caranya mengisahkan perjuangan masa lampau, seakan membuatnya lupa akan kebutuhan energi. Padahal perjuangannya hari ini sangat membutuhkan energi dan protein untuk menyentuh masa depan yang masih tersisa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.