Sebuah catatan tentang jejak dan nilai perjuangan tanpa cela, dalam rangkaian kisah kehidupan seorang pejuang mengejar tiga kemerdekaan yang diimpikannya. Saat ini Anda sedang membaca Buku Kelima yang mengisahkan tentang perjuangan lain yang harus d...
Pukul 08:19 WIB. Ria minta Nico segera datang untuk membaca ekspresi dan gerak bibir Widarto.
"Nicoooo datang pas jam besuk ... bacain mimik ayah," pesan Ria melalui WA.
Pukul 08:51 WIB. Ria berpesan lagi, "Ke sini ya Co pas jam besuk, ayah pasti nungguin!"
Nico memastikan akan datang setelah pertemuan dengan Zizi dan beberapa teman kuliahnya. Mereka ada janji diskusi tentang materi seminar. Apalagi dia tahu hari itu Widarto dijadwalkan untuk menjalani hemodialisa dan transfusi darah.
Pukul 09:45 WIB. Ria mengirim pesan ada perawat ICU yang menyampailan bahwa Widarto minta dipanggilkan anaknya. Ria kemudian masuk dan mendekati ayahnya. Tapi hanya terdengar suara Uuu ...Uuu ...! Ria kembali bingung, sama sekali tak bisa memahaminya.
Pukul 10:28 WIB. Ria akhirnya memberi khabar gembira bahwa ternyata ayahnya minta susu. Lalu dijelaskan bahwa susu sudah diberikan melalui sonde. Setelah itu Widarto minta dipanggilkan Deddy, caregivernya.
Pukul 13:57 WIB. Widarto sudah disiapkan di ruang hemodialisa tapi ternyata harus pindah ruangan lain, karena mesin dialisis yang pertama mengalami masalah teknis.
Hemodialisa hari itu selesai tepat pukul 19:00 WIB.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.