Sebuah catatan tentang jejak dan nilai perjuangan tanpa cela, dalam rangkaian kisah kehidupan seorang pejuang mengejar tiga kemerdekaan yang diimpikannya. Saat ini Anda sedang membaca Buku Kelima yang mengisahkan tentang perjuangan lain yang harus d...
Menjelang siang hari itu, Widarto sudah mulai dilatih menggunakan nafas spontan tanpa ventilator, tapi ekskresi urinenya masih sangat minim, dan edema di lengan kiri masih terlihat besar. Tensinya relatif masih sama dengan pengukuran pagi tadi, 95 per 48 mmHg.
Pukul 17:01 WIB. Tensi Widarto mengalami perubahan mendadak, 207 per 165 mmHg, dengan MAP 189 mmHg. Mungkin karena tingkat kesadarannya membaik, sehingga ia dapat merasakan sensasi rasa sakit ketika dilakukan vakum pada saluran tracheostomy. Buktinya beberapa menit setelah itu tensinya kembali turun menjadi 105 per 43 mmHg, dan MAP 76 mmHg.
Saat itulah Widarto bisa berbicara cukup jelas kepada Fira.
"Mau meninggal," ucap Widarto.
"Siapa?" tanya Fira.
Widarto kemudian menganggukkan kepala seolah mencoba menunjuk dirinya sendiri.
"Sakit?" tanya Fira lagi.
Widarto menggelengkan kepala.
"Ayah gak boleh ngomong gitu!" ujar Fira segera menutup dialog singkat sore itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.