"Bang. Abang!!!"
Senja menggedor pintu kamar Saga. Sudah sekitar 5 menit yang lalu, ia mondar mandir di depan pintu kamar Saga bahkan saking kesalnya ia juga menendang pintu kamar Saga.
Padahal ini baru pukul 6 lewat 3 menit tetapi Senja sudah resah, takut telat dan takut Lembayung malah berubah fikiran dan tak mau bertemu dengannya lagi. Dan ketakutan terbesarnya adalah Senja tak jadi ditembak oleh Lembayung, padahal dia belum tau apa maksud Lembayung menyuruhnya untuk datang ke rumahnya.
Lagipula Lembayung menyuruhnya datang pukul 7, tapi tetap saja Senja tak mau membuat sang pujaan hati menunggu, karena ia sangat tau rasanya menunggu itu sangatlah tidak enak. Jadi, biarlah hanya ia saja yang menunggu balasan perasaan entah sampai kapan, mungkin nanti malam perasaannya akan terbalaskan karena Lembayung akan menembaknya.
Tak ada jaminan bahwa nanti malam Lembayung akan menyatakan perasaan padanya, tapi entah kenapa sedari tadi Senja tak henti-hentinya untuk tersenyum. Sampai-sampai ia ditegur oleh Daffa, takut jika wajah anaknya belah dua, begitu katanya. Teori macam apa itu!
"Abang cepetan!!" teriak Senja.
"Kenapa sih sayang? Dari tadi bunda denger teriak-teriak terus. Ntar muke up nya luntur lagi, jadi nggak cantik di depan Lembayung lagi. Emangnya si abang belum keluar juga?" Sasa yang sedari tadi mendengar teriakan putrinya, menghampiri Senja yang sedari tadi berteriak di depan kamar Saga.
"Iih. Senja tuh kesel banget deh sama abang, masa udah lima menit Senja tungguin belum juga keluar. Senja tuh takut Lembayungnya nungguin, bun." Senja cemberut kesal.
Diliriknya jam yang bertengger manis di tangannya. Padahal waktu masih banyak.
"Ab-"
Belum sempat Senja kembali berteriak, pintu telah terbuka. Memperlihatkan Saga yang menatapnya sinis, laki-laki itu terlihat sangat tampan dengan memakai pakaian casual.
"Mau kemana bang?" tanya Senja menyelidik.
"Mau nganterin lo. Emangnya kemana lagi?" jawab Saga acuh.
"Gak percaya gue. Masa cuma nganterin gue penampilannya bagus bener, pasti mau nongkrong kan lo? Huuh, omelin tuh bun anak lelaki kesayangan bunda mau pergi nongkrong gak jelas." Senja mengompori Sasa, berharap Saga di omeli oleh bundanya.
"Adek, suudzon mulu ih. Abang kan juga mau malam mingguan, emangnya cuma kamu yang boleh malam mingguan sama Lembayung?" tanya Sasa.
Saga tersenyum remeh pada Senja. Sedang gadis itu menatap Saga jengkel.
"Serius Saga mau malmingan? Emangnya ada yang mau sama kamu?" tanya Daffa. Entah darimana datangnya lelaki itu, sekarang ia tengah berada di samping Sasa. Memeluk pinggangnya possessive.
Saga membulatkan matanya tak percaya, diliriknya Senja yang nampak menahan tawa.
"Ayah tuh jangan remehin Saga ya. Saga gantengnya minta ampun, mana ada yang nolak ketampanannya," timpal Sasa, matanya melirik tajam suaminya.
"Tapi kan gak setampan ayah. Iya kan bun?" kedua alis Daffa di naik turunkan.
"Dan ayah gak seganteng Sehun," ucap Sasa.
"Ih, cakepan juga Jungkook," celetuk Senja.
"Gantengan Sehun kemana-mana," kata Sasa menatap sengit Senja.
Saga menghembuskan nafasnya kasar. Entah sampai kapan perdebatan antara kedua perempuan ini akan berakhir.
"Jungkook!"
"Sehun!"
"Jungkook ih!"
"Sehun!"
"Ju-"
KAMU SEDANG MEMBACA
LEMBAYUNG (End)
Novela JuvenilKepergianmu banyak mengajarkan hal baru bagiku, cara menghargai, dan betapa berharganya kamu dalam hidupku. Note: siapkan tissue, mojok, dan siap-siap baper!
