Jingga tengah berbaring di atas tempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamarnya, memunculkan kejadian saat Lembayung menyatakan perasaannya pada Jingga, gadis itu bersyukur karena saat Lembayung gencar menanyakan jawabannya Saga datang tepat waktu.
Tok tok tok
Lamunan Jingga buyar, gadis itu menatap pintu yang di ketuk.
"Jingga. Ini Papa sayang," teriak Raka di belakang pintu.
"Tunggu sebentar, Pa."
Jingga beranjak berjalan, membukakan pintu. Nampaklah, lelaki tampan yang menjadi malaikat pelindungnya.
"Kenapa?" tanya Jingga.
"Papa ganggu ya? Kamu lagi belajar?" Jingga menggeleng.
"Di bawah ada teman kamu," ucap Raka lagi.
"Siapa?" tanya Jingga.
Raka mengendikkan bahunya.
"Liat aja sana." Setelah mengatakan hal tersebut, Raka berjalan meninggalkan Jingga.
Jingga mulai menerka-nerka, siapakah gerangan yang bertamu semalam ini? Karena tak mau mati penasaran, akhirnya Jingga berjalan menuruni anak tangga. Jingga dapat melihat punggung lebar milik lelaki tersebut, karena posisinya yang membelakangi Jingga.
"Lembayung?" panggil Jingga pelan.
Lelaki itu menoleh, ia tersenyum melihat Jingga yang nampak kebingungan melihat keberadaannya di sana.
"Malam, Jingga," sapa Lembayung.
"Ada apa?" tanya Jingga.
"Emang harus punya urusan dulu ya baru boleh bertamu ke rumah lo?" tanya Lembayung.
Jingga menggeleng pelan.
"Nggak ditawarin minum nih?" tanya Lembayung.
Jingga yang masih bingung akhirnya tersadar.
"Eh, ya. Mau minum apa?"
Lembayung terkekeh melihat ekspresi wajah Jingga yang terkejut sekaligus bingung.
"Bercanda, Jingga. Serius amat. Gue ke sini mau ngajak lo keluar, mau kan?" tanya Lembayung.
"Hah? Keluar?" Lembayung mengangguk.
"Maaf, Bay. Gue, gue g-gak bisa, ini kan udah malam banget lagipula besok sekolah kan?"
"Eh, ada tamu rupanya."
Mereka menoleh ke arah Nessa yang berjalan mendekati mereka.
Lembayung bersalaman pada Nessa, perempuan itu tersenyum menatap anak dari sahabatnya.
"Udah lama?" tanya Nessa.
"20 menitan," jawab Lembayung.
"Hubungan kamu sama Senja gimana? Ada peningkatan?" tanya Nessa.
Ada yang terasa terhimpit ketika Nessa menanyakan soal hubungan Lembayung dengan Senja, bukan tentang dirinya dan Lembayung. Ia tersenyum masam, memang semua orang lebih menjunjung akan hubungan Lembayung dengan Senja bukan dirinya.
Jingga menatap penampilan Mamanya dari atas sampai bawah, Nessa terlihat rapi, ia yakin jika perempuan itu hendak keluar.
"Mama mau kemana?" tanya Jingga.
"Keluar. Mau ketemu sama teman-teman," jawab Nessa.
Jawaban Nessa membuat Jingga teringat akan sesuatu. Tadi saat ia akan ke dapur tak sengaja mendengar suara orang sedang berbicara nadanya seperti orang kasmaran, ternyata Nessa sedang berbicara dengan seseorang lewat telpon dan berakhir mereka akan bertemu nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
LEMBAYUNG (End)
Fiksi RemajaKepergianmu banyak mengajarkan hal baru bagiku, cara menghargai, dan betapa berharganya kamu dalam hidupku. Note: siapkan tissue, mojok, dan siap-siap baper!
