"Assalamualaikum," teriak Senja.
Lembayung mengekori Senja. Laki-laki itu sedikit gemas melihat kelakuan Senja yang tidak jaim.
"Waalaikumsalam," jawab Sasa.
"Eh, ada Bayung. Saga mana?"
"Saga lagi ngerjain tugas sama Jingga. Terus Lembayung sama Senja." Sasa mengangguk.
"Mau minum apa, Bay?" tanya Sasa.
Lembayung menggeleng.
"Nggak usah repot-repot, Tan."
"Eh, nggak ngerepotin kok. Sama camer sendiri juga." Tentu saja bukan Sasa yang menjawab, memangnya siapa lagi jika bukan Senja.
Lembayung diam, ia menatap datar Senja yang hanya cengengesan.
"Kamu ini."
Sasa menoyor kepala Senja, membuat gadis itu memanyunkan bibirnya.
"Bunda mau kemana? Rapi bener." Senja menatap penampilan Sasa dari atas sampai bawah.
"Bunda lagi ada urusan di luar. Kamu di sini sama Bayung cuma berdua. Tapi ... jangan coba-coba melakukan hal di luar batas. Bunda potong leher kamu nanti," kata Sasa.
"Serem bener, Bun. Ntar kalau leher Senja di potong, mata Senja ikutan hilang dong. Terus gak bisa liat wajah tampannya Bayung, gimana dong Bun?"
Sasa menggeleng. Anaknya benar-benar bucin tingkat akut.
"Udah, udah. Bunda pergi dulu. Kalian baik-baik ya, Bayung jagain Senja ya?"
Sasa berjalan tergesa-gesa. Meninggalkan dua mahluk berbeda gender tersebut.
"Tuh, Bay. Jagain Senja ya?" Senja menyikut lengan Lembayung.
"Lo udah gede ngapain gue jaga."
Senja memajukan bibirnya.
"Tapi kan Senja juga perempuan, lemah. Nanti kalau ada yang nyakitin Senja gimana? Emangnya Bayung tega? Terus kalau ada yang nyulik gimana? Secara kan Senja itu cantik, baik, lucu, imut-"
"Berisik," umpat Lembayung.
"Ngerjain dimana?" tanya Lembayung.
"Di ruang keluarga yang atas, sekalian biar bisa main PS."
Lembayung berjalan mendahului Senja tanpa berkata sepatah katapun.
"LEMBAYUNG. SENJA KALAU DI TINGGALIN MAKIN CANTIK LOH!"
Lembayung tak menoleh. Membuat Senja berlari mengejar sambil menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.
"Bayung tuh kenapa sih, hobinya ninggalin Senja terus? Heran deh. Sekarang hobi besok berubah aja sekalian jadi cita-cita. Cita-cita Lembayung ninggalin Senja, begitu?"
"Emang,"ucap Lembayung.
"Tungguin di sini ya, Bay. Senja mau ganti baju dulu."
Lembayung hanya diam. Untuk membuka mulut saja, rasanya ia sangat malas, apalagi untuk sekedar menjawab perkataan Senja. Badannya juga seolah-olah ikut malas untuk sekedar menganggukkan kepalanya, entah mengapa semua yang berhubungan dengan Senja membuatnya amat malas.
Suara kekehan seseorang terdengar samar-samar digendang telinga Lembayung. Ia sangat kenal dengan pemilik suara tersebut. Iya, itu suara Jingga. Jingga muncul di atas tangga bersamaan dengan Saga di sampingnya.
Dadanya terasa terhimpit melihat Jingga yang muncul bersama Saga. Terlebih kekehan tadi berasal dari Jingga dan Saga, entah apa yang telah mereka bicarakan. Tapi itu membuat Lembayung sakit, melihat orang yang dia sukai terlihat bahagia bersama orang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
LEMBAYUNG (End)
Teen FictionKepergianmu banyak mengajarkan hal baru bagiku, cara menghargai, dan betapa berharganya kamu dalam hidupku. Note: siapkan tissue, mojok, dan siap-siap baper!
