25 | Miserable

385 75 18
                                        

London - Autumn

That night was the beginning of the ending.

🍁

"Dave masih belum kembali." Emre bergabung denganku, mengasingkan diri di pinggir lapangan. Wajahnya begitu kusut, matanya sayu tidak menampakkan gelora sama sekali seperti yang biasa ditunjukkannya setiap berlatih. Penampilannya tidak pernah seburuk ini, tetapi aku sadar diri bahwa kondisi fisikku tidak jauh berbeda dengannya. "Belum ada kabar terbaru dari Nyonya Collins," lanjutnya.

Seluruh anggota futsal sudah berkumpul di tengah lapangan, berlatih sesuai posisinya masing-masing. Ryan menggantikan Coach Mason untuk hari ini, memantau para junior kami. Yang melakukan itu sebenarnya adalah tugas Dave. Anak itu seharusnya berada di sini sekarang. Dia adalah kaptennya.

Namun, dia tidak hadir.

Emre, Ryan, dan aku terus menerus menelepon Nyonya Collins dari hari Sabtu, menunggu kabar tentang Dave yang tidak kunjung kembali ke rumahnya. Dia meninggalkan pesta ulang tahunnya setelah pertengkaran hebat...

... denganku.

"Ini semua karena--"

"Diam! Jangan bicara apapun, Andrew! Lebih baik kau diam saja. Sungguh!" Emre memotong ucapanku sebelum aku sempat menyelesaikannya. Seolah-olah dia tahu apa yang hendak kukatakan. "Jangan terus menyalahkan dirimu."

Dan, dia memang benar. Aku terus menyalahkan diriku atas ketidakhadiran Dave. Seharusnya aku bisa menahan diri sehingga pertengkaran itu tidak pernah terjadi. Saat itu Dave mabuk berat, wajar apabila dia tidak bisa mengontrol emosinya. Yang salah adalah diriku sendiri karena malah balas melawannya. Kalau sampai ada sesuatu yang buruk terjadi pada Dave, mungkin aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.

"Andrew, kau dipanggil Ryan." Emre menunjuk tempat Ryan berdiri menggunakan dagunya. "Sana pergi dari sini!"

Anak itu mengisyaratkanku untuk mengisi bagian sayap. Kendati aku tidak ada hasrat untuk bermain, kurasa inilah satu-satunya cara untuk mengalihkan pikiranku sejenak. Bukan maksudnya aku ingin melenyapkan Dave dari kepalaku, hanya saja ... aku ingin lari sebentar.

Malam itu setelah Keira mengungkapkan perasaannya, kami berdua kembali ke halaman belakang rumah Dave, tempat diselenggarakannya pesta. Musik upbeat menggema keras, orang-orang berkumpul, tetapi pestanya tidak terasa hidup. Semuanya mematung. Dave masih berdiri di atas panggung sendirian tanpa kehadiran Zevania.

Ke mana gadis itu pergi?

"Sepertinya kita ketinggalan banyak hal," Keira bergumam dan aku setuju dengannya. Kurasa kami tidak begitu lama berada di halaman depan sehingga begitu melewatkan banyak momen.

Ada yang tidak beres.

"Haruskah kita ke sana?"

Aku tidak tahu.

Dave mengangkat microphone yang dipegangnya. "Pestanya selesai," katanya dengan suara parau. Wajahnya tidak terlihat begitu jelas, dia terus menundukkan kepala. Sesuatu yang nyaris tidak pernah dilakukan oleh seorang Dave Collins. "Kalian semua bisa pulang."

Semua orang memberikan respons yang sama sepertiku. Saling bertanya satu sama lain dan  dijawab dengan sebuah gelengan kepala. Dave tidak pernah membubarkan pestanya begitu saja dan sekarang masih pukul sepuluh malam. Terlalu dini untung pulang, bukan? Pasti ada sesuatu yang besar terjadi dan melihat bagaimana kondisi Dave saat ini, kurasa hal yang amat sangat buruk telah terjadi.

Dan, pasti berkaitan dengan Zevania.

Setelah mengumumkan pembubaran pestanya, Dave bergegas meninggalkan panggung dan berlari ke dalam rumahnya. Kulihat Ryan dan Emre mengejarnya, meninggalkan para tamu pesta ulang tahunnya yang masih bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi barusan.

Journal: The ReasonsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang