Jack tetap mengetuk pintu walaupun dia bisa mendengar suara desahan-desahan panas dari dalam kamar Tuannya.
"Aahh... aahhh aahhh!!"
Noah memompa gadis di bawahnya dengan liar. Tangannya meremas payudara gadis itu dengan kuat, merasakan batangnya menggesek dinding-dinding licin kewanitaan si pelacur.
"Uhhh kau panas sekali!" Pelacur itu menjerit saat Noah memutar tubuhnya dan menusuknya dari belakang.
"Bella..."
"Aahh..."
Mata Noah terpejam, kepalanya menerawang pada gadis itu lagi. Lagi dan lagi pada kakak iparnya yang cantik. Noah memang sialan. Dia tau dirinya brengsek karena sudah menjadikan Bella sebagai fantasi liarnya setiap melakukan seks dengan pelacur. Tapi apa daya? Hanya itu yang membuatnya bisa mencapai pelepasannya.
"Naik ke atasku." Noah memerintah si pelacur untuk memimpin permainan."Cepat bangunkan dia kembali."
Napasnya terengah-engah kelelahan sementara dia belum mencapai puncak, tapi kejantanannya sudah mulai loyo, bosan bermain.
Sedangkan Jack menunggu dengan sabar di luar ruangan. Sesungguhnya pria itu sudah sangat muak mendengar jeritan para pelacur setiap hari di rumah ini. Dia sudah sangat muak, benar-benar muak hingga ingin memotong telinganya.
Rasanya sekarang dia ingin sekali pergi menjauhi kamar itu namun, ada sesuatu yang harus dia beritahu Tuannya.
Jadi dia sabar menunggu.
"Sial, gerakkan yang cepat. Sampai habis, jalang." Noah mendorong kepala si pelacur hingga batangnya masuk sampai habis ke dalam mulutnya.
Pelacur itu menurut saja meskipun matanya mulai berlinang karena batang Noah yang panjang itu membuatnya sesak.
"Ahh Bella... apa yang sedang kau lakukan disana?" Gumam Noah.
"Maaf Sir, namaku Lilian. Jika kau ingin—"
"APA?!" Mata Noah membulat sempurna. Menatap gadis yang tengah menghisap batangnya terkejut."Siapa namamu tadi?"
"Lilian, Sir."
"Lilian? Benar-benar Lilian? Bukan Lili atau Laila?"
Gadis itu menggeleng."Lilian."
"Ah fuck!" Noah segera mencabut batangnya dari mulut si pelacur, membuat gadis itu tercengang.
Laki-laki itu segera mengambil jogger pants nya lalu dengan cepat memakainya. Tangannya di kepala, memijit dahinya sendiri. Dia mengumpat terus menerus. Mengutuk dirinya sendiri.
"Sir? Apakah kau tidak puas? Maafkan aku jika aku membuat kesalahan. Aku baru di bidang ini."
"Sekarang kau keluar." Noah menunjuk pintu kamarnya, matanya memerah.
Sial kenapa dia malah melakukan seks dengan pelacur yang bernama Lilian? Itu nama ibunya. Astaga sialan sekali dia itu. Dia merasa dirinya benar-benar kotor.
Noah punya aturan, dia tidak akan menyewa pelacur dengan nama Lilian, Isabella, Bella, dan Shella. Tidur dengan mereka rasanya membuat dia menjadi sampah.
"Sir..."
"Kubilang keluar sekarang selagi aku masih bisa menyuruhmu dengan cara baik-baik."
Melihat amarah yang mulai menghampiri kelopak mata Noah, si pelacur pun mengambil semua pakaiannya secepat yang dia bisa lalu keluar dengan langkah cepat.
Berpapasan dengan Jack sebentar sebelum pria gondrong itu masuk dan menghadap Tuannya.
"Ada apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
BERLIN
Romance[ 21+ ] CERITA INI MENGANDUNG AKTIVITAS SEKSUAL DAN BAHASA VULGAR. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA --------------- 📝 20/09/20
