Bab 43 : Belongs together

271K 16.8K 2.6K
                                        

Sudah dua seminggu berlalu semenjak Anaya dan Noah putus. Apakah mereka pantas di sebut putus? Bahkan pernyataan cinta saja tak pernah ada.

Kenyataan tentang Adriana dan Emily yang mati di tangan Noah ternyata tak lebih menyakitkan daripada kata-kata Noah saat itu.

Aku tidak mencintaimu. Aku tidak pernah mencintaimu. Aku melakukan semua itu hanya karena rasa bersalahku terhadapmu.

Anaya memejamkan matanya setiap kali kata-kata itu terngiang.

Benarkah dia tak mencintaiku?

Dia menghela napasnya sejenak setelah mandi dan berpakaian rapi. Gadis itu punya hidup yang harus dijalani bukan? Sampai kapan dia akan terus mengurung dirinya di ruangan itu?

Dan hari ini dia memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan demi menyibukkan dirinya. Bukannya dia kekurangan uang. Ayahnya masih terus mengiriminya uang yang berlimpah. Dia hanya ingin mencari kesenangan agar lukanya sembuh.

Dan begitu dia keluar dari apartemennya, beberapa pengawal bertingkah sibuk sendiri seolah sedang tak memantau siapapun.

Anaya terus berjalan di trotoar tanpa mau mempedulikan para pengawal yang sedang mengikutinya di belakang. Oh dia tau betul itu suruhan Noah.

"Anaya. Hei."

Anaya menoleh pada Ferarri merah yang tengah melaju pelan di samping trotoar. Kacanya di turunkan dan sosok Hanson yang mengenakan kacamata hitam terlihat di balik kemudi dengan sebuah senyuman.

Mobil itu berhenti, begitu pula Anaya."Hanson?"

"Bukankah sudah tiga kita berjumpa secara kebetulan seperti ini?"

"Yah..." Anaya mengangguk ramah.

"Orang bilang kalau tiga kali berjumpa secara kebetulan itu artinya kita jodoh."

Hanson turun dari mobilnya dan berdiri di depan Anaya setelah melepaskan kacamata hitamnya. Mata hijau zamrud nya terlihat terang di bawah cahaya matahari. Sesungguhnya lelaki ini akan sangat tampan andai dia tak memakai piercing dan tato berlebihan.

Lelaki itu mengarahkan matanya ke balik tubuh Anaya, pada para pengawal yang kembali bertingkah seolah mereka tak sedang mengikuti Anaya.

"Noah... mereka pengawal Noah..." Jawab Anaya.

"Oh aku tau, aku bukan tak tau bagaimana pria itu memperlakukan orang yang berharga baginya." Kata Hanson tersenyum.

Anaya tersenyum kecut dan menatap kosong pada tanah di depannya. Hhh berharga? Aku bukan orang berharga sama sekali.

"Kupikir kau tinggal di mansion Noah?"

"Kami putus."

"Putus? Kau putus dengannya?"

Anaya tersenyum kecut lagi."Ya begitulah."

"Maaf..." Hanson memasang wajah khawatir."Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat."

"Ya aku baik-baik saja."

"Kau mengingatkanku pada seseorang." Anaya mengerutkan dahinya heran lalu Hanson tertawa pelan."Mantan kekasihku, dia juga sering bermuka murung sepertimu sekarang."

Anaya menarik napas dan mengangguk lemas."Oh. Kalau begitu... aku permisi."

"Kau mau kemana? Kau butuh teman bicara? Aku punya waktu luang. Kopi?"

BERLINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang