Mobil Jeffrey masih melaju ditengah gelapnya malam menuju pagi. Sepanjang jalan, hampir tidak ada mobil lain yang melintas. Pemegang kemudi kini sudah berganti menjadi Jeffrey dikarenakan laki-laki itu tidak enak dengan Doyoung yang sudah pasti merasa lelah juga.
"Ini udah jauh banget, bang. Yakin mau lurus terus?" Tanya Jeffrey.
Doyoung berpikir sejenak. Jeffrey benar. Mereka sudah berkelana selama lebih dari dua jam dengan jarak yang lumayan jauh dan tidak menemukan apapun. Mereka lelah dan mulai mengantuk.
"Gue... gue bingung, Jeff. Gue masih mau nyari, tapi—"
"Gue paham. Ga apa-apa, kita cari sampai jam tiga. Kalau ga nemu apa-apa, kita pulang. Lo ga bisa maksain diri sendiri terus, lo juga butuh istirahat, bang." Potong Jeffrey.
Doyoung tersenyum. "Makasih, Jeff."
Sambil menghela napas panjang, Doyoung mencoba mencari posisi ternyaman di kursi penumpang. Matanya terus menatap ke luar, mencari sesuatu yang bisa ia jadikan petunjuk. Ia dan Jeffrey sudah sampai di sebuah pemukiman yang sangat sepi. Rumah-rumahnya terlihat sangat berjarak dan dikelilingi banyak pohon. Sebagian besar rumah yang telah mereka lewati terlihat kosong, tidak terawat dan tidak berpenghuni. Tidak banyak lampu jalanan yang Doyoung temukan, membuat perjalanan mereka di dini hari ini sangat mengandalkan lampu mobil.
Doyoung kemudian beralih menatap layar stereo mobil Jeffrey yang tersambung dengan akses pelacak milik ayah Mallory. Di sana, Doyoung dapat melihat daftar ponsel, mobil, dan segala sesuatu yang Doyoung rasa tidak terlalu penting untuk ia ketahui. Ia hanya butuh tahu tentang keberadaan mobil dan ponsel Mallory. Sayangnya, di antara semua daftar di sana, mobil dan ponsel Mallory adalah satu-satunya yang bertuliskan "NO CONNECTION".
"Ini daerah ga ada rukun warganya kali ya? Masa daun jatuh aja ga disapu?" Komentar Jeffrey tiba-tiba.
"Kayaknya pemukiman lama deh, Jeff. Orang-orang yang punya rumah udah pada pindah, jadi ditinggal. Mungkin." Balas Doyoung.
Jeffrey meneguk salivanya. "Bang, merinding gue."
Doyoung melihat ke sekitarnya. Hawa di sana memang tidak bersahabat. Belum lagi, sejak awal mereka memang mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat pelan agar bisa mencari petunjuk di sekitar.
"Kayaknya ini daerah banyak penunggunya, gue bisa ngerasain." Tambah Jeffrey lagi.
Doyoung menepuk pundak Jeffrey spontan. "Hush! Kita mau nyari Mallory, jangan aneh-aneh deh."
Tidak ada jawaban dari Jeffrey. Ia tetap fokus menyetir sambil melihat keadaan sekitar, berharap setidaknya menemukan mobil Mallory atau apapun yang bisa dijadikan petunjuk. Mendadak, Jeffrey menginjak rem sambil memicingkan mata karena merasa melihat sesuatu yang janggal.
Doyoung spontan menoleh dengan alis bertaut bingung. "Kenapa?" Tanyanya.
Jeffrey menunjuk sesuatu di depannya. "Lihat deh, bang. Itu kabut atau asap?"
Doyoung memicingkan mata ke arah yang ditunjuk Jeffrey. Ada sebuah rumah, sedikit jauh dari jalan karena halamannya yang panjang. Rumah itu sederhana dan terlihat biasa saja. Namun, Doyoung dapat melihat sekepul asap dari sana.
"Asap deh, kayaknya." Jawab Doyoung.
"Jangan-jangan ada makhluk ha—"
"Lo kalau ngomong ngaco lagi, kita gantian aja nyetirnya, sumpah. Gue rasa lo udah capek total makanya jadi begini." Potong Doyoung segera.
Jeffrey menggeleng menolak. "Bang, serius anjir. Itu kenapa ada asapnya?"
"Ya.... mungkin yang punya rumah lagi masak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
mallory [kim doyoung]
FanfictionNama: Kim Doyoung Usia: 24 tahun Status: Udah punya pacar, tapi jatuh hati seorang sama pelayan di restoran pizza. read at your own risk. be a wise reader. April 7, 2020 - July 29, 2021 has reached: #1 in kimdongyoung #1 in dongyoung
![mallory [kim doyoung]](https://img.wattpad.com/cover/217433431-64-k330390.jpg)