after the incident

175 18 3
                                        

Sejak pemecatan resmi Hyunki beberapa hari yang lalu, Mallory tidak pernah lagi mendengar kabar Hyunki dan Dabin. Kabar terakhir yang Mallory tahu adalah pria tua itu benar-benar membersihkan ruangannya sesuai waktu yang diberikan Mallory. Sebenarnya, Mallory berharap Doyoung merubah pikirannya dan tetap mengambil jalur hukum akan hal ini, tetapi Doyoung menolaknya.

"Ga usah, Mallory. Saya lihat kamu ga kenapa-kenapa aja udah bersyukur banget. Biarin mereka lanjutin hidup mereka dan berubah jadi lebih baik."

Mallory tidak habis pikir dengan jalan pikiran Doyoung. Padahal menurut Mallory, yang dilakukan Hyunki sudah benar-benar keterlaluan. Bahkan Mallory hampir mengamuk saat melihat rekaman CCTV di ruangan Hyunki, apalagi saat mengetahui rekaman itu sebenernya sudah dihapus. Beruntungnya, seluruh rekaman memang selalu di back up dan hanya Mallory dan Mark yang mempunyai aksesnya.

Hari-hari Mallory kini berjalan seperti biasa. Ia akan bangun setiap pagi dan bekerja sesuai jadwalnya, entah bekerja di kantor atau di restoran. Tidak ada yang berubah dari hidup gadis itu.

Hubungannya dengan Doyoung juga tidak berubah. Keduanya masih berkomunikasi dengan baik dan menyempatkan bertemu jika tidak terlalu sibuk. Mallory tidak terlalu memikirkan status hubungan mereka yang belum diperjelas oleh Doyoung. Bagi gadis itu, bisa tetap berhubungan dengan Doyoung saja sudah cukup.

Dering telepon kantor di meja Mallory membuyarkan fokus gadis itu. Ia meletakkan laporan dari Mark dan segera mengangkat telepon.

"Lee Mirae."

Suara sekretarisnya langsung terdengar dari sambungan telepon. "Selamat siang, Bu Mirae. Ada tamu yang mencari ibu di bawah. Dalam catatan saya, ibu tidak punya jadwal bertemu dengan tamu dari manapun hari ini. Apa tamu tersebut diizinkan naik?"

Mallory terdiam, mengingat-ingat apakah ia pernah membuat janji pribadi dengan orang lain.

"Seinget saya, saya juga ga punya janji apa-apa. Tamunya atas nama siapa?"

"Nakamoto Yuta, bu."

Mallory menghela napas lega. "Oh, tolong suruh langsung naik aja ya, itu temen saya kok."

"Baik, bu Mirae."

Panggilan terputus. Baru saja Mallory meletakkan gagang telepon, ponselnya bergetar, menandakan sebuah pesan baru saja masuk.

Doyoung
Kamu jadi ke restoran kan?

Mallory
Jadi dong

Doyoung
Ya udah
Mau saya jemput ke ruangan?

Mallory
Mau...

Doyoung
Tunggu, ya
Saya beresin kerjaan saya dulu

Mallory
Oke

Jika biasanya Mark yang mengantarkan Mallory ke restoran, hari ini berbeda karena Doyoung lah yang akan mengantar Mallory sekaligus makan siang bersama. Awalnya, Mark menolak dengan alasan ia bisa mengantar Mallory sendiri, tetapi akhirnya ia mengalah karena kelihatannya sang kakak juga lebih ingin diantar oleh Doyoung daripada dirinya sendiri. Kenyataan yang sedikit pahit, tapi Mark memakluminya.

Tidak lama kemudian, pintu ruangan Mallory terbuka, menampakkan Yuta dengan penampilan rapi yang sudah biasa Mallory lihat, yaitu berbalut jas dan kemeja berdasi. Mallory tersenyum, kemudian berdiri untuk menyambut Yuta dan mempersilahkannya duduk di salah satu sofa.

"Kok ga bilang-bilang mau datang ke kantor aku?" Tanya Mallory.

Yuta tertawa sambil menggaruk belakang lehernya. "Tadinya mau ngagetin kamu. Eh, aku lupa ketemu sama kamu di sini ga bisa sembarangan. Untung kamunya lagi ga sibuk."

mallory [kim doyoung]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang