Nama: Kim Doyoung
Usia: 24 tahun
Status: Udah punya pacar, tapi jatuh hati seorang sama pelayan di restoran pizza.
read at your own risk. be a wise reader.
April 7, 2020 - July 29, 2021
has reached:
#1 in kimdongyoung
#1 in dongyoung
Mallory mengendarai mobilnya sambil mendengarkan musik. Biasanya, tujuan gadis itu mengendarai mobil di pagi hari adalah menuju restoran, tetapi hari ini ia punya tujuan lain. Mallory juga sudah mengabari Jeffrey bahwa ia tidak akan datang ke restoran hari ini. Alasannya bukan karena insiden memalukan yang dilakukan kekasih Doyoung kemarin, tetapi karena Mallory harus pergi ke suatu tempat.
Mallory memarkirkan mobilnya saat sudah sampai di tujuannya. Tangannya kemudian mengambil sebuket bunga di jok penumpang. Ia segera turun, kakinya melangkah memasuki sebuah pagar dan menyusuri sebuah lahan besar yang dipenuhi batu nisan. Langkah kaki gadis itu berhenti di sebelah sebuah batu nisan indah. Mallory berlutut di sebelahnya.
"Pagi, bunda."
Jemari Mallory mengelus pelan nisan bertuliskan nama "Marrisa" itu sambil meletakkan bunga yang ia bawa.
"Bun, aku kangen."
Bunda Mallory dan Mark meninggal sudah cukup lama, sekitar sembilan tahun yang lalu. Saat itu, Mallory masih berusia 15 tahun, sedangkan Mark berusia 12 tahun. Keduanya masih terlalu kecil untuk hidup tanpa sosok ibu, tetapi tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menerima fakta bahwa wanita yang mereka panggil dengan sebutan "bunda" itu harus pergi karena penyakitnya yang sudah terlalu parah.
"Ayah udah nyuruh aku buat nikah, bun. Kalau bunda di sini, bunda juga bakal nyuruh aku nikah ga, ya?"
Mallory tersenyum tipis, kemudian mengecup nisan sang bunda. "Bunda, bantuin aku, ya? Aku ga mau ngambil pilihan yang salah."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Katanya ga mau datang ke sini? Kok malah malam datangnya?"
Jeffrey menatap Mallory heran saat gadis itu tiba-tiba masuk begitu saja ke ruangannya. Padahal, Mallory sudah berkata bahwa ia tidak akan menampakkan diri di restoran, tetapi kenyataannya ia malah datang saat matahari sudah terbenam sempurna.
"Gabut." Jawab Mallory singkat.
Jeffrey tertawa sambil menggelengkan kepalanya, tidak menyangka akan menerima jawaban seperti itu. "Kenapa ga pulang ke rumah?"
"Ayah sama Mark belum pulang."
Baru saja Jeffrey mau membalas ucapan Mallory, pintu ruang kerjanya diketuk tiga kali, membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk membalas sang kakak sepupu.
"Masuk."
Seorang pelayan muncul dari balik pintu, membungkukkan tubuhnya hormat.
"Kenapa?" Tanya Jeffrey.
Sang pelayan menggaruk belakang lehernya sambil berdeham ragu. "Begini, Pak Jeffrey, tadi ada yang mesen delivery, tapi pelanggannya punya permintaan."
Jeffrey mengerutkan keningnya heran, tidak biasanya pelayan datang ke ruang kerjanya hanya karena permintaan seorang pelanggan. Bagi laki-laki itu, hal ini terlalu sederhana untuk disampaikan padanya, apalagi sampai datang ke ruangannya.